Dulu waktu saya baru lahir hingga tamat SMA, saat sawah-sawah masih mengelilingi komplek rumah, hening adalah keluarga. Begitu manusia semakin mendesak, ketika kebutuhan papan dan nafsu mereka tak bisa ditolak, hening pergi tanpa jejak.

Sekarang suara lalu-lalang di depan rumah bukan lagi cirihilan anak ABG, bukan pula suara gesek sendal pada aspal, atau kayuhan sepeda yang rantainya sudah harus diolesi oli. Deru knalpot menerjang sepanjang hari, mau nyebrang ke warung depan harus tengok kanan-kiri, komplek ini bukan lagi milik warganya sendiri.

Hal yang bisa menenggelamkan suara-suara bising itu, cuma diskusi ngalor-ngidul dengan teman melalui gawai masa kini. Sihir teknologi yang sulit dimengerti. Bagaimana sebuah terobosan yang disebut kecanggihan komunikasi, bisa membuat kita punya ruang baru sendiri. Lebih tepatnya ruang isolasi.

Lelah, kemudian saya berpindah ke laptop. Kepala dan mata bagian kiri masih nyut-nyut-an sedari pagi. Saya coba memicingkan mata, berharap menerima hanya sedikit radiasi dari monitor yang menyala. Lewat fasilitas e-banking saya mengintip umur; saldo belum memberi lampu merah, tapi indikasi segera menyala lampu kuning itu ada.

Setelah melenguh sekejap, ke luar jendela saya menatap. Ada yang ajaib; hening kemabali. Dia pulang! meski untuk sesaat. Ketika jeda dari kebisingan tiba, telinga saya seperti kaki yang diselonjorkan. Saya menangkap bunyi-bunyi dari ocehan ibu yang belanja di warung, suara anak kecil yang minta jajan, siulan burung gereja hingga kicauan tekukur milik tetangga.

Jeda di Senin sore, meski hanya sesaat, sebelum mobil sedan hijau itu lewat, membuat hati ini bersorak ‘hore’. Seperti koma juga titik pada kalimat, hidup memang perlu jeda.

Iklan