Sehelai demi sehelai usia berguguran,

tiap hari, tanpa terasa, tanpa salam perpisahan.

Lantas apa?

selain jadi semakin jelas semua;

(Sisa) Detik-detik hampa masih berjajar pada batang kala

dan bertanya perihal kawanan semoga yang belum jadi nyata.

Sedang yang kotor-kotor makin parah berserakan.

Lalu menyeruak lagi tanya: apa masih sempat dibersihkan?

Pada balik semak-semak itu,

derap kaki waktu; memburu-buru.

 

(10 Mei, Aisya Meinanda)

Iklan