“Novel “Bara”, satu lagi catatan yang mendukung saya bercerita pada anak cucu kelak, bahwa pernah ada masa di mana pendaki-pendaki gunung didominasi oleh orang-orang yang hening, tangguh, dan merdeka.” -Jazuli Imam-

Secara kasar, sosok petualang kerap tergambar sebagai manusia tangguh, macho, juga “garang”. Mereka sanggup “bergelandang” ke sana-ke mari tanpa banyak bergantung pada orang dan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Mungkin kalau di FM (Football Manager) score adaptability-nya bisa mencapai 18 – 20. Lantas betulkah para petualang sejati itu golongan orang-orang tangguh? (narasi ala Feni Rose)

Picture: Senjana Jingga
Picture: Senjana Jingga

Identitas Novel

Judul: Bara

Pengarang: Febrialdi R.

Penyunting: Gnuga Regeg

Proof Reader: Jazuli Imam

Penerbit: Djelajah Pustaka (Indie Publishing)

Percetakan: Diandra Creative

Saat menyebut kata petualang, yang tampil dalam benak saya (mungkin juga sebagian benak orang di luar sana) adalah pendaki gunung. Oleh sebab itu tak lengkap dalam sebuah cerita petualangan, tanpa perjalanan ke puncak gunung atau jalan-jalan di hutan. Pun begitu dengan novel “Bara” yang mengisahkan Bara sebagai seorang pendaki gunung sekaligus petualang atau orang yang suka blusukan dari satu daerah ke daerah lain.

 

Ketangguhan seorang petualang sejati tak bisa terbantahkan. Mereka adalah orang-orang yang sanggup berjalan sendiri dan menghadapi setiap resiko dalam perjalanannya. Mereka orang-orang yang memerdekakan raga dan jiwanya. Seperti kata Jazuli Imam, mereka orang-orang yang hening.

Tapi apalah di balik keheningan itu? Ada suara-suara yang bergemuruh dalam hati serta pikiran. Suara-suara yang mengusik lahiriahnya sebagai manusia. Petualang sejati dalam hening dan ketangguhannya, adalah orang-orang sentimentil. Dalam hati dan pikiran mereka terdapat pertanyaan paling hakiki, mengenai eksistensinya bagi dirinya sendiri, manusia lain, alam, dan Tuhannya. Maka dari setiap perjalanan yang dilakoni, petualang sejati akan memetik pelajaran untuk menjadikannya pribadi yang lebih baik bagi kehidupan.

Seperti cerita petualang lain, “Bara” menyuguhkan kerapuhan seorang petualang; bagaimana ia mencoba berdamai dengan setiap peristiwa, berguru pada alam dan kehidupan lain di sekitarnya. Novel “Bara” menghadirkan kalimat-kalimat filosofis lagi putis yang enak buat dijadikan kutipan dan di-update sebagai status di media sosial. Sang pengarang, Febrialdi R., pandai menuliskan dialog-dialog lucu yang memberikan ide (bagi saya) kalau kelak bertemu dan ngobrol sama gebetan.

Awal bab dari kisah perjalanan tokoh Bara, ceritanya langsung menggebrak. Sirene mobil basarnas yang meraung-raung langsung menawarkan sensasi ketegangan. Bara bertugas sebagai relawan SAR yang turut mencari sekelompok pendaki hilang di Gunung Ciremai. Proses pencarian tersebut diwarnai obrolan bagaimana kebodohan pendaki-pendaki dadakan kerap pada akhirnya menyusahkan orang lain. Meskipun begitu, anggota SAR dan para relawannya tetap menganggap hal tersebut sebuah bencana (karena memang iya) dan harus mengedepankan sisi kemanusiaan.

Kemudian alur cerita berbalik, dari masa kini ke masa lalu. Febrialdi R., mulai menceritakan kehidupan Bara sebelum menjadi bagian dari SAR. Pada cerita flash back itu, saya merasa sedang membaca Balada Si Roy karya Gol A Gong. Kemiripannya hampir mendekati 70%, dari situasi, adegan, psikologis tokoh Bara, hingga beberapa kalimat. Bahkan tasnya sama-sama warna biru. Saya yakin bahwa pengarang merupakan penggemar berat serial Balada Si Roy (BSR) yang ngetop di tahun 1980-1990-an dan terbit di majalah HAI.

Apabila Roy yang macho, garang, dan nakal itu mengalami depresi akibat kematian ayah serta anjing kesayangannya, Joe, maka Bara depresi setelah kematian kekasihnya. Namun cerita ini tak hanya sebatas sisi melankolis sang tokoh yang kehilangan gadis dambaannya. Bara adalah representasi dari orang-orang dengan kisah hidup yang keras (kalau boleh saya bilang, sial ngga ketulungan). Ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat meski sempat kalah oleh sisi melankolisnya, hingga ia menjadi pribadi yang… apa ya? Konyol? Mentah? Labil? Ya, seperti itulah. Hey, tapi manusia kan memang begitu? Dinamis dan tidak bisa melulu jadi tokoh yang kuat, kecuali kalau kau nabi.

Dalam membaca novel “Bara” ini saya menghabiskan waktu satu malam. Tautan kalimat dan alur ceritanya cukup mengikat mata dan jari jemari saya untuk kembali membuka halaman demi halaman. Bagi saya, akhir cerita dari kisah Bara cukup tak terduga. Saya belum tamat membaca serial Balada Si Roy, baru mau mulai BSR 4 “Telegram Kapal” dari 5 seri bukunya. Saya belum tahu apa Roy juga mengalami hal yang dialami Bara pada akhir cerita.

Bagi penyuka cerita-cerita petualang, persahabatan, sosok lelaki keras, macho, tangguh, tapi sentimentil, serta imaji cewek-cewek centil yang menggemaskan, harus merapatkan diri membaca novel ini. Bagi penyuka cerita lain, boleh juga coba membaca “Bara” supaya bisa melihat kehidupan dari sudut pandang baru.

Iklan