Aku mendengar puja-puji itu menggema di segala penjuru. Maknanya merambat ke kehampaan galaksi, sedang suaranya memantul-mantul di bumi. Aku tak pernah bisa membaca waktu. Hanya warna langit, suara pisau yang diasah, dan lantunan puja-puji itu yang menjadi acuan waktuku.

Suara puja-puji seperti malam ini adalah isyarat yang Tuhan beri kepada domba dan sapi seperti kami. Bahwa waktu kami akan segera usai. Bahwa tugas kami “menafkahi” manusia sudah selesai. Semua yang hidup pasti akan mati. Mau yang hewani, nabati, atau yang mengaku-aku manusiawi. Ya, karena memang itulah tujuan hidup paling hakiki. Mati, lalu menjemput kehidupan yang lebih murni. Mati adalah kepastian yang tak pasti. Esok hari entah siapa dulu yang akan dijemput mati. Yang pasti jantung kami akan berhenti.

Beberapa temanku ada yang sudah mulai resah mengibaskan ekor, ada yang tengah merencanakan taktik kabur, ada pula yang enjoy saja memamah biak sampai meneteskan air liur. Salah satunya aku. Aku juga memiliki perasaan resah, tentu saja. Namun aku tak mau buang-buang energi dengan taktik kabur macam itu. Seberapa rapinya rencana yang disusun, kami cuma sapi. Tanduk kami kecil, tenaga kami dapat ditaklukan lima orang manusia, akal-akalan kami bahkan tak bisa disejajarkan dengan satu cucu adam pun. Aku mencoba tenang. Berusaha. Ah, lagi pula untuk apa memperpanjang hidup? Tak lelah kau dengan hidup?

Aku percayakan rasa sakitku pada si penyembelih. Semoga pisaunya tajam sehingga aku tak perlu berlama-lama merasakan perih. Semoga dia orang yang soleh, hingga doa-doanya dapat mengebalkan rasa takutku. Semoga yang mengorbankanku ikhlas hatinya. Aku percayakan pada mereka, keturunan Adam dan Hawa terpilih, untuk memanfaatkan segala yang ada dalam tubuh ini dengan sebaik-baiknya. Bagikan pada orang-orang yang memang membutuhkan. Aku amanahkan, aku percayakan.

Besok hidupku akan selesai. Aku akan menyambut kematian setelah menuntaskan tugasku sebagai makhluk yang bermanfaat. Entah kemana aku akan pergi selanjutnya, tapi yang aku tahu, aku akan kembali di penghujung hari dan menjadi salah satu saksi. Saksi penting, tolong catat. Ha ha ha…

Puja-puji terus menggema di seluruh penjuru. Begitu syahdu.

 

terinspirasi oleh Bung Candra

Iklan