Sudah dua jam setengah, hujan konser di luar sana. Dari mulai tempo lambat hingga cepat kemudian kembali melambat. Sesekali tetabuhan petir meramaikan harmoni. Tayangan sepakbola antara Persipura vs Persib telah usai dengan kemenangan di pihak Maung Bandung (0-2. Yay!). Rasa geje mulai mengintai hingga akhirnya saya terlibat sebuah percakapan dengan keponakan saya yang baru bangun tidur.

“Hujan-hujan gini enaknya makan apa ya?” tanya saya.

“Nasi goreng.” jawabnya. Saya jadi teringat Nasi goreng padang yang beberapa waktu lalu disajikan di hajatan sepupu. Kebetulan memang istrinya orang minang. Itu merupakan nasi goreng padang paling enak yang pernah saya coba. Semua rempahnya membuat lidah saya orgasme. Sampai saya nambah. Ngga tahu malu emang. Iya, emang, biarin atuh lah.

Namun bayangan nasi goreng padang yang berwarna merah itu buyar saat otak saya menggiring ke sebuah gambar mie. Saya fans fanatik mie. Mie rebus emang enak kalau hujan gini. Makanan berkuah. Gurih, hangat. Ahhh….

“Mending nasi goreng atau mie rebus?” tanya saya lagi.

“Mie goreng.” jawabnya. Anak yang satu itu emang sukanya yang goreng-goreng. Mie goreng, nasi goreng, ayam goreng, bala-bala goreng… Ahhh, mie ghodok mantap nih. Bakmi jawa pas kalau disantap pas hujan. Minumnya teh nasgitel; panas, legit, kuentel. Cukup lama terbayang-bayang mie ghodog dengan kuahnya yang gurih tanpa kecap, aroma anglo, sayur kol-nya yang renyah, suwiran ayamnya, serta telur dan mie yang memanjakan lidah dan perut di kala hujan.

Mie Belitung Atep
Mie Belitung Atep

Dari Jawa, angan-angan saya melayang ke Belitung. Sampai tumbuh rasa kangen saya; Mie Belitung. Sekitar bulan Maret tahun 2012, pertama kalinya saya menyambangi kota timah itu. Begitu mendarat dari Jakarta di Tanjung Pandan, tempat yang langsung dituju adalah pusat kota di mana berdiri warung Mie Belitung Atep. Warung mie itu paling tersohor akan kelezatan mie belitungnya.

Atep sudah menjajakan mie belitung sejak tahun 1973, hingga saat ini (katanya) resepnya tak berubah sama sekali. Sebagai penggemar mie, saya memang langsung jatuh hati. Mie nya kenyal, kuah kental, berpadu manis nan gurih di lidah. Satu porsinya dilengkapi udang-udang berukuran sedang, potongan kentang, mentimun, serta emping. Kalau udara panas, akan semakin mantap dengan pendamping setia es jeruk kunci.

Tidak seperti mie ghodog yang gurihnya cenderung asin, mie belitung ini memiliki sentuhan rasa manis. Wahana baru bagi saya saat itu. Saya bahkan sampai membungkuskan untuk orang-orang rumah. Siapapun yang bertandang ke Belitung tidak akan sampai hati melewatkan makanan yang satu ini.

Penganan lain yang membangkitkan rasa rindu akan Belitung adalah sop gangan. Jujur saya bukan penggemar ikan, apalagi ikan yang di sop. Bau anyir dan bentuk sisik ikan nyaris (hampir) selalu menurunkan nafsu makan saya. Tapi sop gangan pengecualian. Sepengecualian ikan gurame yang digoreng kering sampai menguap gizinya.

Sop Gangan
Sop Gangan

Sop gangan ya ikan yang di sop. Ikan-nya ikan segar dari laut dan saya lupa dulu saya pilih ikan apa untuk dimasak sop gangan. Daging ikannya empuk sekali dan tebal, nyemplung dalam kuah gulai berwarna merah kekuningan. Rasanya bikin ketagihan (ngangenin buat saya yang orang Bandung); ada asamnya, manisnya, pedasnya, dan hangat dari jahe. Mungkin rasa segar asamnya juga didapat dari potongan nanas yang ikut berenang sama si daging ikan yang udah dipotong-potong itu.

Sop gangan saya lahap sebagai makan siang di warung entah apa yang letaknya ada di tepi Pantai Tanjong Tinggi. Tak ketinggalan cumi goreng tepung, kangkung, dan sambal khas Belitung. Sambal khas Belitung juga side dish yang wajib pas makan nasi. Ngomong-ngomong, menurut saya, terasi belitung jauh lebih enak dari Cirebon, apalagi terasi yang ngga jelas di warung.

Ya Tuhan, beneran ngga ada Doraemon? Saya cuma mau pinjam pintu kemana saja-nya itu.

Baca juga: Terang Kabut di Sikunir

Iklan