Waktu mati lampu, di atas meja tegak berdiri

lilin yang tak panjang. Ia terang sendiri

layaknya lakon pada panggung pentas seni.

 

Hitam, gelap di sekitar

Hening di sekeliling

 

Lalu seperti terhipnotis gemericik hujan,

apinya mulai menari-nari. Ia bergoyang ke kanan dan ke kiri

Persis ular menuruti suling sang pawang, ia tak sanggup melawan

 

Tapi tetap hening di sekeliling ………………….

tak ada riuh tepuk tangan,

tak ada pekik sorak-sorai.

Terlalu sunyi ………………….

 

Kemudian pendar jingga itu mengerjap

warnanya berubah merah, marah pada gelap

Berkomat-kamit dikuasai nafsu

Hardiknya, “Asu! Tiap mati lampu, sepi melulu. Hey Angin, arahkan aku ke gorden itu!”

 

 

(Maret 2016; Aisya Meinanda)

Iklan