Read: Rinjani, A Joy and A Loss (Part 1)

Sembalun 2-4Perjalanan di Rinjani memang panjang. Mulai dari Pos II Sembalun, bahu sudah mulai tak nyaman. Satu per satu barang tidak penting ditinggalkan di bale-bale setiap pos peristirahatan.

Berharap beban di punggung berkurang, namun sesungguhnya beban terberat terletak pada mental sendiri. Pendakian di Tanjakan Penderitaan menuju Pelawangan Sembalun memang melahirkan derita. Terlebih setengah perjalanan dilakukan dalam kondisi gelap gulita, di mana tiap langkah sangat bergantung pada cahaya lampu senter dalam genggaman. Dari mulai menjejak tanah dengan paha berposisi 90 derajat, hingga akhirnya merangkak dan tangan mencengkram bebatuan di hadapan. Tuhan memang Maha Baik. Penderitaan di gunung selalu dibarengi dengan lukisan nyata, buatan Sang Pencipta. Sebelum matahari terbenam, masih sempat terlihat awan-awan serta bukit seperti mengucap sayonara.

Sembalun 3-8

Perjalan di Rinjani memang panjang. Melihat Segara Anak dari dekat sungguh mengharukan dan tentu bikin jelalatan saking banyaknya bule berpakaian renang. IMG-20130720-WA0000Meski keindahan tersebut nyaris hilang akibat salah jalan, nyasar hingga tepi jurang. Makanya lain kali janganlah paksakan untuk berjalan malam. Selain lebih melelahkan, juga suasananya terlalu mencekam. Ternyata Tuhan masih sayang dan beruntunglah kita, Comro, bertemu orang yang mau menunjukan jalur benar. Selama di Segara Anak kamera tak pernah lepas dari genggaman. Terlalu banyak sudut cantik yang pantas diabadikan. Bila Ranu Kumbolo dengan air birunya itu tampan, maka Segara Anak sangat cantik dengan warna toskanya. Airnya yang tenang menjadi tempat berlabuh Gunung Barujari. Tak jauh, ada mata air. Perjalanan ke sana pun luar biasa indahnya. Tebing batu dengan kolam sumber air panas alami dan sungai kecil mengalir menjadi air terjun.

Perjalan di Rinjani memang panjang. Tapi saya ingat bagaiamana langkah kaki menjadi lebih cepat berkali-kali lipat saat menapaki tanjakan berbatu menuju Senaru. Segara Anak SenaruSaya dan kamu sama-sama tak mau jika harus kemalaman di jalur menyeramkan itu. Kita membuat keputusan tepat untuk bermalam di Pelawangan Senaru, karena toh rombongan di depan juga akhirnya balik lagi karena jalur yang tak memungkinkan untuk dilalui saat malam hari. Saya ingat malam itu kamu mengambil peran saya sebagai koki dan memasak mie terakhir yang kita miliki. Entah kenapa rasanya enak sekali. Mungkin karena itu adalah perbekalan terakhir dan besok kita akan kembali ke peradaban. Pagi di Pelawangan Senaru sangat dingin, hingga kamu akhirnya membuatkan api unggun kecil. Pantai kota Bima dan Gunung Tambora terlihat jelas di depan tenda, membungkam kata dari mulut setiap penikmat alam.

Perjalan panjang di Rinjani akhirnya berakhir. Setelah menembus hutan Senaru yang cantik, meski lebat tetapi sinyal Esia saja masih sampai di sana. Hanya XL yang madesu. Gerbang Senaru adalah tempat legendaris untuk berfoto. Berlatarkan hutan dan beralaskan dedaunan kering, semua pendaki akan berpose di sana. Mengabadikan moment di mana mereka menjejakkan kaki di tanah gunung volcano tertinggi kedua di Indonesia. Perjalanan panjang di Rinjani betul-betul berakhir saat kedua kaki menembus perkampungan hingga menginap di basecamp Senaru dan menuju Gili Trawangan keesokan harinya.

Gili Trawangan-2

Perjalanan di Rinjani memang panjang dan penuh keindahan. Pengalaman pertama selalu memberi kesan lebih dan meninggalkan sedikit rasa bangga. Sayangnya tidak semua menjadi rejeki dan setiap penggalan gambar yang ditangkap mata hanya akan terpatri dalam hati. Sebagian besar dokumentasi kesenangan di Rinjani dan Gili harus raib karena kelalaian (siapa?) di Pantai Kuta Bali.

Perjalanan di Rinjani memang panjang. Saya berterima kasih, sangat, untuk itu. Terlepas dari kamera yang hilang, terima kasih atas kegigihan kamu menabung hingga badan semakin kurus demi membiayai saya pergi ke wilayah milik Dewi Anjani. Sekian dan terima kasih.

Iklan