Ada saat yang aku takuti

yaitu berangkat tua dan hanya jadi saksi

dari lorong-lorong waktu yang terus bergeser,

yang mengibarkan jejeran bendera kuning

lalu cermin tua memperlihatkan kerutan-kerutan yang mengejek,

“Siapa kamu?”

 

Ada saat yang paling aku takuti

yaitu jika waktu berhenti

dan aku masih bukan sesiapa

belum sempat, belum dapat

memberikan sesuatu apa

makna bagi Ibu, saudara-saudaraku,

juga para penerus masa lalu

(Maret 2016; Aisya Meinanda)

 

Iklan