Kuingat di malam itu

Kau beri daku senyum kedamaian

Mungkinkah akan tinggal kenangan

Jawabnya tertiup di angin lalu

(Melati dari Jayagiri – Bimbo)

30.07.2016

Sedari subuh saya sudah bersiap. Rencana olah-jiwa-raga yang sudah tertangguhkan sejak sebelum bulan puasa itu melambai di pelupuk mata. Saya berdoa, “Semoga hari ini cerah,”.

Saya yang tidak berhasil membangunkan—sebut saja Yati (bukan nama sebenarnya)—dari tidurnya, langsung menuju terminal Ledeng. Tepat di depan sebuah mini market Terminal Ledeng, partner manis saya sudah menunggu bersama dua teman wanitanya yang belum saya kenal. Sapa-menyapa dan perkenalan berlangsung singkat. Takut hari keburu siang, kami langsung naik angkot jurusan Lembang dan turun di Pasar Lembang.

Saya dan juga dua teman yang baru kenalan itu belum pernah main ke Jayagiri. Langkah kaki ini bergantung pada memori yang sudah tipis-tipis terkikis dari si partner manis. Berjalanlah kami memasuki area pemukiman. Pada ujung jalan masuk pemukiman itu terdapat plang bertuliskan “Taman Junghun” dan “Taman Lintas Alam Jayagiri” serta beberapa mamang ojeg.

Jayagiri bukan nama yang asing. Sejak kecil, kata Jayagiri sudah akrab mengetuki gendang telinga saya. Bapak, Mama, maupun teteh-teteh saya gemar menyanyikan “Melati dari Jayagiri” melalui VCD karaoke di rumah. Lagu tersebut dipopulerkan oleh trio Bimbo (1971). Lirik dan melodinya diciptakan oleh Abah Iwan Abdurachman tahun 1968. Lagu romantis yang kerap diinterpretasikan sebagai pertemuan dua insan di Hutan Jayagiri. Meski Abah Iwan sendiri mengatakan bahwa lagu itu murni tentang alam Jayagiri.

Pada masa itu cerita-cerita yang saya dengar tentang Jayagiri hanya melulu soal kemistisannya serta kabut yang membekukan. Akhirnya belasan tahun kemudian saya bersama tiga kawan melangkahkan kaki ke sana.

Ya, pada akhirnya pula rencana olah-jiwa-raga ke Jayagiri ini terwujud juga. Sebelumnya selalu berhasil digagalkan oleh hujan rapat yang bahkan menyulitkan untuk ke luar rumah. “Semoga terus cerah,” doa saya dalam hati.

Dari masuk pemukiman warga sampai ke gerbang hutan, perjalanan hanya lurus-lurus saja. Menanjak. Hingga lahan padat hunian mulai lengang dan sampailah terlihat WC umum serta pos tiket Taman Lintas Alam Jayagiri. Beberapa kendaraan motor dan mobil terparkir rapi dekat gerbang.

Kami harus membayar tiket sebesar Rp. 7.500 untuk menikmati sensasi hiking di tengah Hutan Jayagiri. Pada puncak bukitnya, pengunjung diperbolehkan untuk camping. Namun jika hendak bermalam, harga tiket masuknya berbeda yaitu sebesar Rp. 15.000.

Setelah melewati gerbang, kaki-kaki pejalan langsung disuguhi medan menanjak. Kanan-kiri semak dengan pepohonan tinggi. Trek dengan tanah cokelat kemerahan terasa licin. Akan bertambah licin juga berlumpur jika hujan turun hari itu.

Medan panjang menanjak itu cukup memompa jantung dan menjegal nafas. Kami semua berjalan santai, tak terburu waktu, dan selalu menyempatkan (baca: sering) istirahat untuk mengatur ritme nafas.

Rupanya Jayagiri ini terbagi dua jalur. Ada jalur tengah hutan yang rimbun, luas, dan nyaman. Sedangkan kami berjalan di jalur tepi yang sepertinya jalur air; hingga sangat terasa licin, berlubang, dan terlihat pipa panjang menjulur terus ke bawah menerobos tanah. Jejak motor trail juga terlihat pada jalur tersebut. Saya dan kawan-kawan lantas menerobos semak di sebelah kanan dan berpindah ke jalur pendakian yang lebih nyaman.

P_20160730_100646_BF

Belum setengah perjalanan, cerahnya langit mulai meredup. Tirai kabut mulai naik sedikit demi sedikit dan meneteskan airnya. Untungnya hujan kabut tidak berlangsung lama dan tak diikuti hujan deras. Hingga rasa was-was pun redam dengan sendirinya.

Pada awal jalur pendakian ini tidak begitu membingungkan. Jalur setapak cukup jelas dan bisa terus diikuti hingga sampai lapang luas di mana terletak dua gubuk warung serta tiga cabang jalan yang boleh dipilih pejalan.

Pada point tersebut, partner saya yang manis, sudah lupa ke mana arah harus di tempuh. Beruntung pada pohon terdapat marka yang menunjukkan arah. Ada jalur menuju Tangkuban Parahu, Perkebunan Teh Sukawana, dan satu jalur lagi entah menuju ke mana. Kami berempat memilih jalur menuju Tangkuban Parahu dan memutuskan untuk sekalian mengunjungi gunung melegenda itu.

IMG-20160731-WA0008

Saat itu ternyata juga sedang ada rombongan organisasi PMR dari salah satu SMK yang tengah melaksanakan Diklatsar. Tak ragu kami bertanya untuk memastikan jalan yang kami tempuh adalah benar.

Hiking di Jayagiri memang cukup membingungkan bagi yang baru pertama ke sana. Banyak sekali ditemui cabang-cabang dan persimpangan. Jalan-jalan setapak pendakian sedikit terkaburkan oleh bukaan jalur motor trail. Saya pribadi termasuk orang yang sangat merasa terusik dengan masuknya crosser-corsser atau pehobi off-road ke dalam hutan.

IMG-20160731-WA0010

Kendaraan mereka tak hanya merusak jalan hingga jadi bolong dengan lubang yang dalam, tapi membuat pejalan seperti saya jadi bingung menentukan arah. Belum lagi kalau berpapasan, raungan knalpot mereka merusak suasana damai. Merusak harmoni dedaunan yang bergesek oleh angin serta cuitan burung. Kalau saja punya keberanian lebih, ingin rasanya saya luapkan emosi dengan menendang mereka sampai terjatuh atau kalau punya kekuatan telekinetik, mengendalikan laju motornya.

Sebelum puncak Jayagiri atau area kemping, tepat di bawahnya terletak sebuah warung dan pos air. Dari tempat tersebut terlihat jalur melingkar nanjak, menuju tempat pendirian tenda. Sedangkan ke arah kanan dari warung adalah “jalan motong” menuju Tangkuban Parahu.

Banyaknya jalan bercabang dari jejak motor cross, tidak adanya marka petunjuk, serta penjelasan yang gagal kami pahami dari si akang PMR membuat perjalanan sedikit tersendat. Beberapa kali kami bolak-balik dan meneliti jalur sebelum akhirnya berhasil mencapai jalan besar yang sudah di cor. Ke arah bawah menuju Cikole, sedangkan ke atas menuju Tangkuban Parahu.

IMG-20160731-WA0001

Dari jalan besar tersebut menuju Tangkuban Parahu, kami kembali memasuki hutan dengan jalan beraspal yang sudah rusak. Jalan tersebut akan menuntun pejalan sampai di gerbang (pelataran parkir bus) Tangkuban Parahu. Untuk mencapai kawah, kami kembali memilih jalur Jungle Trekking daripada harus meniti jalan besar yang banyak kendaraan bermotor lalu-lalang.

P_20160730_125642_BF

Setelah mengakrabkan diri dengan Jayagiri, dengan segala kondisinya serta kharismanya, saya jadi lebih paham tentang filosofi yang dituangkan oleh Abah Iwan pada lirik “Melati dari Jayagiri”.

Sejak lama hutan (khususnya Jayagiri) selalu mendekap hangat para pengunjungnya. Tempat bagi mereka yang mencari kejujuran dan kedamaian dengan berkasih-kasih bersama semesta alam. Tetapi dengan mencuatnya segala bentuk keegoisan manusia, mungkinkah akan jadi kenangan? Jawabnya tertiup angin lalu……….

 

baca juga: Hujan yang Menumbuhkan Rindu Akan Mie Belitung dan Sop Gangan

Iklan