Bung Candra sepertinya geli dengan puisi berjudul Senjana Jingga yang saya posting di Aksara Antara Kita minggu lalu. Ada kemungkinan beliau juga bosan karena saya terus ngagugu si Senjana Jingga. Sahabat saya yang sebentar lagi menjadi bapak itu menanyakan tentang seberapa menariknya senja, apakah senja hanya bisa dinikmati di tempat-tempat tertentu, lalu apa jadinya jika sudah jauh ke pantai ternyata kelabu yang didapat. Lalu apa tanggapan saya tentang senja?

Senja itu indah, tapi tidak selalu bisa dimiliki, tidak selalu dapat dilihat. Terkadang dia (senja) tertutup awan, terkadang dia tidak jingga tapi kelabu, kadang senja hanya jingga di belahan dunia lain. Saya menikmati senja tidak harus selalu naik gunung atau pergi menepi ke pantai. Saya suka menikmati senja saat perjalanan pulang, sembari duduk di tepi jendela kamar, atau dari teras rumah.

Jingganya senja selalu dinanti. Selalu dirindu, karena tidak setiap hari dia datang. Senja hanya menepi sebentar lalu ditelan gelap. Senja seperti pria yang selalu merenung, kurus, berkacamata, dan penuh rahasia. Senja tak ubahnya lelaki brengsek yang datang, tebar pesona, lalu pergi tanpa pamit. Tanpa kejelasan apakah besok dia akan kembali atau tidak.

Senja adalah cinta yang remang, tidak bersih, dan tidak steril (Linguae – Seno Gumira Ajidarma). Senja yang jingga layaknya one night stand, singkat, padat, dan nikmat.

Iklan