“Kau pernah dengar, permainan perempuan yang namanya Kejar Daku, Kejar Daku, Biar Kau Kutangkap? Dalam permainan itu seorang laki-laki merasa dirinya mengejar perempuan, tetapi anehnya yang tertangkap justru dirinya sendiri.”

Kira-kira begitu ucap Markum kepada keponakannya, Ramadan, yang tengah dimabuk asmara dan baru saja melamar Mona, wanita yang belum lama dikenalnya. Penggalan dialog tersebut diambil dari film komedi-romantis “Kejarlah Daku, Kau Kutangkap” yang rilis tahun 1985.

Chaerul Umam bertindak sebagai sutradara, sedangkan ide cerita dan penulis skenarionya adalah Asrul Sani. Seorang sastrawan angkatan ’45 yang melambung namanya setelah buku kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir yang ditulisnya bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin. Tak heran dialognya cukup menohok dan menyentil.

Filmnya kocak, ditampilkan dalam acting meyakinkan dari seluruh pemain. Pemeran utamanya adalah Deddy Mizwar (sebagai Ramadan) dan Lydia Kandou (sebagai Mona), didukung oleh Ikranagara (sebagai Markum) dan Ully Artha (sebagai Marni). “Kejarlah Daku Kau Kutangkap” adalah kisah cinta dengan bumbu perang kedudukan suami-istri dalam sebuah rumah tangga.

Kejar daku kau kutangkap-3

Cerita cinta Ramadan dan Mona bermula dari “sengketa foto” di koran. Ramadan merupakan seorang wartawan koran Zamrud. Suatu hari ia meliput pertandingan voli, di mana Mona adalah salah satu pemainnya. Kemudian foto Mona yang tidak kobe alias kontrol beungeut atau bahasa Indonesianya kurang cantik itu dimuat dalam kolom “Yang Bernasib Baik Hari Ini”. Maka Mona berhak mendapat hadiah uang sebesar Rp. 10.000 (jaman itu, uang segitu banyak banget). Oleh teman-teman kantornya, foto tersebut menjadi bahan tertawaan. Mona tersulut emosinya hingga memutuskan untuk menuntut sang juru potret.

Atas usulan Marni (sahabat Mona), Mona menuntut Ramadan sebesar Rp. 100 juta dengan alasan tanpa izin memotret dan memuat fotonya di media massa. Pak Pandji, bosnya Ramadan, menyuruh wartawan itu merayu Mona demi menggagalkan niatan tuntutan tersebut.

Mona sendiri digambarkan sebagai gadis plin-plan. Ia merasa senang dirayu Ramadan namun dengan cepat berubah sikap atas “hasutan” Marni. Lalu berubah menjadi lunak lagi sikapnya setiap bertemu dengan Ramadan. Keduanya memang saling jatuh hati dan dalam waktu singkat memutuskan untuk menikah.

Kisah cinta Ramadan dan Mona diapit oleh dua jomblo idealis, yaitu Markum dan Marni. Markum, tempat curhat Ramadan, terus memberikan pandangan tentang perempuan. Sesuai dengan apa yang sering dibacanya dari buku. Pikiran Ramadan pun dipusingkan dengan wejangan-wejangan dari bosnya. Hingga ia menunjukkan kedigdayaan seorang suami atas istrinya. Sedangkan dari pihak Mona, ada Marni yang mendorongnya untuk bersikap lebih keras dari Ramadan. Intinya istri tidak boleh kalah dari suami.

Nasehat Marni pada Mona, “Karena dia tahu kau terlalu sayang padanya, makanya kau dianggap enteng. Lawan!”

Perang kedudukan dalam rumah tangga antara Ramadan dan Mona berujung pada pisah ranjang. Selama pisah ranjang tersebut keduanya pun saling merasa kehilangan serta merindu. Tetapi terlalu gengsi untuk mengakuinya. Akhirnya Markum dan Marni sepakat untuk mendamaikan dua sejoli itu.

Kejar daku kau kutangkap-5

Meski film ini menceritakan tentang kisah kasih antara Ramadan dan Mona, namun bagi saya sendiri lakon utamanya adalah Markum. Perannya cukup sentral dalam memberi pemahaman tentang perempuan kepada Ramadan dan memengaruhi kehidupan rumah tangga keponakannya tersebut.

Bisa dibilang Markum ini seorang pria kaku, jomblo idealis, yang hanya mengenal kaum Hawa dari buku-buku filosofi dan psikologi tentang perempuan. Namun dia tidak pernah mau berhubungan jauh dengan perempuan.

Ramadan: Kenapa kau tidak kawin? Tiap hari kerjamu membaca buku tentang perempuan terus.

Markum: Sungguh pun begitu, aku belum juga mengerti perempuan. Perempuan adalah makhluk yang aneh. Nah, apakah aku harus kawin dengan sesuatu yang aku tidak mengerti?

Ya, perempuan memang aneh. Sulit diterka dan selalu membuat pria serba-salah. Itulah kenapa, pria mengejar namun akhirnya pria juga yang terperangkap. Pada dialog lain Markum melontarkan tentang stereotip (kebanyakan) perempuan, yang saya sendiri tidak bisa untuk tidak setuju juga.

Markum (kepada Ramadan), “Kau harus tahu ada 10 macam sebab kenapa seorang wanita menjatuhkan pilihannya kepada seorang laki-laki. Pertama, karena latah. Jika perempuan lain bersuami, kenapa dia tidak? Kedua, laki-laki yang menurut dia adalah pilihannya itu, adalah satu-satunya lelaki yang tersedia pada saat ia dihinggapi penyakit ingin bersuami. Yang ketiga […]

Dalam film “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”, Markum pada akhirnya jatuh cinta kepada Marni. Ramadan pun protes karena sebelumnya Markum pernah menyatakan tidak berniat menikahi sesuatu yang tidak dia mengerti. Tetapi kocaknya, Markum nge-les begini,

“Itu dulu, Dan. Aku senang perempuan, justru karena aku tidak mengerti mereka. Ada semacam yang dirahasiakan, suatu misteri. Lain dengan surat tagihan pajak, jelas pajak Tuan sekian … sekian… Tapi yang begitu ‘kan membosankan?” 

Marni akhirnya luluh dan turut jatuh hati pada Markum ditengah misi mereka berdua dalam mendamaikan Mona dan Ramadan. Sebelumnya ia adalah wanita keras hati yang tak pernah percaya pada lelaki. Ucapnya suatu ketika kepada Mona yang plin-plan:

“Laki-laki kalau sudah diberi kesempaan bicara, dia akan bisa buktikan yang hitam adalah putih. Kalau perlu dia bohong. Laki-laki buaya semua, Mon! Hati-hati kau!”

Kelanjutan antara Markum dan Marni kemudian ditampilkan pada film “Keluarga Markum” yang tak kalah kocak dan apiknya. Film tersebut rilis tahun 1986 sebagai sekuel dari “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”.

Sebuah cerita sederhana yang menghibur saya dengan adegan dan dialog-dialog menggelitik nalar. Selain itu musik berwarna dangdut-nya sangat ear catching. Perfilman Indonesia kini sedang berusaha bangkit, namun sejauh ini masih belum muncul komedi-romantis yang sederhana dan terbungkus apik seperti film “Kejarlah Daku Kau Kutangkap” ini.

Hal lain yang juga saya suka karena dalam film ini tidak mempertontonkan kemewahan atau kemiskinan yang terlalu di dramatisir yang kerap ada pada film masa kini. Tidak ada mobil mewah, rumah gedong, atau posisi pekerjaan maupun karir yang menggiurkan. Semua dalam situasi sederhana, tepat pada porsinya, sehingga bagi saya sebagai penonton merasa dekat (bersentuhan) dengan film tersebut.

“Kejarlah Daku Kau Kutangkap” menunjukkan bahwa polemik kedudukan antara suami-istri dalam rumah tangga sebetulnya tidak urgent, tidak penting-penting amat, dalam artian tidak usahlah diperdebatkan sebegitu sengitnya. Suami janganlah merasa memegang kuasa, istri pun tidak perlu menuntut keras untuk sejajar atau lebih tinggi dari suami dalam berumah tangga.  Karena dalam segala aspek kehidupan, hanya dibutuhkan keselarasan; silih asuh, silih asih, silih jagi (lirik: Doel Sumbang – Pangandaran).

Terakhir, nasehat Markum:

“Waktu kau belum kawin, buka matamu luas-luas. Tapi begitu kau kawin, picingkan matamu sedikit sehingga istrimu kelihatan remang-remang.”

Iklan