PROLOG

Awal Mei 2015.

Pada waktu itu tersebutlah empat Trijata yang ingin bernostalgia. Setelah sekian lama tak jumpa dan jenuh dengan kungkungan Argasoka, sejenak mereka ingin mengembara. Tidak jauh, sesuaikan saja dengan kemampuan usia.

Cukup lama vakum, keempat Trijata masa kini itu, yang dulu kali pertama paamprok di sebuah Rumah Hijau, akhirnya mewujudkan kerinduan terhadap kegiatan kemping dan hiking. Saling melancarkan kerinduan terhadap sesama, karena dalam mendaki yang terpenting adalah kebersamaan. Tentu saja. Dengan kondisi fisik yang kendor dan usia yang sudah (rada) melampaui angka 20, maka bijaklah mereka memilih Gunung Prau. Setelah banyak mengumpulkan informasi maka terpilih pula jalur yang paling bisa diajak jalan santai, yaitu via Dieng Wetan.

Sudahlah, penggunaan nama Trijata terlalu agung untuk tulisan temeh macam ini. Maka baiknya kita tanggalkan saja. Jadi sore itu sebelum berangkat, keempat perempuan eks. Rumah Hijau, berkumpul di satu titik. Mereka berbagi beban makanan; termasuk menyiapkan ayam ungkep yang akan jadi menu utama saat gelar tenda nanti. Setelah memastikan semua peralatan dan perbekalan masuk ke dalam tas serta tak ada yang tertinggal, maka berangkatlah wanita-wanita itu menuju Terminal Cicaheum.

BANDUNG – DIENG

www.senjanaavonturir.wordpress.com

Bus menuju Wonosobo baru berangkat pukul 18.30 dan tiba di Terminal Mendolo pukul 05.00. Subuh itu di terminal kecil kota Wonosobo sudah sangat ramai. Maraknya pendaki kini (ada yang menuju Sindoro, Sumbing, juga Prau) membuat sopir mini bus (mobil elf) menjemput bola. Para sopir dan kernetnya itu sudah tahu ke mana tujuan para wisatawan. Sewaktu olahraga pendakian masih sepi peminat, pejalan biasanya harus berjalan kaki cukup jauh, dari terminal ke tempat mangkal atau lewatnya si mini bus. Atau bahkan numpang mobil bak yang mengangkut sayuran. Sekarang syukurlah sudah lebih mudah.

“Ke mana, Mas? Ke mana, Mbak? Prau? Sindoro-Sumbing? Ayo, langsung sampai basecamp.” begitu tawar mereka pada para pelancong yang baru turun dari bus. Keempat perempuan, yang seperti Trijata; cantik, baik, murah hati, pemberani, dan jatmika, itu akhirnya naik elf menuju Dieng. Sebetulnya elf tersebut sudah dicarter rombongan lain, tapi masih ada kursi tersisa hingga tak masalah.

Elf yang biasa mengangkut warga lokal dari pasar menuju Dieng ataupun sebaliknya ini beralih fungsi jadi angkutan wisatawan. Penduduk yang menunggu di pinggir jalan dan mengacungkan tangannya tak diangkut lantaran elf sudah penuh. Adapun yang terangkut, mereka —warga lokal itu— merasa asing sendiri. Wajahnya menyiratkan ekspresi seorang tamu.

Perjalanan yang memanjakan dengan pemandangan persawahan, bukit, serta angin dingin, ternyata tak mampu menahan rasa kantuk dari keempat pejalan wanita kita. Mereka lelap dalam lelahnya perjalanan Bandung – Dieng. Mereka terbangunkan oleh suara kernet menyentak, bahwa pendaki Gunung Prau turun di Patak Banteng.

Patak Banteng merupakan jalur paling populer. Jaraknya begitu dekat dengan camp area Gunung Prau yang keindahannya sudah tersebar luas di media sosial (medsos). Waktu normal dalam menempuh jalur tersebut sekitar 2 jam. Namun pendaki harus siap dengan medan sempit nan terjal yang kemiringannya bisa mencapai 45 derajat (atau mungkin lebih, entah). Artis Eva Celia yang pernah menjajal jalur ini menyebutnya, “Patak Banteng jauh di mata, sakit di kaki.”. But, that’s the art of hiking, my friend

Keempat wanita —mari kita namai saja mereka Mawar, Melati, Kenanga, dan Kecombrang— sudah mempertimbangkan segala kondisi hingga lebih memilih jalur Dieng Wetan. Sampai di basecamp Dieng, berita bagus datang dari langit yang cerah.

Basecamp pendakian Dieng Wetan terletak tepat di sebelah home stay dan rumah makan Bu Djono yang mahsyur itu. Setelah mendaftar, mengambil peta, dan mendapat informasi bahwa tersedia air di pos 1, mereka beristirahat sejenak di warung Bu Djono.

Sarapan pagi itu hanya mie rebus dan tempe kemul yang… aduhai mamamia rasanya. Renyah, gurih, dengan aroma ketumbar dan bawang daun yang cukup kentara. Kenikmatan tempe kemul merasuki Mawar, Melati, Kenanga, dan Kecombrang. Mereka pun memesan nasi + tempe kemul sebagai bekal makan siang.

GUNUNG PRAU

www.senjanaavonturir.wordpress.com

Jalan nanjak menuju Prau sudah dimulai sedari basecamp Dieng, berbelok ke SMPN 2 Kejajar, lalu menyusuri kebun-kebun milik warga. Pagi itu, sekitar pukul delapan lebih sedikit, nampak petani sibuk mengurusi ladangnya. Ada yang baru selesai nyébor, ada yang sedang ngarit, ada yang memberi obat anti hama, dan kegiatan pertanian lainnya. Indra penciuman digelitik aroma pupuk kandang yang menyeruak dari tanah-tanah subur. Tanah-tanah yang mengerami kentang serta aneka sayur mayur.

Mawar, Melati, Kenanga dan Kecombrang mampir sejenak di pos 1. Tujuan utamanya tak hanya melemaskan pundak, tapi juga mengambil air. Namun setelah mutar-muter pos satu dan memeriksa pipa, ternyata tak ada satu tetes pun air. Tidak seperti yang dikatakan penjaga basecamp. Pos 1 adalah satu-satunya tempat yang katanya tersedia air. Mau tak mau keempat kawan itu harus menghemat 5 liter air yang mereka punya sampai turun lagi esok hari.

Dalam menempuh jalur Dieng Wetan, waktu normalnya adalah 4 jam. Pada beberapa titik, pendaki akan bertemu tanjakan panjang dan cukup terjal. Tetapi juga akan disuguhi medan landai sebagai bonus. Jalurnya yang cukup lebar mengakomodir bagi pendaki yang ingin istirahat sejenak dan tak menghalangi jalan bagi pendaki lain. Ya… lebih bervariasi jika dibandingkan dengan Patak Banteng, hanya saja jarak tempuhnya lebih jauh.

Kabar gembira yang datang dari langit itu sirna begitu Mawar, Melati, Kenanga, dan Kecombrang melewati Pos 2. Pada jalan setapak di tengah hutan tersebut, kabut mulai turun merayapi pepohonan. Suasana sekitar menjadi mistis sekaligus romantis. Macam gambar pada film vampir yang heboh itu. Sepanjang perjalanan hanya mereka berempat saja dan sangat jarang bertemu dengan pendaki lain. Seperti semua pendaki Gunung Prau yang ada di Terminal Mendolo subuh tadi, berhulu di Patak Banteng.

“Bakal hujan ini. Bakal hujan,” ujar Melati sepanjang jalan. Setiap pelaku perjalanan di tengah alam liar seperti ini, memanglah harus siap sedia terhadap setiap kemungkinan. Negara tropis adalah negeri dengan cuaca paling tak menentu. Hujan itu sebuah kemungkinan sekaligus kepastian. Tapi tak ada salahnya juga memohonkan sesuatu yang baik. Hope for the best but prepare for the worst.

Gerimis kemudian menitik begitu memasuki pos 3. Setitik, setitik, menggelitik kesabaran dan menggoda pikiran. Apakah akan segera hujan? atau apakah pejalan akan sampai area camp duluan? Sudah pukul 12 siang saat sampai di pos pemancar/repiter. Dengan pertimbangan cuaca, Mawar bilang ngeri kalau istirahat di pos pemancar. Ngeri kalau petir menyambar.

Turun dari pos pemancar, membentang savana luas dengan bukit-bukit yang turun-unggah. Nampak perjalanan masih jauh. Keempatnya sepakat untuk istirahat dan makan siang sejenak di bawah langit mendung. Eh, belum sempat mengeluarkan nasi + tempe kemul andalan, penguasa semesta menurunkan hujan. Hujan yang mengguyur-guyur, dengan sesekali suara jelegur. Masing-masing langsung sibuk dengan jas hujannya. Pada padang terbuka seperti itu akan sangat berbahaya. Tak hanya kedinginan dan basah kuyup, resiko tersambar petir adalah kemungkinan yang tak tertutup.

Tidak tersedia banyak pilihan, Mawar yang pengalaman daki-mendakinya lebih mumpuni, menggiring pasukan manisnya itu kembali ke pos pemancar. Meskipun repiter juga mengerikan, tapi setidaknya di sana terdapat pos yang bisa digunakan untuk berteduh. Sisanya, pasrahkan saja.

Waktu menunggui hujan di teras pos pemancar, mereka duduk saling rapat. Bukan sengaja, karena tempatnya memang sempit. Masing-masing mungkin berdoa dalam hatinya agar hujan segera henti atau jangan sampai disambar geledek. Hujan turun cukup lama dan menurunkan suhu sekitar. Mungkin sejam, atau sejam setengah, bisa juga dua jam. Entah, keempatnya tak hitung-menghitung. Mereka sibuk menyalakan api semangat dengan candaan khas manusia sunda yang cageur bageur. Ah ya, dan tentu saja sibuk makan nasi+tempe kemul Bu Djono yang aduhai mamamia. Pasukan tak kenal gentar disuapi sang jendral, yakni si Mawar yang tak lagi bertubuh sintal.

Hujan tak pernah reda, di sela intensitasnya yang menurun para wanita yang sedang nostalgia itu melanjutkan perjalanan. Medan basah adalah tantangan tambahan. Tanah menjadi berlumpur dan licin, lantas bukan lagi peristiwa tak senonoh ketika bokong mereka dipaksa mencium bumi. Kondisi serba basah di badan pun menambah beban, hingga menghambat laju jalan.

Pada peta tergambar jarak antara pos pemancar tak begitu jauh dari area kemping. Sebuah area yang cukup luas dan langsung menghadap ke pemandangan Sindoro-Sumbing-Slamet yang agung. Setelah pos pemancar, pendaki via Dieng Wetan akan melalui puncak Gunung Prau terlebih dulu. Kemudian turun, lantas melewati Savana landai dan barulah sampai di area perkempingan.

Sisa perjalanan adalah melewati padang savana yang landai. Kabut masih menghadang pandang. Sulit melihat jarak di depan, apakah ada atau tidak lagi ada tanjakan. Mawar, Melati, Kenanga, dan Kecombrang mulai bertemu pendaki lain yang juga kehujanan. Sebagian dari mereka berbagi pengalaman sakitnya kaki merayap via Patak Banteng. Awalnya mereka jalan beriringan, namun likatnya kabut dan bulir air yang membasahi pelupuk mata menjadi pemisah. Kwartet wanita itu kembali berjalan sendirian.

Suasana mulai sepi diantara keempatnya. Sebuah kondisi yang menyatakan bahwa energi mereka semakin tipis. Rintik hujan masih belum usai menguji kesabaran para pendaki Gunung Prau di hari itu. Hari pun sepertinya sudah tak lagi bisa dibilang siang.

“Nang, coba kau lihat di depan itu masih nampak jauh tidak?” tanya Kecombrang pada Kenanga yang berjalan paling depan. Kenanga hanya seklias mengangkat tatapan mata dari tanah ke pemandangan di hadapannya. Kelabu.

“Sepertinya jauh,” jawab Kenanga sembari menghentikan jalannya. “rombongan yang di depan kita tadi sudah tak terlihat. Kabut terlalu pekat. Ini kaki sudah semakin liat. Jujur saja, mentalku sudah tidak kuat.” sambungnya. Air muka Kenanga sudah kuyup tak hanya oleh hujan tapi juga rasa lelah yang mendera. Pun dengan Kecombrang, Melati, dan Mawar.

“Mawar, apa tak sebaiknya kita kemping di sini?” tanya Kecombrang. “Tapi tak ada tenda pendaki lain. Mungkin cuma kita sendiri.”

“Hari juga sudah semakin sore.” Melati yang paling senior menambah pertimbangan.

“Ya sudah, kita bermalam. Tapi tidak di sini, terlalu tepi. Kalau ada badai, tenda kita bisa menggelinding ke jurang ditendangnya.” jawab Mawar.

KEMPING

www.senjanaavonturir.wordpress.com

Mereka berempat kembali berjalan hingga menemukan tempat yang cukup layak untuk mendirikan tenda. Lahan yang luas dan datar dengan beberapa pohonan di sekitarnya.

“Aku dan Kecombrang akan mendirikan tenda. Kalian berdua, Melati dan Kenanga, siapkan makanan.” kata Mawar membagi tugas. Tak lama tenda sudah siap ditempati. Sembari berteduh karena gerimis masih menemani sore itu, mereka memasak dalam tenda, sedangkan kompor parafin sengaja diletakan di muka pintu untuk menghindari hal-hal yang berbahaya.

Susu dan cokelat panas adalah yang pertama disajikan, agar energi dan kehangatan tubuh lekas kembali. Kemudian menggoreng ayam yang sudah diungkep. Ayam ungkep yang membeku akibat cuaca dingin. Tak lupa dengan sosis juga. Hujan perlahan mereda, menyisakan kabut yang sepertinya betah berlama-lama.

Obrolan dalam balutan suasana masak-memasak itu sampai pada pertanyaan apakah besok bisa menikmati matahari terbit atau tidak. Gunung Prau digaungkan menjadi tempat (baru) paling indah untuk melihat sunrise khas dataran tinggi Dieng. Bukit teletubies, Gunung Sindoro, Sumbing, dan Selamet adalah paket pemandangan alam yang ditawarkannya.

Popularitas Gunung Prau yang meroket di era medsos sekarang, seakan menguburkan kemahsyuran bukit Sikunir. Bukit di Desa Sembungan, Dieng, yang selama ini disebut-sebut sebagai spot terbaik untuk menikmati golden sunrise setelah Bromo.

“Aku tak perduli dengan sunrise. Besok aku mau tidur, penat sekali rasanya badan ini.” ujar Kenanga.

“Ya, saya juga.” Melati mengamini.

“Aku masih penasaran. Kalau tak berkabut besok pagi, aku akan pergi ke area camp untuk menyaksikan apa yang selama ini kerap diumbar orang-orang.” kata Kecombrang.

Semakin sore, makin banyak pendaki yang datang dan melewati tenda tim Mawar. Ada yang menyapa meski sekedar basa-basi “permisi”, ada yang mengakrabi, banyak pula yang ngeloyor pergi tanpa tengok kanan-kiri.

“Area camp masih jauh ya, Mba? Penuh di sana?”

“Masih,” jawaban yang sok tahu. “tadi banyak pendaki yang jalan ke sana, sepertinya sekarang sudah penuh sekali.” perwakilan tim Mawar mencoba menjelaskan lebih lanjut. “Kemping di sini saja, Mas.” Tim Mawar ini sudah seperti marketing properti, demi para pendaki menemani tenda mereka yang sepi. Cukup berhasil, beberapa ada yang akhirnya memutuskan untuk mendirikan tenda di situ juga. Ada pula yang sudah mencoba melihat ke area camp dan kembali lagi. Mungkin sudah terlampau padat.

“Permisi…” pendaki lain lewat.

“Iya, mas…” jawab Mawar.

“Loh, mba-mba semua toh? Berapa orang?”

“Iya, Mas. Berempat.”

“Mba-nya dari mana? Sengaja camp di sini?”

“Dari Bandung. Di sana penuh, Mas.”

“Ooo… ya sudah, hati-hati di sini ya, Mba.”

“Ya, Mas, terima kasih.” kemudian pendaki itu pergi bersama kelompoknya ke arah area camp. Hujan sudah reda, kabut mulai menipis. Obrolan kembali mengudara perihal kalau malam ini cerah, besok pagi Mawar dan pasukannya bisa menengok matahari terbit. Melati dan Kenanga masih tetap dalam keputusan mereka untuk tidur.

Begitu malam jatuh, kompor parafin kembali menyala. Kali ini tim Mawar memasak sayur sop; buncis, kentang, dan wortel. Sengaja mereka menyimpan mie instan untuk besok siang. Tak banyak pula membawanya, karena lebih memilih bekal sayuran, ayam ungkep, dendeng, sosis, serta bahan-bahan untuk membuat perkedel (bakwan) jagung.

Mawar dan Melati mulai memperdebatkan apakah sop ini akan menggunakan MSG atau tidak. Wajarlah, karena yang satu penggemar MSG dan yang satunya alergi MSG. Kalah suara, Melati harus rela sop itu dimasak dengan bumbu instan yang tentu kandungan msg-nya banyak. Meski sudah malam, masih banyak pendaki yang baru sampai. Hilir mudik mencari tempat istirahat di tengah keramaian Prau.

“Wah wangi apa ini?” terdengar suara-suara sekelompok pendaki lewat. “Permisi… oh, ternyata tenda ini yang sedang masak pop mie!”

“Bukan, Mas, ini sayur sop.” bantah tim Mawar.

“Oh ya? wanginya seperti pop mie.”

“Mampir, Mas. Coba dulu, sopnya masih hangat.”

“Nah, tawaran ini yang ditunggu-tunggu!” ujar sekelompok pendaki yang terdiri dari kaum adam dan hawa itu. Mereka yang berasal dari Jogja mampir sejenak dan bergiliran mencoba sop masakan tim Mawar.

“Oh betul, ternyata sayur sop. Sop rasa pop mie! Enak dan hangat.” Ya, begitulah malam di tengah pendaki. Lelah dan udara dingin dapat terusir dengan keakraban dan sepanci sop rasa pop mie.

Nyatanya hujan reda tak lama. Saat semua orang mulai terlelap dalam tenda dan hangatnya kantung tidur, badai mulai mendera. Terdengar angin yang menampar-nampar dedaunan dan bunyi derasnya hujan dengan tanah bertubrukan. Beberapa kali petir berkilatan. Tim Mawar mulai tak bisa tidur ketika frame tenda mulai terasa bergetaran.

“Mawar, di luar badai.” Kenanga membuka suara.

“Iya,” Melati dan Kecombrang menimpali.

“Mawar, bangun. Badai!”

“Iya, lantas mau bagaimana? Sudah tidur saja.” jawab Mawar tenang dari balik kantung tidur yang menutupi setengah wajahnya.

“Nah, Com. Kau masih mau menengok sunrise besok pagi?” celetuk Melati. Sial, desis Kecombrang dalam hati.

Dingin sudah tak dapat dihindari seiring hujan dan angin yang semakin mengamuk. Air mulai menetes dari atap tenda dan rembes bagian pinggirannya. Semua awak Mawar terbangun mencoba membereskan barang-barang dan memasukannya ke dalam plastik dan tas agar tak terlampau basah. Tak ada yang dapat dilakukan selain berdoa, berbaring, mencoba tidur, dan membiarkan badai reda dengan sendirinya.

Entah jam berapa, tapi sepertinya sudah sampai tengah malam. Hujan masih mengguyur di luar. Hening pecah oleh suara-suara pendaki baru datang. Mereka memanggil-manggil kawannya, Mas Agus namanya, yang terpisah dari rombongan sepertinya.

“Tadi di depan kamu kan?”

“Tidak tahu. Kabut pekat, hingga tak terlihat.”

“Kita cari barangkali dia sudah sampai duluan di area camp. Kawan yang lain coba cari di belakang, barangkali dia tertinggal. Mas Agus, di mana…?!”

Tim Mawar belum bisa tertidur lelap. Masing-masing bertanya dalam gelap. Hanya desir angin pada kerikil yang menjawab.

SELAMAT PAGI, PRAU

www.senjanajingga.wordpress.com

Pagi tiba berselimut kabut. Kaki injak rumput, alamak dinginya! Namun hati tiada dapat menuntut. Kala fajar urung menampakkan sinarnya.

“Masih mau kau menengok matahari terbit?” tanya Kenanga.

“Ya,” jawab Kecombrang. “Hey, Mawar. Kau mau ikut tidak?” tawarnya.

“Ayo! Sekalian masih penasaran seberapa jauh lagi area camp itu.” jawab Mawar.

“Hey, jangan lupa masak nasi sama perkedel jagung.” ujar Kecombrang.

“Beres.” jawab Kenanga.

Mawar dan Kecombrang menyapa dingin di luar. Mereka pergi meninggalkan dua temannya yang masih ingin tidur. Samar-samar terlihat dua tenda di dekat tenda tim mawar. Kabut masih menghalangi pandangan. Sudah hampir dipastikan bahwa pagi itu matahari takkan datang.

Keduanya berjalan menelusuri jalan setapak yang menembusi semak-semak. Kanan-kiri mereka, di atas rerumputan, tisu-tisu berserak. Bisa jadi bekas pendaki-pendaki jorok yang kencing ataupun berak. Sampah-sampah tanda semakin dekat dengan kehidupan manusia.

Tak seberapa jauh ternyata area camp itu. Mungkin jaraknya hanya 500 meter kalau ditarik garis lurus dari tempat tim Mawar mendirikan tenda. Sebuah savana luas dan berbukit-bukit serta pemandangan serupa perkampungan. Tenda berjejalan. Sesak mendesak-desak. Mungkin sedang ada acara jambore?

Suasana gunung yang biasanya begitu sahaja dan syahdu, kini begitu riuh. Tak sekedar ramai suara obrolan, tapi ada juga tawa yang membahana, teriakan-teriakan lepas menggema, juga aneka pesta-pora; misalnya menantang dingin dengan bertelanjang dada.

Ada yang membuat video, ada yang sibuk berfoto (sembari membawa kertas-kertas aneka tulisan). Pendakian berlatar semangat medsos sukses menjelma sebuah euforia yang wah. Sebagian pendaki (terutama yang konservatif) terserang culture shock akibat invasi generasi teknologi. Mereka ini biasanya orang-orang yang datang ke gunung untuk menikmati sepi, menempa diri, dan mengagumi keintiman alam dengan Illahi.

Setelah menunggu beberapa lama, Mawar dan Kecombrang memutuskan kembali ke tenda. Tak mereka dapati kabut menyingkapkan tirainya dari Sindoro dan Sumbing. Pemandangan hanya warna hijau dan putih. Tak terlihat keramaian lain yang janggal, barangkali Mas Agus sudah ditemukan.

“Lapar… lapar…” ujar Mawar begitu mendekati tenda. Beberapa barang seperti kantung tidur sudah rapih. Rupa-rupanya Melati dan Kenanga siap berkemas untuk pulang.

“Bagaimana, ada tampak matahari terbit, Com?” goda Kenanga.

“Ah, zonk!” jawab Kecombrang. Semua lekas tertawa.

“Tapi area camp ternyata tidak begitu jauh. Tapi beruntung pula kita tidak mendirikan tenda di sana. Penuh sesak dan kotor.” kata Mawar.

Lantas Melati dan Kenanga menyuguhkan satu panci nasi jagung. Dalam artian nasi yang dicampur jagung dan ditemani dendeng. Terang saja Mawar dan Kecombrang bingung. “Katanya mau masak perkedel jagung?”

“Iya, tapi sudah dicari-cari tepung terigunya tak ada.” jawab Kenanga.

“Hah? Waktu sebelum berangkat sudah beli, ‘kan?” tanya Kecombrang.

“Sudah. Sudah masuk ke dalam plastik makanan, masuk dalam tas. Kan sudah dicek tidak ada yang tertinggal? Tapi pagi ini terigunya hilang. Raib.” jawab Melati.

“Ya, sudah. Kita makan saja yang ada.” ujar Mawar.

Sembari makan seadanya, Mawar dan Kecombrang bercerita tentang area camp. Bagaiaman ramainya pendakian dan begitu cerianya di sana meski tidak ada matahari menyapa. Tak mau kalah, Melati dan Kecombrang ikut mengurai cerita pagi mereka.

“Kalian ingat kemarin sore, ada pendaki yang mewanti-wanti kita untuk hati-hati?” tanya Kenanga. Mawar dan Kecombrang mengangguk. “Nah, tadi pagi waktu aku dan Melati tak tahan mau buang air kecil, kami mencari tempat di dekat pohon itu,” ia menunjuk dengan matanya, pada pohon yang cukup rimbun daunnya dan tak jauh dari tenda. “rupa-rupanya ada dua gundukan tanah di sana.”

“Makam?” tanya Kecombrang.

“Sepertinya,” jawab Melati.

“Mungkin karena itu pula pendaki itu mewanti-wanti kita. Mungkin dia sudah sering ke mari. Jadi semalam itu kita tidur bertetangga dengan….” tambah Kenanga.

“Kalau begitu, ayo kita berkemas dan lekas pulang.” potong Mawar yang segera disambut dengan aksi bébérés oleh pasukannya. Setelah menimbang-nimbang, tim Mawar kembali turun via Dieng Wetan. Setelah badai semalaman, diperkirakan jalur Patak Banteng sangat licin. Jalur Dieng Wetan pun sama, berlumpur dan licin. Namun setidaknya lebih banyak area istirahat.

EPILOG

www.senjanaavonturir.wordpress.com

Setibanya di basecamp Dieng, semua anggota tim Mawar sudah tidak mangrupa penampakannya. Wajah lelah, kusam, kucel, dan sepatu dekil berlumpur. Mereka menyempatkan untuk bersih-bersih di WC Umum Candi Arjuna dan kemudian membeli sendal jepit.

Tim Mawar tidak langsung pulang. Mereka berkeliling komplek candi dan bertemu dengan kawan sekampus dari Kenanga. Dengan menggunakan mobil teman itu, mereka juga menyempatkan jalan-jalan ke Kawah Sikidang dan menumpang sampai Terminal Mendolo.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tim Mawar tiba di terminal kemalaman. Akibatnya mereka ketinggalan bus. Tak ada bus malam yang berangkat dari Wonosobo ke Bandung. Keempat wanita itu memutuskan untuk menginap di mushola terminal.

Atas pertimbangan keamanan karena keempatnya adalah wanita, seorang pengelola mempersilahkan mereka untuk menginap di dalam kantor penjualan tiket Budiman. Setelah memastikan tak ada lagi urusan dengan toilet, kelompok kecil itu “dikunci” dalam kantor sampai esok pagi.

Esoknya Mawar, Melati, Kenanga, dan Kecombrang bersiap untuk pulang menggunakan bus pertama. Dari Terminal Mendolo nampak anggun Gunung Sumbing. Senyum Mawar dan kawan-kawan pun tersungging. Prau pasti cerah pagi itu.

www.senjanaavonturir.wordpress.com

Iklan