Aku menamaimu Senjana Jingga.

Tahu kenapa?

Karena kecintaanku pada senja, ternyata hinggap padamu juga.

 Tapi seperti senja, kamu hanya berani berdiri di kejauhan saja.

Aku tidak bisa mengantongimu, Senja …

atau kulipat dalam amplop.

Tidak seperti yang dibilang Seno Gumira Ajidarma

Sudah, tak apa …

Namun tentu kamu tahu, bahwa aku adalah penanti senja

paling setia.

(Sudut Sepi, Nopember 2015; Aisya Meinanda)

Iklan