Titanic adalah legenda. Tak hanya sejarahnya, tapi juga filmnya. Mungkin manusia zaman sekarang lebih kenal filmnya daripada kisah nyatanya? Yah, bagaimana pula Jack dan Rose dapat dilupakan? Adegan-adegan romantis mereka tak lekang oleh waktu. Saya yakin, setidaknya 40% orang-orang (terutama Asia) pernah mereka ulang adegan terbang di haluan kapal.

Tragedi kapal mewah milik Britania Raya itu menginspirasi James Cameron untuk membuat film epik yang menyabet 11 piala Academy Awards tahun 1998. Sekedar mengingatkan, Titanic adalah kapal pesiar paling mewah dan canggih pada zamannya hingga mendapat julukan The Unsinkable Ship atau Kapal yang Tak akan Tenggelam. RMS Titanic melakukan pelayaran pertamanya dari Southampton, Inggris, menuju New York, Amerika Serikat, pada tanggal 10 April 1912.

Lima hari kemudian, pelayaran The Unsinkable Ship tersebut harus berakhir. Tepat pada 15 April 1912 dini hari, kapal mewah tersebut menabrak gunung es di Samudera Atlantik. Pada malam yang membekukan itu, lebih dari 1.500 orang meregang nyawa. Hanya 710 penumpang berhasil selamat. Titanic karam ke dasar lautan dingin.

Kembali ke film. James Cameron mengangkat cerita fiksi, kisah kasih Jack dan Rose, dua penumpang berbeda kelas yang saling jatuh cinta di kapal Titanic. Kisah cinta terlarang nan romantis itu tidak berakhir bahagia.

Film Titanic liris tahun 1997, tapi di Indonesia baru meluncur di layar perak sekitar tahun 1998. Saya masih SD waktu itu (kelas 5 kayanya) dan Titanic adalah film 17 tahun ke atas yang tidak boleh saya tonton. Waktu SMP akhirnya saya berhasil nonton dengan menyewa VCD-nya. Dulu tukang rental VCD menjamur di mana-mana, belum masuk era download film gratis apalagi mantengin YouTube. Oops, masih belum 17 tahun juga. Sudahlah.

Saya teringat teteh saya (yang kedua). Sejak nonton film ini, dari mulai Tabloid Fantasi, majalah Gadis, juga Aneka Yess! yang memuat gambar, poster, atau pin-up Leonardo DiCaprio (yang memerankan Jack Dawson) jadi koleksi. Pada dinding kamar kami berdua menempel poster badig (a.k.a badag alias raksasa) bintang serial Growing Pains itu. Stiker wajah sang Romeo juga menempel pada lemari si teteh.

Cerita lain yang saya ingat, begitu wajah Bang Leo muncul pertama kali dalam film Titanic, seluruh anak gadis Hawa dalam studio bioskop menjerit histeris. Saya masih ingat bagaimana ekspresi teteh saya menceritakannya dengan penuh semangat waktu itu. Begitu berbunga-bunga, seakan-akan memang baru saja bertemu dengan jejaka paling tampan sedunia.

Semua gadis waktu itu tak ada yang tak jatuh hati pada paras imutnya. Rambut pirang agak kecokelatan, belah pinggir, poni panjang jatuh di dahi, mata biru, dan senyum nakalnya begitu memabukkan. Saya rasa, Bapak Leo yang baru saja menang Oscar itu, mulai merebut perhatian sejak kemunculannya di film Romeo + Juliet tahun 1996. Makanya Titanic jadi laku keras juga di Indonesia.

Sekarang, anak-anak gadis itu, yang sudah jadi ibu-ibu, setidaknya beranak satu, kembali berjeritan sembari nostalgi terharu-haru. Hore, malam ini Global TV menayangkan ulang Titanic meski dengan sensor juga blur di sana-sini.

 

P.S: Tidak penting, cuma sepotong kesombongan (HWAAAA…DZZIIIG!).

Saya menolak tahu soal Titanic sejak nonton filmnya. Saya lebih dulu membaca tragedi itu dari sebuah buku, judulnya “Lorong Waktu (The Cave of Time)” karya Edward Packard terbitan tahun 1979 punya teteh saya (yang sulung). Buku ini seru, tentang petualangan. Setelah halaman pertama, si pembaca diberi pilihan bagaimana melanjutkan cerita. Biasaya pada akhir kalimat ada pertanyaan apakah akan memilih A atau B, jika pilih A lanjut ke halaman sekian, jika pilih B lanjut ke halaman sekian. Akhirnya sering tak terduga dan pembaca betul-betul merasa sebagai tokoh utama dan berpetualang!

Cave_of_time

Buku-buku jenis begini sekarang masih ada ngga ya? Setelah dari buku Lorong Waktu, majalah Bobo langganan saya juga pernah memuat info soal Titanic.

Iklan