Hingga dewasa saya tak pernah tahu saya ini

sebenarnya anak siapa. Sejak lahir saya diasuh

dan dibesarkan Ibu tanpa kehadiran seorang ayah.

Ibu pernah mengaku bahwa dulu ia

memang suka kencan dengan para lelaki,

tapi tak bisa memastikan benih lelaki mana

yang tercetak di rahimnya, lalu terbit menjadi saya.

 

Ibu tak pernah menyebut dirinya perempuan jalang

dan bagi anak seperti saya yang mengalami

kelembutan cinta seorang ibu soal itu toh

tidak penting-penting amat. Ketika seorang penyair

iseng bertanya apakah saya ini buah cinta sejati

atau cinta birahi, hasil hubungan terang atau gelap,

saya menganggap dia bukanlah penyair cerdas.

Justru Ibu yang bukan penyair pernah bertanya,

“Kau, penyairku, apakah kau tahu pasti asal-usul

benih yang tumbuh dalam kata-katamu?”

 

Sudah ada beberapa lelaki misterius

yang mengaku-aku sebagai ayah saya.

Masing-masing menyatakan cintanya yang tulus

kepada wanita yang melahirkan saya dan mereka

juga merasa bangga terhadap saya.

 

Sayang, saya tak butuh pahlawan kesiangan.

Lagi pula, saya lebih suka membiarkan diri saya

tetap menjadi milik rahasia.

 

Kini ibu saya yang cerdas terbaring sakit.

Tubuhnya makin hari makin lemah.

Dalam sakitnya ia sering minta dibacakan

sajak-sajak saya dan kadang ia mendengarkannya

dengan mata berkaca-kaca. Beberapa saat

sebelum beliau wafat, saya sempat lancang

bertanya, “Bu, saya ini sebenarnya anak siapa?”

Saya bayangkan Ibu yang penyayang itu akan

hancur hatinya. Tapi, sambil mengusap kepala saya,

ia menjawab hangat, “Anak seorang perempuan!”

(Joko Pinurbo; 2002)

 

Saya selalu merasakan sensasi berbeda ketika membaca sajak-sajak milik Joko Pinurbo atau yang akrab dipanggil Jokpin. Penyair yang lahir di Pelabuhanratu pada tanggal dan bulan yang sama seperti Ibu saya itu, yakni 11 Mei, kerap menggunakan diksi-diksi sederhana. Terkadang saat membaca sajaknya, saya yang awam ini seperti tak ubahnya membaca sebuah cerpen.

Kebetulan saya baru selesai membaca novel Kabut Kota karya Ichsan Saif (kilas baliknya kelak akan saya tulis), kemudian tak sengaja membaca sajak karya Joko Pinurbo berjudul Anak Seorang Perempuan. Situasinya cukup mirip, hanya dalam hal kasih sayang ibu yang berbeda.

Bagi saya, sajak Joko Pinurbo di atas itu adalah satu dari sekian karya tulis yang menyinggung soal kekuatan, keagungan, keunggulan, ketangguhan, seorang ibu. Entah apa kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya.

Pada sajak Anak Seorang Perempuan, tokoh ‘saya’ menceritakan tentang kisah hidupnya. Ia terlahir dari rahim seorang wanita (tentu saja) tanpa tahu siapa ayahnya. Hal tersebut tergambar jelas dari dua larik pertama:

Hingga dewasa saya tak pernah tahu saya ini

sebenarnya anak siapa. […].

Ibu dari tokoh ‘saya’ tersebut cukup memiliki keberanian untuk memberitahu anaknya bahwa dia bersenggama dengan banyak pria sehingga tak tahu si-‘saya’ itu anak dari pria yang mana.

Ibu pernah mengaku bahwa dulu ia

memang suka kencan dengan para lelaki,

tapi tak bisa memastikan benih lelaki mana

yang tercetak di rahimnya, lalu terbit menjadi saya.

Meskipun begitu Ibu tetap memiliki kekuatan untuk membesarkan anaknya dan menghujaninya dengan kasih sayang. Dengan begitu tokoh ‘saya’ tak mempermasalahkan apakah ia anak dari seorang pelacur atau bukan, apakah ia punya ayah atau tidak.

Tetapi setabah apapun seorang anak, semenerima apapun ia atas keadaan hidup dan ibunya, anak tetap anak yang akan terus mencari asal-usulnya. Tokoh ‘saya’ yang juga merupakan seorang penyair (larik 28-29) mempertanyakan akarnya. Hal tersebut tertuang pada larik 11 – 13:

[…]. Ketika seorang penyair

iseng bertanya apakah saya ini buah cinta sejati

atau cinta birahi, hasil hubungan terang atau gelap,

[…]

dan larik 31 -32:

[…], saya sempat lancang

bertanya, “Bu, saya ini sebenarnya anak siapa?”

[…]

Setelah mengajukan pertanyaan tersebut, tokoh ‘saya’ pada sajak Anak Seorang Perempuan merasakan sesal (larik 14 dan 33-34). Tergambar suasana hati yang pedih dan bimbang di sana, antara rasa ingin tahu serta ketakutan akan menyakiti hati ibu yang sangat menyayangi dan disayanginya itu. Dengan segala kekuatan, kegagahan, dan ketenangan yang datangnya gaib, entah darimana itu, Ibu selalu pandai menjawab tanya anaknya.

Larik 11-17:

[…]. Ketika seorang penyair

iseng bertanya apakah saya ini buah cinta sejati

atau cinta birahi, hasil hubungan terang atau gelap,

saya menganggap dia bukanlah penyair cerdas.

Justru Ibu yang bukan penyair pernah bertanya,

“Kau, penyairku, apakah kau tahu pasti asal-usul

benih yang tumbuh dalam kata-katamu?”

dan larik 30-35

[…]. Beberapa saat

sebelum beliau wafat, saya sempat lancang

bertanya, “Bu, saya ini sebenarnya anak siapa?”

Saya bayangkan Ibu yang penyayang itu akan

hancur hatinya. Tapi, sambil mengusap kepala saya,

ia menjawab hangat, “Anak seorang perempuan!”

Saat membaca puisi Jokpin Anak Seorang Perempuan, saya merasa merinding dan haru tersendiri. Saya seorang yang menerimakan bahwa perempuan memang bisa sangat jalang dan kesucian bukanlah suatu harga mati. Saat perempuan, baik jalang atau tidak, kemudian (dengan matang) memutuskan untuk menjadi seorang ibu, maka terbitlah kharismanya itu. Seperti saya bilang, seorang ibu selalu memiliki ketabahan, kekuatan, keagungan yang datangnya gaib, meski dalam kondisi paling rapuh sekalipun.

 

baca juga: Aku Rindu Tempe Malang dan …

Iklan