Sebelum tokoh Nyai Ontosoroh yang gagah, pemberani, juga revolusioner itu lahir dari tangan Pramoedya Ananta Toer, Gijsbert Francis lebih dulu membidani Nyai Dasima pada tahun 1896. Kesuksesan novel Tjerita Njai Dasima waktu itu, kemudian diangkat ke layar lebar sebagai film bisu (1929) dan menginspirasi novel-novel lain berkisah dengan motif sastra ‘nyai’.

Seperti halnya Nyai Ontosoroh, Nyai Dasima, beserta nyai-nyai lain yang hidup di Hindia Belanda merupakan seorang gundik. Bahasa kerennya adalah wanita simpanan atau bini piare para meneer, di mana hubungan antar mereka tidak memiliki ikatan perkawinan. Francis mengisahkan Nyai Dasima sebagai wanita cantik yang memiliki banyak keahlian seperti memasak serta menjahit, dan sangat dicintai Tuan Edward W. Tuan Edward W sendiri merupakan pria berkebangsaan Inggris. Mereka berdua memiliki seorang putri bernama Nancy. Bersama Tuan W, Nyai Dasima diberi rumah besar lengkap dengan pembantu-pembantu, pakaian, makan, pokoknya hidup yang terjamin.

[…]

Njai Dasima menjaoet:

“Saya poenja oentoeng, Toehan Allah kasih boeat ikoet saja poenja Toean hatinja baek dan terlalu sajang sama saja, saja poenya makan dan saja poenja pake semoea tjoekoep.”

Dengan kecantikan dan hartanya yang melimpah, banyak pria pribumi yang ingin merebut sang Nyai. Termasuk tukang sado (delman) Samiun yang sudah beristerikan Hayati. Dengan dibantu Mak Buyung, ibunya Mak Saleha, istrinya Hayati, dan Haji Salihun, Nyai Dasima dirayu dan dipelet untuk mau menikah dengan Samiun. Upaya tersebut digambarkan dengan cara berkedok dakwah agama. Mak Buyung menyamar sebagai pembantu di kediaman Dasima sembari mengajarkan nilai-nilai agama pada si Nyai. Seperti, seorang wanita muslim tidak sepantasnya berhubungan dengan non-muslim dan tak berbaur dengan orang Islam serta pribumi lain. Meskipun pada akhirnya pribumi beragama itu melakukan jalan syirik, yaitu memelet Nyai Dasima. Sebuah cara primitif yang tak dapat dipungkiri praktek serupa zaman ini masih berlangsung di beberapa daerah Indonesia.

Nyai Dasima kena pelet dan menjadi istri kedua Samiun. Namun setelah harta Nyai Dasima terkuras habis, Samiun membayar tukang jagal bernama Bang Puasa. Nyai Dasima pun dibunuh secara keji dan mayatnya dibuang ke sungai.

Sekitar tahun 1960-an sastrawan berdarah Sumatera yang bergelut dengan kebudayaan dan sastra Betawi, yaitu S.M Ardan “menggugat” Tjerita Njai Dasima milik G. Francis. Ia menulis ulang Nyai Dasima dengan mengidealisasi para tokohnya. Karya tersebut adalah sebentuk protes Ardan yang didukung beberapa kritikus sastra, tentang bagaimana G. Francis terlalu memojokkan masyarakat pribumi, khususnya agama Islam.

Dalam versi Ardan, Nyai Dasima digambarkan sebagai gundik yang mengalami pergulatan batin karena ingin sekali kembali berada ditengah-tengah bangsanya.

“Saya lebih suka tinggal di kampung, di antara bangsa sendiri.”

[…]

“Dan yang lebih parah lagi, karena saya selalu dihina sebagai orang kampung. Oh, tujuh tahun tersiksa jauh dari teman-teman, dari bangsa sendiri, dan orang tua.” 

Sedangkan Samiun murni jatuh cinta karena kecantikan Dasima dan sudah “gerah” karena memiliki istri (Hayati) yang hobi main ceki alias judi. Ma Buyung diutus Samiun untuk “menggiring” Nyai Dasima agar mau menikah dengannya. Sedangkan Haji Salihun ditokohkan sebagai penasehat Agama Samiun dan mencegahnya untuk menggunakan ilmu pelet. Pada akhir cerita Nyai Dasima tetap melayang nyawa di tangan Bang Puasa. Hanya saja pembunuh bayaran itu dikirim oleh Tuan W sebagai balas dendam karena Nyai Dasima sudah meninggalkannya dan Nancy.

Tahun 2007 Masup Jakarta menerbitkan kedua versi Nyai Dasima tersebut dalam satu buku. Cerita versi S.M Ardan penuh dengan penuturan dialek Betawi yang khas, sedangkan milik G. Francis dicetak dalam ejaan Hindia Belanda. Mau tak mau saya yang membacanya jadi ikut membandingkan.

Saya mengerti kenapa S.M Ardan ingin memperbaiki citra pribumi muslim, namun sayang cerita yang dituturkannya terkesan terburu-buru. Konflik yang dihadirkan terlihat biasa saja, sehingga tak terasa klimaksnya. Permasalahan yang menurut saya tidak begitu urgent sehingga membuat Nyai Dasima tega meninggalkan Nancy. Seharusnya mungkin bisa lebih dikembangkan atau digodok lagi, supaya tidak terkesan dipaksakan.

Nalar saya lebih bisa menerima cerita versi G. Francis. Meskipun memojokkan kaum muslim, penuturannya lebih terasa rapi, penokohan, serta konflik masalahnya terasa lebih nyata. Tentang muslim yang suka main pelet, toh di Indonesia ini agama masih lumrah bercampur dengan tradisi kebudayaan yang sudah ada jauh sebelum agama menyapa.

Iklan