Kamu tahu, aku lebih suka tahu daripada tempe. Maksudku, aku suka tempe, tentu saja, tapi tidak seperti aku memuja tahu. Begitu tahu ada di menu, tentu akan aku pilih sebagai lauk makanku. Kalau tempe, belum tentu.

Tahu pun harus tahu Bandung. Cibuntu terutama. Aromanya gurih, warnanya kuning cantik. Saat digoreng kering, kulitnya berubah warna kecokelatan; eksotis dan renyah. Tetapi tekstur dalamnya tetap lembut. Melted. Gurih. Pendamping sempurna untuk sepiring nasi panas yang baru tanak. Pernikahan antara nasi panas pulen dan tahu Cibuntu goreng itu akan semakin semarak dengan kecap manis yang diberi irisan bawang merah serta cengek alias cabe rawit.

Namun ketika kamu membawaku pertama kali ke kota apel enam tahun lalu, aku merasa jatuh cinta pada tempe. Tempe Malang. Ingatkah kamu, tempe yang memulihkan tenaga kita setelah menempuh hampir 24 jam berkereta dari Bandung ke Malang? Tempe lah yang membuat kita menyiuk nasi berulang kali dari bakulnya, tempe Malang lah yang kita rindukan saat turun dari Semeru.

Rasa tempe malang memang lain. Bahkan jika dibandingkan dengan Bandung yang juga terkenal dengan oleh-oleh keripik tempe. Rasa tempenya jauh. Entah apa yang membedakannya, aku tak mengerti betul cara membuat tempe.

Bisa jadi dari kualitas kacang kedelainya, kualitas air, proses fermentasi, atau kualitas tetesan keringat dan daki yang murudul dari kaki si pembuat tempe saat menginjak-injak demi mengupas kulit kacang. Hasilnya, tempe Malang itu jauh lebih gurih dari tempe Bandung. Tak terlalu keras, tak terlalu benyek. Empuk. Hampir sama dengan tahu Cibuntu favoritku, hanya minus aroma kunyit.

Pagi itu sehabis kita lelah dengan perjalanan kereta, tempe Malang tersaji panas bersama aneka lauk pauk lainnya. Siap menjadi sumber kekuatan untuk kita mendaki rute 17 kilometer yang serba indah. Saat itulah aku langsung jatuh cinta pada gigitan pertama.

Sore pada perjalanan pulang di atas truk sapi, lelah menggelayuti, dan kita masih harus tabah saat gerimis begitu jahil menguji emosi. Hanya kepul dari tempe Malang yang kita bayangkan, akan sempurna jika kita kawinkan dengan nasi pecel ayam di Pasar Tumpang nanti.

Setiap ada kawan atau famili yang mengunjungi Malang, tak pernah lupa aku nitip tempe. Mau tempe mentah atau tempe keripik, tak masalah. Pada akhirnya aku temukan rasa tempe yang sesuai selera.

Aku jadi ingin makan tempe Malang, tapi akankah rasanya senikmat saat aku menyantapnya bersamamu? Saat aku mengunyah sembari memerhatikan matamu yang bergelinjang menikmati tempe di Malang waktu lalu? Kamu selalu lebih suka tempe. Apalagi kalau ditambah sayur asem, ikan asin, dan sambal tomat.

Duh, Gusti, wangi nasi yang baru tanak menyeruak dari arah dapur. Senja yang mendung ini akan menjadi syahdu, andai ada tempe Malang dan kamu.

 

 

baca juga: Bisik-bisik Tetangga di RSUD Kota Bandung

Iklan