Pantai Santolo

Mimpiku malam tadi mengantarkanku kembali ke pantai ini. Bayangan wajah yang sempat terlupakan itu akhirnya mendorongku untuk kembali menginjakkan kaki di pesisir ini. Rasa resah hati yang tak kunjung pergi beberapa hari belakangan ini, memaksaku kembali meniti tempat aku mencetak titik hitam pekat. Sudah tujuh tahun aku menyimpan rahasia rapat – rapat dan sekarang di pantai ini juga tujuh tahun kemudian, ingatanku kembali merapat membentuk sebuah rupa lugu yang nyatanya masih melekat.

Aku selalu menyukai pantai. Dari dulu sampai sekarang. Bagiku tidak ada yang lebih sempurna dari menikmati senja di pantai, senja dan pantai adalah dua unsur yang tak dapat terpisahkan. Senja akan terlihat indah sempurna ketika cahaya keemasannya memantul di birunya lautan dan melihat jauh ke laut lepas aku merasa dekat dengan langit luas. Laut lepas jauh di sana seperti berupa garis tipis yang membatasi laut dan langit. Tapi sekarang aku kembali datang bukan karena aku menyukai pantai, lebih karena sebuah perasaan dan bayang tak bisa aku lalaikan.

Aku duduk di atas bebatuan yang tersusun rapi, di hadapanku ombak bergulung dan memecah menabrak bebatuan. Langit semakin gelap dan mendung, sore ini berlalu tanpa senja yang biasa kunikmati. Tak apa, pantai ini tetap sama, aku menikmati suasananya yang selalu sepi. Laut yang pasang menyebabkan ombak semakin meninggi, membuatku berdiri dan berpindah tempat dari bebatuan ke pasir pantai yang putih. Aku menaruh ranselku di atas pasir dan merebahkan tubuhku yang lelah di atasnya. Hanya ada beberapa penginapan kecil di pantai ini, ada warung – warung makan yang punya saung di depannya. Biasanya aku tidur di situ atau aku tidur di atas pasir daripada membuka kamar. Meski malam, udara pantai tidak begitu dingin. Kalau kedinginan, aku membenamkan kaki di pasir, hangat rasanya di dalam pasir pantai. Berbaring dan di atasku adalah lukisan alam yang sangat indah. Langit malam berhiaskan sejuta bintang, bertebaran di sana sini, berkerlap kerlip. Aku memejamkan mata sejenak, menarik nafas dalam – dalam, membuka mata sambil menghembuskan nafas pelan – pelan. Aku langsung melihat bintang. Terbesit rasa yang damai, tanpa kata, dan hanya kekaguman.

Ingatanku kembali membentuk sebuah wajah yang tersenyum lugu. Wajah cantik dan pribadi yang lembut. Aku memejamkan mataku lagi dan terasa rasa sakit itu. Rasa pilu yang tak urung pergi, pilu itu adalah sesal dalam hati yang tak henti menghantui. Gambaran wajah dalam ingatanku itu menyeretku pada ingatan – ingatanku yang lain, ingatanku pada peristiwa tujuh tahun yang lalu di pantai ini. Peristiwa yang kini menjelma menjadi penyesalan luar biasa dalam hidupku dan selalu tersimpan dalam–dalam di ingatan.

***

Namanya Ratih. Seorang belia yang baru menginjakkan kaki di umur tujuh belas. Dulu aku baru berumur dua puluh, masih kuliah, dan sedang mencari suasana damai sendiri. Aku bertemu dengannya ketika aku membeli kelapa muda, saat itu dia mengantarkan pesananku dengan wajah yang tersipu malu. Ciri khas gadis lugu.

“Terima kasih,” kataku seraya melempar senyuman. Matanya hanya melirikku sebentar lalu kembali tertunduk tersipu lalu ia berlari kembali masuk ke dalam warung. Aku jadi terheran sendiri.

Punten nya, Jang…” ujar nenek pemilik warung. “Bukannya kurang sopan, tapi dia mah pemalu.” Lanjutnya dengan logat sunda kental.

“Oh, iya, ngga apa – apa.” Jawabku singkat lalu menyeruput air kelapa muda. Hari begitu terik, pasir putih yang terkena sinar matahari berkilau – kilau seperti permata di kejauhan. “yang tadi itu cucu nenek?” tanyaku memecah keheningan siang.

“Iyah. Namanya Ratih. Dari bayi udah di asuh sama nini, ibunya meninggal waktu ngelahirin Ratih…” nyerocoslah Nenek itu bercerita tentang hidup Ratih. Ratih merupakan anak ke tujuh dari tujuh bersaudara dan keenam saudaranya gugur dalam kandungan akibat sebuah virus yang diidap sang Ibu. Anak ke lima sebetulnya sempat bertahan hidup selama tiga bulan namun lalu meninggal. Ratih anak terakhir yang selamat dilahirkan dan bertahan hidup sampai sekarang, sang Ibu meninggal dunia saat melahirkan Ratih akibat perdarahan yang hebat, tapi Ratih pun tidak terlahir dengan sempurna. Dia tunawicara. Sejak lahir Ratih sudah diasuh nenek kakeknya yang berjualan di pinggir pantai ini, ayahnya sibuk melaut dan hilang tak kembali saat Ratih berusia satu tahun.

Aku miris sendiri mendengar kisah hidup Ratih. Dia tidak sekolah dan hanya belajar seadanya. Temannya kebanyakan anak – anak kecil, dia tidak punya teman remaja sebayanya. Pada satu senja aku melihat Ratih duduk – duduk sendiri di atas bebatuan menatap ke laut, aku lantas mendekati dan menyapanya. Wajahnya langsung bersemu merah. Dia nampak malu berjumpa denganku. Meski malu – malu akhirnya dia mau aku ajak berjalan menyusuri pantai menikmati senja bersama. Aku berceloteh tentang kota, tentang kuliah, juga tentang senja. Dia hanya tersenyum, sesekali mengangguk – anggukan kepala, matanya berbinar senang. Saat itu aku menyadari betapa manisnya gadis ini. Seperti bidadari yang mucul dari lautan, seperti selembar kertas putih yang siap digoresi warna warni dunia. Aku merasa tentram ada di sampingnya, rasa tentram itu mengantarkanku pada curahan hati tentang hidup dan cinta, awalnya aku berpikir mungkin perasaan seperti itu muncul karena dia tidak berkomentar apapun. Lalu ada perasaan bahagia melihat senyuman merekah di bibirnya, ada perasaan aneh ketika tanganku tak sengaja bergesekan dengan tangannya.

Satu malam terakhirku di pantai ini di temani oleh Ratih. Dia mengantarkan segelas kopi dan mie rebus ke tendaku. Lalu kami bersama berbaring menatap lautan bintang. Dalam diam, sunyi, dan hanya gemuruh ombak lautan mewarnai malam terakhirku di pantai ini bersama Ratih. Tiba – tiba ia menunjuk satu bintang yang berkedip, membuatku menoleh kepadanya penuh dengan tanda tanya. Lalu ia bangkit, diikutiku, duduk dan menulis di atas pasir. Mamah. Dia menunjuk kembali bintangnya lalu menaruh kedua telapak tangannya di atas dada sambil memejamkan mata. Aku tersenyum melihatnya, tanganku tiba – tiba tergerak membelai rambutnya lalu pipinya yang halus. Ia membuka matanya yang berbinar – binar itu, tersenyum padaku, lalu menggenggam jemariku dan menciumnya. Aku merasakan ada yang menyentuh hatiku, seperti semilir angin menghembus menerpa wajahku memberi kesejukkan, ada getar – getar ketulusan di kulitnya yang beradu dengan kulitku. Sesuatu yang cukup kuat untuk menggerakanku merangkulnya, lalu memeluknya, mendekapnya, mencium keningnya cukup lama. Ratih menatapku dan menaruh telapak tangan kanannya di dadaku. Jantungku berdebar hebat seketika. Nafasku mendadak naik turun tak beraturan, dia mengambil tanganku dan mendaratkan di dadanya, membuatku merasakan jantungnya pun berdegup sama kencangnya dengan jantungku. Aku menatap kedua mata lugu itu. Mengikuti arus adrenalin, aku menarik lembut wajahnya mendekat, dan mendaratkan bibirku di atas bibirnya tepat. Rasa hangat mengaliri tubuh kami dengan cepat, lalu berubah panas dalam sesaat. Seperti sihir menyelubungi, kami pindah ke dalam tenda dan aku membuatnya meringis kesakitan karena aku meruntuhkan benteng kehormatannya.

Sehabis subuh aku membereskan tenda dan semua barang – barangku. Ratih sudah pulang sejak dini hari tadi diiringi isak tangis. Aku mendekapnya dan dia malah semakin menangis. Kesedihannya bukan sekedar karena hilangnya kehormatan, dia juga sedih karena hal lain yang tak kusadari, tak kumengerti. Hatinya pilu. Di kejauhan, birunya langit mulai nampak sedikit demi sedikit, perahu – perahu nelayan kembali dari laut membawa hasil jerih payah mereka semalaman di tengah lautan luas. Ikan – ikan segar di giring ke tempat pelelangan. Aku menatap laut sekali lagi, menoleh ke arah warung tempat Ratih berada. Aku ingin berpamitan pulang, namun kakiku melangkah ke arah berlawanan.

***

Aku memandangi langit yang sama dengan tujuh tahun yang lalu, berbaring di pasir yang sama dengan tujuh tahun lalu, memandangi lautan yang sama dengan tujuh tahun lalu. Tujuh tahun kemudian kembali ke pantai yang sama membawa seluruh perasaan bersalah beserta beribu kata maaf untuk seorang yang kembali membayangi setelah sempat terlupakan. Aku harus menuntaskan urusan hati ini, rasa sesal di dasar hati sudah tak dapat dikompromi. Aku memantapkan langkah menuju sebuah warung.

Seorang nenek renta sedang tertidur, ragu – ragu aku bersuara, takut mengganggu istirahatnya. Namun aku harus segera menuntaskan, aku perlu bertemu Ratih untuk sebuah pengampunan. Belum sempat aku bersuara, seorang kakek datang membawa kelapa – kelapa segar.

Bade ngagaleuh naon, Jang? Mau beli apah?” tanyanya.

“Em…er…” aku terbata – bata.

Ma, gugah, eta ladangan heula aya nu bade jajan,” ujar kakek membangunkan nenek yang tertidur itu. Nenek pun terbangun, dengan sedikit tertatih dia berjalan mendekatiku sambil merapikan sarung batik yang ia kenakan.

“Mau kopi?” tanya Nenek.

Ragu, aku tersenyum. “Nenek masih inget saya?” tanyaku. Nenek itu mengernyit berusaha mengingat. Namun memorinya sudah sama rusaknya dengan kemampuan matanya melihat dan mengenali. “Ngga apa – apa kalau nenek lupa,” ujarku sambil tersenyum. “Emm…Nek, saya kemari mau…em…bertemu Ratih.” Begitu nama itu disebut, mata Nenek langsung berkaca – kaca. Aku bingung. Nenek mulai menangis. Aku semakin linglung. Tangisan Nenek mengundang Kakek datang tergopoh – gopoh.

Ku naon Ma? Meuni ceurik jiga kitu.” Tanyanya.

“Aduh maaf saya ngga bermaksud…” ucapanku terpotong ujaran Nenek.

Ieu aya anu nanyakeun Ratih…” ujar Nenek diselingi isak tangis. “Haduh Ratih… budak geulis teh aya di mana, Pa?”

“Saya temannya Ratih, Kek.” Kataku. Wajah kakek mengeras, matanya berubah merah dan juga berkaca – kaca. “Ratihnya kemana, Kek?”

“Ngga ada!” jawab Kakek ketus. “Geus mabur si Ratih mah. Teuing kamana.” Jawabnya. Suaranya bergetar marah, matanya memancarkan kesedihan. Dan aku, sekali lagi, kebingungan.

Aku kembali duduk di bebatuan menatap biru lautan, mencoba menyatukan pikiran. Memilah perasaan. Aku berputar dalam ingatan. Sudah hampir dua hari ponsel aku matikan. Orang – orang panik mencariku, terutama calon istriku. Terlihat dari berpuluh – puluh sms yang masuk begitu ponsel kunyalakan dan nomer – nomer yang mencoba menghubungiku sejak kemarin. Pantas saja mereka panik, H-3 hari pernikahanku tiba – tiba aku menghilang. Aku terdampar di pantai ini mencari orang yang membayangiku tanpa diketahui siapapun. Lusa aku akan menikah dengan seorang wanita yang sangat aku cintai, tapi kini aku di tempat lain diselubungi dilema hati. Aku tidak mungkin membawa rasa sesalku ini sampai ke gerbang pernikahanku nanti, aku membutuhkan pengampunan atas dosa yang kuberikan pada seorang gadis lugu. Dia kabur tanpa ada yang tahu kapan, setelah menyadari bahwa dia telah mengecewakan dua orang yang paling ia kasihi, dua orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Dia kabur membawa pergi bayi yang masih di perutnya itu jauh – jauh. Aku bisa membayangkan betapa bingungnya ia waktu itu dan aku, orang yang paling bertanggung jawab atas semua, tak ada baginya saat itu untuk mengadu. Aku ingin mencari gadis lugu itu. Aku ingin menebus semua dosa yang kulakukan padanya dulu.

Ponselku berdering. Calon istriku pasti khawatir juga kesal karena aku tak ada kabar. Rasa sesal ini menusuk – nusuk dada. Rasa bersalahku pada Ratih dan juga calon istriku. Dengan jari yang bergetar, aku menekan tombol answer.

“Halo,” jawabku getir.

“Sayaaaaaaaaaaaaaang, kamu tuh bikin jantung aku mau copot khawatir sampai mati. Nyebelin. Pergi ngga bilang – bilang, kalau kamu sampai terluka atau kenapa – kenapa, aku gimana coba? Tega. Kamu di mana sekarang? Kok, ga pulang – pulang?!”

Perasaanku terbelah dua. Tidak tahu harus memilih kembali kepada siapa.

***

Aisya,

Sudut Sepi, Awal November 2009

Iklan