November, 2013.

Setelah berjalan kaki seharian dari mulai pertigaan Bu Djono (Dieng) menuju Telaga Warna, lalu ke Candi Arjuna, saya dan kawan-kawan (2 laki-laki, 4 perempuan) akhirnya sampai di Telaga Cebong, Desa Sembungan, pada sore hari yang gerimis. Dalam gerimis, kami heboh (baca: riweuh) gotong royong mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri, gerimis berhenti.

Area camp di Telaga Cebong berupa lapangan rumput yang menghadap ke arah telaga. Letaknya sebelah pelataran parkir yang kerap digunakan wisatawan untuk parkir kendaraan ketika hendak “summit attack” ke Sikunir. Pelataran parkirnya cukup luas, di sekitarnya terdapat beberapa warung serta WC umum. Tapi WC umum ini kalau sudah malam dikunci (digembok) jadi tidak bisa digunakan.

Sikunir1

Kami mau masak tapi tidak ada air. Air dari Telaga Cebong tak dapat digunakan untuk masak, apalagi minum. Menurut ibu warung, airnya kotor dan hanya digunakan untuk pengairan ladang saja. Pun dengan air di WC umum. Untuk air bersih, satu-satunya akses bebas adalah mengambil di masjid yang letaknya cukup jauh kalau berjalan kaki.

Sore itu hanya kami satu-satunya kelompok yang kemping di sana. Kemudian seorang mas-mas, penduduk lokal, bermurah hati mau mengambilkan berbotol-botol air untuk kami dari masjid setempat. Selama mas-nya ngambil air, kami menunggu di warung sembari ngopi dan berbincang dengan pemiliknya. Ia terheran-heran kami dari Bandung jauh-jauh kok mau ke desa kecil seperti Dieng, karena (menurutnya) Bandung (seperti diceritakan televisi) lebih banyak yang bagus-bagus untuk dilihat. Wah, Ibu belum tahu saja…

Sikunir3Air datang, akhirnya kami memulai masak-memasak. Seadanya, sepraktisnya, karena mayoritas kawan saya yang ikut belum pernah kemping sebelumnya. Kami cuma masak sarden, nasi, agar-agar jelly, beserta minuman hangat menggunakan trangia —kompor spirtus.

Ternyata kawan-kawan saya yang belum pernah kemping itu tidak rewel. Untungnya memang mereka bukan nona-nona super higienis. Mereka beradaptasi dengan cukup baik. Selepas Maghrib, hujan kembali turun. Kami semua merapat di tenda yang memuat pas-pasan enam orang. Namun dengan begitu, udara menjadi tidak terlalu terasa dingin. Kami main kartu, melawak, dan bercerita. Nostalgia tentu saja, mengingat sudah lama kami tak bersua.

Setelah hujan sedikit reda, masih agak rintik-rintik, kawan-kawan perempuan berniat ganti baju sembari buang air kecil. Kemudian saya giring mereka ke WC umum yang akhirnya kami tahu itu dikunci. Well, warung juga sudah tutup semua. Hanya kami yang ada di sana, suasana juga gelap.

Sebetulnya kalau diingat sekarang, saya juga tidak habis pikir, karena tindakan kami rada sembrono dan beresiko juga. Kami, empat perempuan, ganti baju di teras WC. Saya yang sudah beberapa kali naik gunung, agak kewalahan ketika teman-teman cantik ini mau buang air kecil. Mereka tentu belum terbiasa buang air di semak-semak, terlebih dalam keadaan gelap. Saya harus memastikan lokasi aman dan meyakinkan mereka bahwa itu memang aman. Semua beres, kami kembali ke tenda.

Sikunir5Kami lebih banyak menghabiskan waktu di tenda, hingga entah jam berapa, tapi malam sudah mulai larut. Tiba-tiba ada suara motor. Terdengar ribut-ribut mereka mendirikan tenda dan bolak-balik mencari kayu atau ranting kering untuk membuat api. Dua orang laki-laki yang sepertinya hendak kemping juga. Lantas saya dan kawan-kawan ke luar. Hujan sudah reda sepenuhnya. Kami saling menyapa dengan mas-mas asal Wonosobo itu dan membantu mencari reranting kering. Tapi tak mudah untuk mencarinya di sekitar telaga, hingga akhirnya salah seorang dari mas-mas itu pergi naik motor. Pas pulang dia banyak bawa dedaunan juga ranting-ranting kering.

 

Api unggun berhasil dibuat dengan susah payah. Kami jongkok berkeliling, ngobrol, sambil berbagi minuman hangat, dan camilan. Sampai satu per satu sudah tidak dapat menahan rasa kantuknya dan pergi beristirahat memulihkan tenaga untuk subuh-subuh berburu golden sunrise-nya Sikunir yang mahsyur itu.

Pukul tiga alarm berbunyai. Dua pemuda asal Wonosobo juga mulai memanggil nama kami, membangunkan bahwa sudah saatnya siap-siap summit attack. Tadinya kami berniat untuk summit attack tanpa membawa seluruh barang bawaan. Namun menurut mas-mas itu, karena tempatnya sepi dan demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan (kemalingan) lebih baik semua barang di bawa. Termasuk tenda.

Saat terbangun, satu per satu ke luar dari tenda, menyapa dinginnya dini hari Desa Sembungan. Kawan-kawan yang lain masih mengantuk dan mengeluhkan sakit-sakit badan. Pegal karena kemarin seharian memanggul tas dan berjalan kaki. Saya dan seorang teman yang berpengalaman naik gunung, mulai mengeluarkan barang-barang dari tenda. Setiap orang harus membereskan barangnya masing-masing dan tidak mudah bagi mereka yang belum pernah kemping itu untuk packing. Tenda akhirnya dibereskan gotong royong oleh mas-mas dari Wonosobo, sebab waktu sudah mendekati pukul setengah lima.

Dengan packing acak-acakan, badan pegal, kami mulai mendaki menuju bukit Sikunir. Pada awalnya medan jalan cukup bagus menggunakan paving block. Namun semakin atas, kaki mulai menapaki jalan setapak diantara pohonan serta jurang. Jalurnya melingkar. Kawan-kawan saya yang belum pernah mendaki cukup kewalahan. Tubuh yang pegal harus memikul beban dan jalan menanjak. Bahkan salah satunya melepaskan tas kemudian tiduran di tengah jalur. Dia bilang, tas nya dibuang saja. Gelindingin lagi ke bawah.

IMG-20131111-WA0013

Tentu saja itu tidak dilakukan. Tasnya tersebut akhirnya di bawa oleh satu kawan laki-laki. Mau tidak mau ia harus membawa dua carrier, depan belakang. Ya, carrier, bukan backpack. Berpacu dengan waktu tanpa kondisi fisik yang tak mendukung, kami tentu saja tidak menang. Kami tidak bisa menikmati golden sunrise di puncak bukit Sikunir. Tapi masih beruntung karena melihat goresan keemasan itu di tengah perjalanan. Meski terlambat, kami terus mendaki hingga puncak.

Sampai di puncak, kami bertemu dengan sekelompok pejalan asal Jakarta. Mereka menginap di Dieng dan memarkir kendaraannya di Telaga Cebong. Tapi, tidak ada golden sunrise pagi itu. Garisnya memang terlihat sewaktu di perjalanan tadi, namun tak banyak. Kabut lekas menutupi Sikunir. Sindoro dan Sumbing pun disembunyikan likatnya kabut. Suasana Sikunir saat itu kelabu. Orang Jakarta yang membawa kamera drone pun tidak jadi menerbangkannya. Tak bisa mengabadikan matahari terbit yang disebut-sebut paling indah itu.

Sikunir 4Saking tebalnya kabut, tidak ada satu pun dari pengunjung Sikunir pagi itu yang bisa turun. Terlalu bahaya karena jarak pandang yang pendek. Kami semua merapat, menunggu kabut untuk segera pergi. Untung juga membawa semua perlengkapan ke atas Sikunir, karena pada akhirnya tim saya “membuka warung” gratisan di puncak. Kami masak goreng tahu, sosis, sampai “dagang” kopi.

Udara dingin yang menusuk tulang, dibagi bersama sehingga gigilnya tak terasa. Kami semua sibuk masak, makan, minum, dan ngobrol ngaler-ngidul (tak keruan). Beginilah memang seharusnya menikmati perjalanan. Bertemu orang-orang baru, tanpa merasa asing, berbagi apa saja yang dapat dibagi, dan tertawa dalam kesahajaan. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah dalam pelukan alam.

Begitu kabut mulai menipis, kami semua turun bukit. Sekitar pukul setengah delapan, saya dan kawan-kawan sudah sampai di warung ibu yang sore sebelumnya banyak mengobrol dengan kami. Sambil antri WC, karena ada yang kebelet buang air kecil dan buang air besar, kami memesan camilan. Pedahal sebelumnya juga sudah ngemil di atas Sikunir. Tapi tidak mungkin juga kalau kami cuma numpang duduk dan ngantri WC.

Sang Ibu warung menawarkan rumahnya sebagai tempat singgah kami. Untuk istirahat memulihkan tanaga sejenak, ujarnya. “…atau barangkali kalau ada yang mau mandi boleh. Rumah saya sudah biasa jadi tempat istirahat dari orang yang habis ke Sikunir. Kalian semua kelihatan lelah dan sudah datang kemari dari jauh,” begitu kira-kira ucap ibu itu. “Toh saya juga sudah mau tutup, karena hari ini sepi pengunjung dan ada hajatan.” tambahnya.

Setelah berunding, kami setuju untuk singgah di rumah Ibu warung. Rumahnya tak seberapa jauh memang, masuk ke dalam gang berkelok dan bertangga. Namun fisik yang memang sudah lelah, jadi jarak sebegitu terasa jauh. Rumah ibu warung itu (yang saya lupa nama ibunya siapa) sudah sering jadi tempat persinggahan orang-orang yang suka kemping seperti kami. Ibu tidak menetapkan tarif. Ada yang memberi seikhlasnya dan ada yang tidak bayar juga. Tanpa ditagih, semua atas kesadaran pejalan itu sendiri. Ibu bilang, “ibu suka kasian kalau melihat pejalan jauh seperti kalian”.

Bagi saya dan kawan-kawan, luar biasa ketika ibu itu “menyerahkan” rumahnya kepada kami. Pedahal kami ini masih termasuk orang asing, karena baru kenal beberapa saat. Beliau memberikan kunci rumahnya, sementara pergi ke hajatan untuk bantu-bantu masak. Lokasi hajatannya tak terlalu jauh dari rumah tersebut. Tapi tetap saja, saya terkejut sekaligus angkat topi dengan positive thinking yang ibu itu miliki terhadap kami.

Berkat kebaikan Ibu warung, kami jadi bisa tidur di kasur, melepas lelah, masak mie rebus dan kopi (sisa logistik) di IMG-20131111-WA0002dapurnya, serta melakukan kegiatan pribadi di kamar mandi yang airnya naudzubillah dingin sampai menembus tulang.

Sekitar pukul 11 siang, kami sudah menegmbalikan kunci rumah dan pamit kepada Ibu warung. Kami berjalan sampai gerbang Desa Sembungan dan menunggu tumpangan. Dengan mobil tumpangan (hitch hike), kami sampai pertigaan Bu Djono dan langsung naik elf tujuan Wonosobo. Kami tidak langsung ke terminal, melainkan singgah dulu untuk mengisi perut dengan Mie Ongklok paling enak se-Wonosobo-Dieng.

Sore barulah kami sampai di Terminal Wonosobo dan mendapat tiket bus terakhir menuju Bandung. Tak tahunya, bus itu adalah bus yang kami tumpangi saat pergi ke Wonosobo hari sebelumnya. Supir dan kondekturnya pun sama. Kali ini bus lebih penuh daripada saat pergi dan kerap menaikan penumpang di terminal-terminal kecil. Tidak seperti waktu kami berangkat, sangat jarang bus ini singgah ke terminal-terminal. Sepanjang perjalanan, kami semua lebih banyak tidur saking lelahnya. Saya sendiri tertidur meski tidurnya tidur ayam. Sebentar-sebentar terbangun dan melihat bus sudah jalan sampai mana. Setiap ada penumpang naik dan turun, saya selalu terbangun.

Namun di tengah perjalanan, bus mendapati kerusakan mesin yang membuat tidak kuat menjajal tanjakan. Hingga akhirnya penumpang dialihkan ke bus lain. Pada saat pindah bus itulah kawan saya mulai ribut dan menyadari bahwa kamera DSLR-nya hilang, yang tersisa hanya strap/talinya saja. Semua memori di Dieng itu pun turut raib. Saya merasakan sebuah deja vu. Kehilangan ini harus diakui akibat dari kelalaian si-empunya barang sendiri. Dengan perasaan carut-marut, kami semua tiba di Cicaheum, Bandung, sekitar pukul 4 subuh.

Telaga Cebong

baca juga: Bara: Sesungguhnya Petualang Sejati adalah Orang-Orang Yang “Sentimentil”

Iklan