Seharusnya sekarang saya memulai semua tulisan tentang panduan wisata itu. Tapi suasana tak menggiring saya berjalan ke arah sana. Menulis terus menerus tentang tema yang sama memang sangat membosankan. Itu membuat tulisan menjadi kurang menarik, kata kurang menari, dan hanya nampak seperti kamu menerjemahkan teks dari satu bahasa ke bahasa lain. Ditambah lagi kegiatan menulis tersebut karena di suruh orang, jadi semakin tak bersemangat. Selain itu, ya ada lagi alasan lainnya. Pikiran tentang kamu kembali menggelayut.

Sejak kemarin. Tidak, sejak dua hari lalu saat Ibu berpamitan untuk mencari anak lelakinya ke seberang pulau. Pertanyaan pertama yang merasuki adalah, “akankah Ibu berhasil bertemu kamu?“. Mengetahui sikap dingin kamu merambah pada wanita setengah baya itu, membuat miris. Pada satu sisi terkadang saya merasa lega karena memiliki kawan satu penderitaan saat mendengarkan curhatannya. Sisi lain merasa bersalah karena ternyata saya tidak dapat memberikan kontribusi positif bagimu, agar sifat buruk kamu itu hilang. Untuk Ibu, Saya hanya bisa membantu semampu saya, memberikan semua informasi yang saya tahu. Ibu bertanya apakah ada pesan untuk kamu, jujur saya bingung. Ada banyak hal sebetulnya yang ingin saya utarakan tapi belakangan semua itu terasa sudah tidak perlu. Maka saya putuskan untuk titip salam saja. Titik. Tidak ada pengharapan lebih tentang apa-apa lagi.

Kemarahan itu sudah lama padam, kesedihan masih suka terasa sesekali, dan kenangan, mari kita biarkan itu tersimpan. Alih-alih benci dan dendam, saya sudah memilih untuk berdamai dengan keadaan. Saya tak ingin buang energi percuma. Saya tidak ingin lagi emosional saat membicarakan ataupun terselip kamu dalam ingatan. Biarkan kisah saya, pun kisah kamu berputar seperti siklus hujan. Biarkan genangan air yang semakin memberat itu menguap dan menggumpal jadi awan. Biarkan uap tersebut akhirnya turun dalam bentuk rintik-rintik anyar yang menyegarkan.

I actually wanna run to you, but the distance between us is not narrowing. Memang banyak hal yang disesali juga terasa sayang untuk direlakan pergi. Tapi biarlah. Kita tak pernah tahu pasti apa yang kelak akan terjadi. So, let it be. Hanya saja perlu mengurangi kegelisahan agar dapat melangkah tenang sembari menatap ke depan. Terima kasih dan sekian.

tumblr_lhuupfsDGx1qzr04eo1_500

Iklan