Dieng-1

Sebuah memori menghampiri di pagi ini. Cuaca di luar sedang mendung dan saya teringat tentang kamu, Dieng. Saya langsung menuju windows explorer. Mencari foto-foto yang mengingatkan pada pijakan pertama saya di Tibet-nya Jawa Tengah itu.

Hujan sudah turun, membasahi genteng dan cipratannya mengetuk-ngetuk jendela kamar. Saya masih memikirkan bagaimana caranya mengisahkan kamu, Dieng. Baiklah, begini. Kamu seperti negeri antah-berantah, penuh pesona yang menghipnotis, dan menghilangkan sinyal provider dua telepon seluler saya. Tepat di bulan November, dua tahun lalu, tahun 2013, kamu adalah ajang reuni saya bersama kawan-kawan terdekat selama di kampus Jatinangor.

Suasana bus sangat sepi. Dari puluhan kursinya, kalau tak salah hanya terisi oleh sembilan penumpang. Enam orang diantaranya adalah kelompok saya. Dengan hujan dan kondisi bus yang kosong, fasilitas AC terasa sangat membekukan. Pemandangan di luar jendela begitu gelap, kerlap-kerlip malam kota Bandung sudah jauh tertinggal di belakang.

Perjalanan reuni itu diagendakan untuk memperkenalkan seni tidur dalam tenda kepada kawan saya Dieng-12yang lain. Jauh-jauh hari saya mengingatkan kawan-kawan untuk menyiapkan kaki buat berjalan. Tetapi nyatanya para wanita karir itu terlampau sibuk untuk sekedar memanaskan otot-otot betis dan paha.

 

Tidak sampai sepuluh jam, saya sudah sampai di Terminal Wonosobo. Saking dinginnya AC di dalam bus, udara di luar terasa lebih hangat. Jam menunjukkan pukul 3.00 dini hari. Sopir dan kondektur bus yang sudah sangat akrab sepanjang perjalanan, menuntun saya bersama kawan lain menuju warung. Satu-satunya warung yang sudah buka di terminal itu. Wangi dari tempe goreng menyeruak begitu saya memasuki warung. Ibu pemilik warung dengan gesit menyuguhkan penganan hangat; kopi dan gorengan.

Wonosobo kala itu masih sangat tentram. Sepi sebetulnya. Hanya ada kami ber-enam di terminal hingga fajar menyingsing. Pantas saja, pos pemberhentian bus itu sangat bersih dan tidak menjijikan layaknya Leuwi Panjang. Dieng, menujumu saat itu tidak semudah sekarang. Tidak ada elf yang menjemput para pejalan ke terminal. Saya dan kawan-kawan harus naik angkot dulu, lalu turun -entah di mana saya lupa- dan lanjut berjalan kaki hingga sebuah pertigaan. Pada pertigaan itu lah saya harus menunggu elf tujuan Dieng yang isinya mayoritas penduduk lokal. Jelas terlihat kami turis kota, haus akan segarnya pedesaan.

 

Saya menikmati sambutan cantik Sindoro-Sumbing yang mengangkang di tepi horizon pesawahan Wonosobo. Kontur jalan yang semakin menanjak dan berkelok menundukkan dua kelopak mata saya. Butuh satu setengah jam untuk akhirnya sampai di pertigaan Bu Djono yang tersohor itu. Langit sangat cerah, matahari cenderung panas, tapi diimbangi hembusan angin khas pegunungan. Begitu sejuk.

Dieng-6

Dieng, saat itu kecantikan kamu sudah banyak diexpose media. Kamu terkenal sebagai negeri di atas awan, kampungnya anak-anak gimbal. Pesona alam dan kearifan lokal kamu adalah magnet untuk para pelancong seperti saya. Tetapi kala itu kemasan kamu masih sangat sederhana, belum ada tugu tulisan Dieng yang kini banyak dipakai latar selfie oleh traveler. Begitu turun dari elf, kesan kamu di mata saya adalah kampung yang bersahaja. Saya membayangkan kalau sudah cukup tabungan nanti, saya ingin menetap di atas tanahmu, Dieng. Mungkin ikut bercocok tanam kentang atau membuat peternakan gurame.

Bermodalkan pengetahuan yang sangat sedikit, tanpa berbekal peta, saya seperti meraba-raba dalam gelap. Meskipun banyak motor yang bisa disewa, saya dan kawan-kawan tetap pada kesepakatan untuk berjalan kaki sampai Sikunir. Dari pertigaan Bu Djono, saya dan kawan-kawan mengambil jalan ke arah kiri. Jalan yang memutar, karena sebetulnya tujuan utama kami adalah Candi Arjuna. Ungkapan kanan sebagai sesuatu yang baik itu memang benar adanya. Harusnya saya mengambil pilihan jalan ke arah kanan dari pertigaan Bu Djono. Jalan kiri ini membawa saya lebih dulu menjejakan kaki di Telaga Warna.

Dieng-11Luasnya area rerumputan di Telaga Warna, cocok untuk piknik. Tanpa pikir-pikir, hari pun sudah menjelang siang, saya dan kawan-kawan memutuskan untuk mengisi perut. Peralatan masak dikeluarkan dari dalam tas. Mie goreng menjadi menu siang itu. Telaga tenang, mudah-mudahan kamu tidak terganggu. Maafkan keributan saya dan kawan-kawan, mencari sendok makan yang entah disimpan di tas siapa.

Dari Telaga Warna, lanjut berjalan kaki menuju Candi Arjuna. Saya dan kawan-kawan harus berbelok di sebuah turunan panjang. Jalan yang sebetulnya menuntun kami untuk kembali ke titik awal. Candi Arjuna letaknya berseberangan dengan pertigaan Bu Djono. Tapi tidak bisa diterobos begitu saja dari tengah. Itulah kenapa, seharusnya saya mengambil jalan ke arah kanan tadi. Karena pilihan yang salah itu, setelah dari Candi Arjuna, saya harus kembali menanjak ke arah Telaga Warna.

Selama berjalan, saya sempat bertemu dengan anak gimbal, pesohor Dieng yang katanya turunan dewa. Anak itu tahu kami turis, dengan sigap dia menawarkan untuk berfoto bersama asalkan kami memberikan upah untuknya (dan ya, dia langsung menyebutkan nominal uangnya, Wahai Dieng). Wah, Dieng…. saya pikir anak gimbal tidak suka uang! Saya pikir dia hanya suka carica, sepeda, atau mobil-mobilan! Saya pikir dia tidak akan meminta atau mengkomersialkan dirinya sendiri. Wah, Dieng, wah. Wah. Wah!

Dieng, Candi Arjuna milikmu itu sungguh ramai. Mungkin karena hari itu adalah hari Minggu? Banyak keluarga berekreasi di sana. Mereka begitu semangat untuk berfoto dengan sekelompok penghibur berpakaian a la wayang. Teriknya matahari membuat saya malas untuk banyak berfoto. Mungkin juga karena faktor saya tidak bawa kamera. Kamera saya hilang, Dieng. Hiks. Jadi saya hanya membekali diri dengan kamera ponsel. Kurang puas sebetulnya, tak ada view finder yang menempel ke mata. Ada seorang kawan membawa kamera DSLR, tapi kalau bukan kamera sendiri rasanya tetap beda.

Sebetulnya ada sekitar 21 bangunan candi di Dieng. Rata-rata berasal dari abad 8 hingga 13 masehi. Candi-candi Dieng dibangun sebagai wujud bakti kepada Dewa Syiwa dan istrinya, Sakti. Kelompok candi Dieng itu diperkirakan sebagai candi Syiwa tertua.

Komplek Candi Arjuna
Komplek Candi Arjuna

Dieng, saya dan kawan-kawan akan berkemah di Telaga Cebong. Tetapi perjalanan menuju telaga di desa -yang konon katanya- tertinggi di Pulau Jawa itu ternyata sangatlah panjang. Sama seperti dari Basecamp Sembalun Rinjani menuju Pos I. Huffft… berjalan dan terus berjalan di pinggir jalan, menggendong tas carrier, dan mobil-mobil colt buntung tak henti berlalu lalang. Belum lagi motor. Setiap bertanya kepada penduduk, mereka selalu menjawab enteng “… kilo lagi,” yang terdengarnya tidak begitu jauh. Tapi begitulah kalau bertanya pada penduduk lokal, ya Dieng. Entah bagaimana cara mereka mengkalkulasi 10 km itu menjadi 3 km.

Kelelahan akhirnya tiba dan tak bisa lagi dikompromi. Kawan-kawan sudah mulai kehilangan daya topang pada lututnya. Kami duduk berbaris di pinggir jalan, menunggu mobil lewat. Seperti di film-film, saya dan kawan-kawan mengacungkan jempol, memberhentikan sebuah mobil bak dan izin menumpang. Tapi mobil itu berisi karung-karung pupuk kandang, jadi secara halus kami menolak untuk ditampung bersama wewangian itu. Mobil buntung berikutnya tiba dengan bak yang kosong. Kami semangat naik, meski akhirnya lambat laun menyadari bahwa ada aroma kotoran menempel di semua sudut mobil itu.

Sang sopir menurunkan kami sebelum destinasi tujuan. Tetapi setidaknya kami hanya perlu berjalan sekitar 2 km lagi menuju Telaga Cebong. Langit sudah tidak terik, waktu sudah lepas dari siang, awan Dieng-10gelap seperti siap menyergap. Saya bilang pada kawan-kawan untuk lebih cepat berjalan, memberi perlawanan terhadap si awan pembawa hujan. Kalau kehujanan bisa gawat, tidak ada tempat berteduh. Sekitar kami hanya perkebunan. Betul saja, Dieng, awan-awanmu itu perlahan mulai menurunkan airnya. Rintik-rintik. Gerimis. Kabut juga mulai turun, tapi gerbang Desa Sembungan belum terlihat.

Untungnya gerimis kamu tidak intens, ya Dieng. Saya dan kawan-kawan sampai di depan gapura Sembungan. Luar biasa bahagia. Saya bisa melihat Telaga Cebong dari gerbang itu, bila ditarik garis lurus mungkin jaraknya hanya 500 meter. Tapi melihat jalan desa yang harus dilalui berkelok-kelok dengan sedikit tanjakan, barangkali jaraknya menjadi 1km.

Telaga Cebong ada di dekat pelataran parkir Sikunir. Pelataran parkir cukup luas, dengan fasilitas warung-warung sederhana dan WC umum. Namun, selepas maghrib, baik warung maupun WC itu tutup dan digembok. Bersebelahan dengan tempat parkir adalah area berumput yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda, menghadap langsung ke Telaga Cebong. Telaga berbentuk kecebong itu bekas kawah purba dan airnya kini digunakan untuk kebutuhan ladang para petani. Dieng, kamu memang surganya kentang. Pemandangan yang didapat sekitar telaga adalah perkebunan kentang dan sayur.

Dieng-5

Dieng, saya tidak tahu kalau air dari Telaga Cebongmu itu tidak bisa diminum atau digunakan untuk memasak. Tapi penduduk yang berdiam di tanahmu memang jempolan. Mereka baik, mengambilkan saya dan kawan-kawan berbotol-botol air dari masjid.

Hari sudah sore, menunjukkan pukul 16.00. Dieng, hujanmu akhirnya turun tepat ketika tenda sudah berdiri kokoh. Meski tidak bisa langsung memasak demi perut yang keroncongan, setidaknya saya dan kawan-kawan sudah bisa berteduh dalam tenda. Saling berdekatan dan mentransfer panas tubuh.

Malam kamu dingin juga ya, Dieng. Saya tidak membayangkan akan sedingin itu. Tetapi yang membahagiakan saya adalah melihat kawan-kawan juga senang dan menikmati kemping pertama mereka. Awalnya saya sudah menyiapkan mental kalau-kalau para wanita itu jadi super rempong dan super rewel. Rempongnya sih iya, Dieng, sedikit. Hanya sebatas ribut posisi tidur dan rebutan sleeping bag. Tapi untungnya tidak rewel. Ah kamu juga pasti tahu, Dieng, menonton dan geli tertawa melihat kami yang kedinginan.

Dieng-3

Iklan