Pagi itu sudah tidak terlalu pagi. Saya memacu motor melawan matahari yang menyorot muka. Sepanjang jalan memicingkan mata sampai-sampai otot wajah terasa pegal. Terutama bagian dahi dan pipi. Yah, semoga saja jadi stretching supaya awet muda, bukan menghasilkan kerutan tua.

Pagi itu memang sudah tidak terlalu pagi bagi sebuah rumah sakit. Pagi yang sekaligus kali pertama saya membuat jejak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bandung. Facade bangunannya tak jauh lebih baik dari kantor kecamatan Gedebage. Parkirnya, yah, kacau balau.

Tidak. Tidak ada mesin tiket parkir, lahannya pun padedet. Parkir motor menganut paham angkot, geser-geser tujuh lima, dedat-dedet, malang-melintang, saling menghalangi. Saya juga bingung mau parkir motor di mana. Mobil, sudah jelas tidak kebagian tempat. Silahkan cari lokasi lain di luar rumah sakit. Entah, bagaimana caranya ambulans bisa keluar-masuk dari rimba itu.

Ah, semprul betul ini tempat parkir! Jangan bayangkan ada parkir basement yang nyaman di sana. Saya pun malangkeun motor sangeunahna, serupa motor-motor lain.

Sembari menelepon, menanyakan posisi ibu saya, mata ini jelalatan ke sekitar. Ada yang garuk-garuk kepala, celingak-celinguk, melambaikan tangan, berteriak memanggil tukang parkir karena motornya susah ke luar. Ada yang antri di poliklinik, ada yang baru datang dan belum sempat parkir sudah jatuh pingsan di pelataran.

Tak lama, wanita kesayangan saya datang juga. Ia berjalan kaki dan saya bayangkan betapa tubuhnya yang sudah lansia itu menahan nyeri di pinggul serta kakinya. Saya tak bertanya perihal di mana bapak, karena saya sudah dapat menerka bahwa bapak pasti sedang bingung mutar-muter cari parkir mobil. Akhirnya blio parkir di basement Mutiara Kitchen Ujung Berung. Jaraknya cukup jauh, jadi saya harus menjemput naik motor ke Komplek Yonzipur (Batalyon Zeni Tempur).

Rumah sakit milik Pemkot Bandung ini memang tak serupa rumah sakit lain. Meskipun lahan parkirnya ajaib, tempat ini tidak bau karbol. Peralatan serta tenaga medisnya (katanya) sudah cukup mumpuni, dan harganya tak terlalu mencekik karena ramah BPJS. Tak heran jika rumah sakit tersebut diserbu pasien-pasien dari kelas menengah ke bawah. Mereka datang tak hanya dari kota Bandung, tapi sekitarnya juga; Majalaya, Cicalengka, Garut, Tasikmalaya, dst., dst.

Ah, bapuk betul RSUD ini! begitu kata hati saya saat memasuki lobi utamanya. Sumpek oleh antrian poliklinik dan apotek. Langit-langit serta dindingnya berjamur dan mengelupas di beberapa tempat. Lorong-lorongnya masih sempit dengan kayu-kayu tua melintang di atas kepala. Mungkin kalau rumah sakit konsumsi rakyat memang harus mencerminkan jelatanya.

Duduk di ruang tunggu operasi, saya menggenggam sekotak teh kemasan, jaga-jaga kalau ibu keleyengan lagi gara-gara glukosa yang suka drop tiba-tiba. Lucu juga, pikir saya. Bahwa ibu menunggui adiknya dioperasi sembari ia pun tengah menahan nyeri yang cenat-cenut tiada henti.

Pada waktu tunggu itu, telinga saya buka lebar-lebar, menguping berbagai obrolan orang-orang tak dikenal. “[…] Bapak sudah lama diabetes, betisnya sampai bengkak. Kata dokter harus diamputasi,” ujar seorang ibu yang tak sesenggukan tapi matanya berkaca-kaca.

Ada juga yang mengobrol ringan perihal office boy yang kemudian diangkat jadi PNS dan bekerja di bagian peralatan rumah sakit. Kemudian ada yang mengeluhkan soal antrian lama, waktu operasi yang lama, ribetnya ngurus BPJS, sampai obrolan seputar RSUD yang sudah tak layak.

RSUD Kota Bandung awalnya merupakan Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DPT). Tempat itu kini dinilai sudah tak layak, tak mampu lagi menampung pasien yang membludak. Pemerintah kota Bandung tengah melakukan usaha pembebasan lahan di kawasan Bandung Timur untuk relokasi RSUD, tapi rumor yang terdengar adalah terbentur calo tanah.

Calo tanah yang katanya (rumor) lagi adalah seorang dewan kota itu, hanya mau melepas dengan nilai 7 juta per meter persegi. Sedangkan pemerintah kota hanya mau membeli dengan harga 3 juta per meter persegi. Ah, gila betul! untuk rumah sakit daerah saja masih sebegitunya, batin saya.

Tetapi tiada yang tak gila di negeri ini. “Kegilaan” sudah menjadi romantika kehidupan nusantara. Kalau rumor itu betul, semoga pihak yang salah cepat diluruskan hatinya. Kalau tidak betul, yah, semoga ikhtiar pembangunan RSUD Kota Bandung yang lebih layak bisa segera terealisasi. Jika sudah pindah ke lokasi baru, bangunan RSUD yang lama ini wacananya akan dijadikan antara poliklinik kejiwaan atau pusat rehabilitasi narkoba.

Telinga saya kemudian menangkap topik menarik lain, yaitu soal tukang lotek yang sudah dua kali menjanda. Dengan segala kemolekan tubuh dan keayuan parasnya, ia tetap digilai para jejaka. Hingga sang janda digosipkan memiliki susuk awet muda. Entah berapa usianya.

Ya.. ya.., ini tahun 2016 dengan segala kecanggihan teknologi. Mungkin dia rajin facial atau botox. Ya… ya… janda ini cuma tukang lotek. Botox hanya milik wanita-wanita sosialita di luar sana. Tetapi facial dan luluran ‘kan bisa saja. Cuma, kalau jejaka maunya sama janda, lantas yang perawan sama siapa? Kalau begitu, mari kita cari Datuk Maringgih. Obrolan apa ini… macam di tivi-tivi.

Bisik-bisik tetangga menjadi buyar saat ibu menyenggol lengan dan minta teh manis. Artinya kepalanya sudah mulai keleyengan dan butuh asupan glukosa.

Iklan