Siapa yang tak tahu nostalgia? Ah, mayoritas manusia pasti tahu nostalgia. Umumnya dari mereka, pun setidaknya pernah bernostalgia; ditemani secangkir teh manis di sore hari misalnya. Memori berputar balik, mengawang-awang ke masa lalu sembari dihujani cahaya senja yang memberi efek sephia.

Sebagai kata kerja, bernostalgia adalah kegiatan menyenangkan. Tak heran karena kita—manusia—hanya mau mengingat-ingat, memutar ulang gambar yang meninggalkan kesan merenah di hati. Sedangkan kenangan buruk akan dipendam dalam-dalam, dikunci, dibiarkan sendiri kesepian, terasing, dan haram untuk diungkit-ungkit. Makanya begitu kata nostalgia terucap, selalu manis rasanya.

Tak kalah romantis, sebagai kata benda, nostalgia adalah kerinduan. Tentunya kerinduan akan sesuatu yang sudah tak ada atau yang tak dapat terulang. Meski rasa rindu itu terkadang suka ter-la-lu.  Dan saya, mirip Raisa, terjebak nostalgia.

Saya selalu semangat saat bernostalgia. Semakin intens sejak satu tahun kurang dua bulan belakangan. Berada dalam lorong waktu berjalan ke belakang terasa lebih nyaman dibandingkan menatap kehidupan masa kini apalagi masa depan.

Telinga dan batin saya lebih bisa menerima serenada tembang lawas. Alunan musiknya terasa nyata dibandingkan musik-musik yang sudah diolah secara digital seperti sekarang; di mana yang jelek bisa jadi bagus dengan satu atau dua kali klik layar komputer. Pilihan diksi dari lirik lagu lawas seperti dendang puisi. Puitis, sederhana, tapi tidak murahan.  Sebuah sensasi yang tak didapat dari kemahiran ini zaman.

Beberapa waktu lalu si teteh ngajak untuk nonton Batman vs Superman, tapi saya lebih milih untuk mengulang Catatan Si Boy I dan Catatan Si Boy II di YouTube. Gile Cing, Onky Alexander! Saya juga memutar film legendaris Gita Cinta SMA, dalam rangka semangat nostalgia karena AADC 2 sebentar lagi terbit (maaf, sindrom penulis), tayang maksudnya.

Lanjut terpesona ranumnya Desi Ratnasari dan Nike Ardilla di film Olga Sepatu Roda, lalu tertawa ngakak gara-gara film penuh filosofis Kejarlah Daku Kau Kutangkap dan Keluarga Markum. Film tahun 1977 Ali Topan Anak Jalanan pun saya lahap meski terkantuk-kantuk.

Belakangan saya juga lebih memilih baca buku-buku, terutama sastra, berlatar sejarah atau yang mengambil setting sebelum digital sepenuhnya mengambil alih dunia. Sebut saja novel Pulang dari Leila S. Chudori, Kitab Omong Kosong-nya Seno Gumira Ajidarma, Bumi Manusia karya Pram, serial Noni milik Bung Smas, Tom Sawyer tulisan Mark Twain, Tjerita Njai Dasima dari G. Francis, sampai Balada Si Roy karya Gol A Gong dan Dilan-nya Pidi Baiq.

Lewat lagu, film, dan buku-buku saya kembali pada sebuah zaman yang semua serba sederhana. Mengenang masa-masa saat tidak ada panic attack buat charge handphone. Lebih romantis ngobrol via telepon umum, sensasi bahagia waktu Pak Pos datang, ngga ada iritasi mata karena nulis surat dan diary.

Serunya naik angkot baheula karena satu angkot bisa langsung penuh sama teman-teman sekolah, dan nikmatnya berdempetan di becak menikmati angin sepoi-sepoi tanpa kaget disalip motor. Terus merasa expert kalau naik sepeda lepas tangan,

Tidak ada cafe, jadi bakso dan roti bakar adalah jajan paling mewah. Tidak perlu dessert warna-warni sok imut pedahal rasanya biasa aja, cukup es cincau. Nah, kalau yang pacaran, biasanya kirim-kirim salam lewat radio, atau pinjem buku catatan. Saat bukunya dikembalikan, bagian dalamnya ada sebaris kalimat manis atau sebait puisi. Cieeeelaaaaahhh….!!

Paling asyik lagi, dunia sekolah masih didominasi warna putih-merah untuk SD, putih-biru buat yang SMP, dan putih-abu bagi SMA. Tidak ada embel-embel lain macam rompi atau dasi nyilang, rok kotak-kotak apalah itu yang pendeknya setengah amit. Tiap jumat harus pakai batik dan sabtu seragamnya Pramuka. Kalau muda-mudi nongkrong atau pergi sekolah, muka mulus polos tanpa make-up.

Lalu di bangku sekolah kita diajak untuk berbangga, karena bangsa yang besar ini masih menjunjung tinggi gotong royong, tenggang rasa, serta toleransi. Sedangkan di barat sana yang begitu maju, masyarakatnya (katanya) individualistis.

Ada masa-masa terserang demam badminton, berjejalan depan TV setiap Harianto Arbi dan pasangan Ricky-Rexy siap beraksi. Mau Olimpiade, Thomas-Uber Cup, All England, tak pernah gigit jari lantaran merah putih selalu berkibar di podium tertinggi.

Semangat juga buat langganan majalah atau tabloid karena itu satu-satunya cara ngepoin bintang idola sambil mengumpulkan bonus poster dan pin-upnya. No infotainment. Kalau mau nonton bioskop harus liat jadwalnya di koran dong, kalau lagi ngga mumet, isi TTS-nya.

Lewat lagu, film, dan buku lawas hati saya bergelinjang, pikiran saya menerawang, luka saya terobati. Saya tersadar bahwa (bagi saya) nostalgia itu adalah sebuah pemberontakan. Berontak pada zaman yang makin keblinger, aset bangsa kok jadi melempem, berontak pada zaman yang lebih banyak memberikan radiasi—baik dalam arti sebenarnya maupun kiasan.

Bernostalgia sama dengan memberontak. Kepada kemahiran zaman yang memberi dunia kesepian. Makin jarang kita lihat tetangga sebelah rumah, saling tegur sapa. Eh, apakah kita kenal mereka? Dan kumpul bersama handai kemudian ngobrol dengan gawai.

Nostalgia itu adalah pemberontakan saya, terhadap laju zaman yang tak lagi memberi romantisme berkehidupan. Karena semua serba mudah. Serba ada; hingga yang tak perlu ada diada-adakan supaya ramai. Saya berontak karena laju kemahiran zaman telah memabukkan manusia. Saya berontak karena semakin maju zaman, semakin sedikit manusia bijak untuk dijadikan panutan. Saya berontak, karena hal-hal sederhana yang justru membuat kita menjadi manusia, tersisihkan.

Nostalgia itu, sungguh sebenarnya, pemberontakan, kawan.

Kepada mereka yang (merasa sudah) hidup senang dalam laju zaman tanpa menoleh kiri-kanan apalagi ingat generasi masa depan.

Iklan