Lirik Iwan Fals yang haru dalam lagunya ‘Bung Hatta’, terasa menyayat pagi hari itu. Saya menerawang, adakah namanya kini hanya diingat sebagai jalan “Soekarno-Hatta” atau hanya sebagai pendamping Sukarno. Semoga saja tidak. Mereka, the founding father of Indonesia, adalah satu kesatuan, kokoh, dalam segala perbedaannya sehingga mendapat julukan Dwitunggal.

Terlepas dari Sukarno, hingga seorang Iwan Fals membuatkan lirik merdu tentang Bung Hatta, tentu karena pribadinya yang juga istimewa. Kalau ada pejabat atau pemimpin Indonesia yang mendekati sempurna, itu adalah Bung Hatta. Cerdas, sederhana, jujur, lugu, dan bijaksana.

Sebagai pribadi Mohammad Hatta terkenal sebagai sosok yang jujur dan sederhana. Setelah pensiun dari jabatan Wakil Presiden, ia menolak tawaran jabatan sebagai komisaris BUMN yang sebetulnya bisa membuat hidup keluarganya enak. Ia memilih hidup sederhana tanpa bisnis atau memanfaatkan koneksi. Penghasilan tambahannya didapat dari hasil menulis dan mengajar.

Ia sering takut tidak bisa membayar tagihan listrik dan air karena pada masa itu semua harga naik akibat inflasi gila-gilaan di Indonesia. Cerita lain juga menyebutkan Bung Hatta tidak mampu membeli sepasang sepatu Bally yang diidamkannya, bahkan hingga akhir hayatnya. Tabungan untuk membeli sepatu itu lebih sering terpakai kebutuhan rumah tangga dan membantu saudara serta koleganya yang kesulitan. Bung Hatta juga pernah menginstruksikan asisten pribadinya untuk mengembalikan sisa lebih uang negara yang dipakai untuk biaya pengobatannya.

Hidupnya teratur dan selalu disiplin. Anak-anaknya selalu dididik untuk menjunjung kejujuran, mengakui kesalahan dan mengatakan maaf, berkata tolong saat minta tolong, dan tak lupa mengucap terima kasih. Bung Hatta tidak bisa mentolerir nilai-nilai sekolah yang buruk. Ia pernah memarahi Des Alwi, anak angkatnya, gara-gara ada nilai merah dalam raportnya. Ia berkata pada Des Alwi, “Kalau nilaimu buruk, lebih baik kau pulang saja ke Bandaneira dengan berenang!”.

Buku adalah isteri pertamanya. Bung Hatta tak bisa hidup tanpa buku. Saat dibuang ke Digul dan Bandaneira oleh Pemerintah Belanda, ia membawa 16 peti alumunium berisi buku. Katanya,

Aku rela dipenjara asalkan bersama buku. Karena dengan buku aku bebas,”

Peti-peti berisi buku itu pula yang pertama diangkut saat pindah rumah setelah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden. Dan buku hasil karyanya sendiri yang berjudul “Alam Pikiran Yunani” dijadikan mas kawin saat menikah dengan Rahmi Rachim. Meski dimarahi sang ibunda, tetapi Bung Hatta bersikeras memberikan buku sebagai mas kawin karena berpendapat buku jauh lebih berharga dari harta benda apapun.

Kekikukan dan kekakuannya sebagai pria tercermin pada kisah cintanya. Saat bersekolah di Belanda, Hatta tidak pernah terlihat dekat dengan wanita. Maka teman-temannya meminta seorang gadis Polandia yang cantik jelita untuk menggoda Hatta. Usaha tersebut gagal dan kata gadis tersebut adalah, “Dia (Hatta) bukan pria, tetapi pendeta,”. Pernikahannya dengan Rahmi pun atas prakarsa Sukarno. Sebelumnya Hatta berjanji untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Ia baru menikah pada usia 43 tahun, itu pun Sukarno yang melamar Rahmi yang berbeda usia 24 tahun dengan Bung Hatta.

Dalam berpolitik, sudah jadi rahasia umum, jika Bung Hatta memiliki pandangan dan (mungkin) ideologi berseberangan dengan soulmate-nya, Bung Karno. Mohammad Hatta bukan pribadi yang berapi-api apalagi flamboyan layaknya Sukarno. Bung Hatta adalah pribadi kalem, namun tulisan-tulisannya tajam, pribadi ย teratur, bahkan kekikukannya menjadi kisah lucu tersendiri, kemudian religius, humanis, demokratis, dan selalu mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menghadapi suatu masalah.

Ketidakcocokan antara mereka sampai berakibat pada “perceraian” Dwitunggal. Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 1 Desember 1956, salah satunya karena tidak setuju dengan keputusan Sukarno memasukkan unsur komunis dalam pemerintahan.

Setelah pensiun pun, Bung Hatta lewat tulisan-tulisannya, baik buku, media cetak, atau surat-surat pribadi yang ditujukan pada Sukarno selalu mengandung unsur kritikan. Karya pemikiran Bung Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita” bahkan sempat dilarang peredarannya oleh Sukarno. Meski begitu, keduanya tidak bertikai. Dwitunggal tetap harmonis dalam keseharian dan sebagai sepasang sahabat. Bung Hatta satu-satunya orang yang menjenguk Bung Karno saat menjadi tahanan rumah, sebelum Presiden RI pertama itu menghembuskan nafas terakhirnya. Juga Bung Karno menjenguk Bung Hatta saat karibnya itu terserang stroke dan menganjurkan untuk berobat ke Swedia atas biaya negara.

Pemikiran Bung Hatta soal ekonomi Indonesia pun dinilai memiliki visi jauh ke depan. Ia menggagas ekonomi berbasis kerakyatan. Mohammad Hatta menilai setiap kepentingan dan kemakmuran masyarakat harus dikedepankan tanpa mengabaikan hak perorangan. Pendapatnya adalah tujuan akhir dari perekonomian itu bagaimana rakyat dapat merasakan ksmakmuran dan kesejahteraan dalam arti sesungguhnya. Bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik. Bung Hatta menolak sistem liberalisme karena tidak percaya sistem tersebut dapat melahirkan kesetaraan kesejahteraan. Dengan konsep ekonomi berbasis kerakyatan ini, lahir Koperasi sehingga Bung Hatta juga dijuluki Bapak Koperasi Indonesia.

Sudah 36 tahun, tepatnya lima hari lalu pada tanggal 14 Maret, Bung Hatta berpulang. Gaung kebesarannya tak jarang berada di bawah bayang kegagahan Sukarno. Tetapi kita dan generasi di bawah kita tidak boleh melupakan Mohammad Hatta sebagai individu sejati. Pemikirannya perlu dijadikan acuan, gagasannya perlu dikembangkan, pribadinya perlu menjadi tauladan demi Indonesia jaya.

 

Iklan