Pagi menjelang siang tapi belum waktunya menjemput si kecil untuk pulang. Pada rongga waktu itu saya isi dengan membaca buku. Setelah terhempas gelombang kehidupan, saya sering kali merasa kosong. Lalu saya menceburkan diri ke dunia baca, terutama karya sastra Indonesia. Ada yang mudah dimaknai, ada pula yang kalimatnya perlu dibaca berulang kali.

Lalu saya duduk di kursi dan membuka buku. Tiba-tiba saya ingin menambahkan suasana. Saya memilah-milih kumpulan lagu dalam iPod. Bosan, hingga saya teringat ada kebiasaan lama yang ingin saya lakukan. Ya, mendengarkan radio. Saya nyalakan radio dan mengarahkan transistornya ke saluran 91.7 FM, namanya INB Radio Bandung.

Dulu tak sengaja menemukan saluran tersebut, menjadikannya station favorit. Ternyata Radio INB ini khusus memutar lagu-lagu lawas. Musik-musik hits mulai tahun 70-an sampai 2000-an awal. Pagi menjelang siang itu, programnya Sweet Memories. Senandung lawas 70-80an mengalun, seperti “Semalam di Malaysia” sampai “Semalam di Cianjur” lanjut lagi ke lagunya Tantowi Yahya yang saya sendiri tak tahu apa judulnya. Enak juga, lagu-lagu zaman Bapak dan Ibu saya pacaran ini.

Sebetulnya agak kurang nyambung karena saat itu saya sedang membaca novel “Balada Si Roy: Rendez-vous & Bad Days” karya Gol A Gong. Cerita serial ini menceritakan soal remaja badung penuh gelisah dan segudang permasalahan hidup, lantas memilih untuk beravonturir (berpetualang) ketimbang serius sekolah. Sebelum terbit jadi novel serial, “Balada Si Roy” lebih dulu dimuat Majalah Hai sekitar tahun 1988 sebagai cerbung atau cerita bersambung.

Ceritanya yang penuh dengan lika-liku serta kenakalan remaja, kemudian petualangan dari kota ke kota di Indonesia, dan pencarian cinta sejati, memang layak dinikmati. Tak heran sewaktu terbit di Majalah Hai, Gol A Gong menerima banyak penggemar yang merasa terwakili kisah hidupnya oleh tokoh bandel Roy. Tetapi banyak pula orang tua yang menyuarakan kekhawatirannya soal kenekatan Roy yang bisa saja ditiru anak-anak mereka.

Yah… meskipun cerita sastra yang dibaca tidak nyambung dengan dayu-dayu lagu lama dari radio, tetap saya merasa nikmat sendiri. Buktinya saya lalu terpikirkan mau menulis soal apa. Daftar panjang saya buat, beberapa adalah cerita avonturir saya sendiri yang belum sempat posting di blog. Baik blog lama, maupun blog baru. Cukup lama saya hilang dari dunia blog yang sudah digeluti sejak tahun 2008.

Senggama sastra dan lagu lama ini melengkapi saya. Kata Bapaknya Aidan Askara (Mas Candra) saya seperti penulis-penulis novel utopia. Selalu memimpikan dunia yang ideal menurutnya dan tidak pernah puas dengan dunia nyata. Mungkin itu sebabnya saya suka sekali bernostalgia. Baper?

Iklan