Sejak berkenalan dengan Soe Hok Gie (27 tahun kurang 1 hari) lewat “Catatan Seorang Demonstran” dan “Soe Hok Gie… sekali lagi”, ada banyak hal baru yang melekat di benak. Salah satunya adalah mati muda yang tidak lagi sekedar kegetiran. Saya memandangnya sebagai kelas VIP atau peristiwa romantis. Karena mati setelah tua itu adalah suatu kepastian, tapi mati saat muda merupakan sebuah kejutan. Atau seperti tulisan filsuf Yunani yang dipopulerkan oleh Gie,

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, kedua adalah dilahirkan tapi mati muda. Yang tersial adalah berumur tua.”

Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda. Kemudian saya teringat bahwa sekitar dua atau tiga tahun lalu (lupa), saya mendapat kabar kematian dua teman saya. Rasanya ganjil juga. Antara percaya dan tidak. Karena saya tidak mengira akan mendapat berita duka dari teman seangkatan di tengah gempuran (zamannya) undangan pernikahan.

UGM Slamet
                                                          Gambar: pramupala.blogspot.co.id

Belakangan saya agak candu dengan cerita-cerita tragis tentang mereka yang mati muda. Ada mahasiswa-mahasiswa UGM yang kemalangan diterjang badai Gunung Slamet pada Februari tahun 2001. Belum lagi kesenduan cerita Yudha Sentika (17 tahun) yang hilang tanpa jejak tahun 1991 di Gunung Kerinci yang hingga kini jasadnya tak diketemukan bersamaan dengan teka-teki kemana ia hilang. Desember tahun 2014 di tempat yang persis sama dengan Yudha, kisah yang sama, pun terulang pada pemuda bernama Setiawan Maulana (22). Lalu ada kecelakaan yang menewaskan Dania Rahman (19) saat mendaki Mahameru, Agustus 2015. Tubuhnya dihantam longsoran batu besar.

Hingga sampai saya membaca tentang Norman Edwin (36), Chairil Anwar (26), Andres Escobar (27), Jim Morrison (27), Kurt Cobain (27), Ryan Hidayat (26), Munir (38), Marsinah (24), dan bacaan saya berhenti di Nike Ardilla (19). Terlalu banyak baca mereka yang mati muda itu jadi membuat ngeri juga, gelisah, dan berhalusinasi yang tidak-tidak. Apalagi saya tipe pembaca yang mudah terbenam dalam cerita.

Rata-rata usianya seusia saya sekarang, yaitu 27 tahun. Apakah 27 angka yang “ideal” untuk mati muda? angka rawan? Mungkin. Entahlah. Tetapi sedikit banyak saya setuju denga tulisan yang di-posting Erik Christianto. Bahwa, usia 27 adalah usia keemasan (puncak), di mana kontemplasi, frustasi, depresi, perenungan, dan carut-marut pikiran berlomba-lomba membunuh si empunya usia. Hanya dua orang yang mampu selamat, yaitu pertama yang gigih menjalani hidup hingga berhasil melewati fase tersebut dan kedua adalah yang tidak memikirkan hal ini.

Romantisme mati muda terletak pada ketika usia terhenti di tengah masa pencarian, kegelisahan, kejenuhan, pergulatan, dan penggugatan jiwa. Saat masih banyaknya pertanyaan batin yang belum terjawab, pemahaman yang belum sempurna, serta tujuan-tujuan yang belum tercapai. Baik orang lain (mungkin) tahu sedikit tentang itu, atau tidak tahu sama sekali, atau bahkan tidak perlu tahu.

Begitu banyak hal yang harus terpendam dalam rentang usia produktif. Dari cerita para pesohor di atas misalnya (yang tentu bisa digali via Google), pun mereka mengalami pergulatan sebelum akhirnya beristirahat tenang dengan cara yang sudah disuratkan takdir.

Banyak orang hanya memandang mati muda sebagai sebuah kegetiran tanpa mau mengakui sisi romantisnya. Maksud saya, ayolah… bukankah kedukaan adalah hal yang paling romantis? Dengan masih bisa merasakan duka, kita masih layak disebut manusia. Dari rasa kehilangan, kita menghimpun kenangan, dan mengingatnya sebagai candu satu malam atau mengarunginya selama kehidupan. Bukankah bernostalgia merupakan aktivitas romantis? Perkara apa-apa yang melibatkan hati, seseringnya memang sulit dimengerti. Tapi ketidakmengertian itu romantis.

Well, terlepas dari tulisan omong kosong tersebut, mau bagaimana pun mati adalah satu kepastian yang tak pasti. Takdir yang harus siap dihadapi, esok pagi atau nanti. Seromantis-romantisnya mati muda seperti yang saya pikirkan di atas, kematian paling romantis adalah setelah kehidupan yang memberi banyak manfaat untuk orang lain.

“We all die. The goal isn’t to live forever, the goal is to create something that will.” – Chuck Palahniuk –

Yah … meski saya tetap pada kesimpulan konyol bahwa mati muda itu ngeri, tapi romantis.

Iklan