Wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan.”

Begitu kiranya ucap Jean Marais dalam novel Bumi Manusia yang dituliskan Pramoedya Ananta Toer. Ucapan tersebut tentu bukan tanpa alasan. Wanita selalu ingin tampil cantik, bahkan dituntut untuk selalu cantik. Tak mengherankan kalau kosmetik perempuan aduhai harganya, juga perawatan-perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan bagi sebagian wanita, mengikuti trend fesyen dan kecantikan itu wajib. Pedahal cantik itu relatif ukurannya. Ha.

Pikiran harus tampil cantik tak hanya terjadi pada wanita masa kini. Kau pikir, bagaimana seorang pemuda tampan usia 20an macam Sukarno jatuh cinta pada wanita berusia lebih dari selusin di atasnya, seperti Inggit? Sukarno bahkan jatuh cinta pada pandangan pertama dalam cahaya lampu kamar yang temaram pula. Bagaimana bisa begitu, jikalau bukan karena usaha gigih Inggit mempertahankan kecantikannya. Dia bahkan seorang pengusaha jamu, bedak, dan lulur. Inggit meracik dan memasarkan sendiri produk kecantikan, saking banyaknya kaum perempuan disekitarnya yang menginginkan wajah memesona awet muda serupa Inggit.

Penuaan atau menjadi tua adalah proses alami yang jelas tidak dapat dihindari. Tapi perempuan akan mengusahakan kecantikannya sekalipun dia sudah tua. Hanya tiga yang membuatnya menyerah, yakni ketiadaan icis alias hepeng atau uang, minimnya hasrat bersolek, dan mati muda. Dalam hati, wanita selalu resah pada bergulirnya waktu. Kenapa begitu? Yah, sebetulnya mereka sudah merasa sangat senang ketika dipuji “kamu pintar,” tapi tetap kurang komplit kalau belum mendengar pujian “kamu cantik”. Apalagi kalau usia sudah tua dan masih dibilang cantik.

Kebanyakan wanita akan histeris begitu melihat lemak menumpuk pada lengan, perut, paha, serta pinggulnya. Resah ketika muncul kerutan di sudut matanya, ada bintik hitam pada pipinya, dan rambutnya yang memutih. Nah soal ketuaan, rambut putih ini yang kerap bikin geger.

Ibu saya usianya sudah mendekati enam puluh lima tahun. Setiap malam sebelum tidur, ia tidak pernah alpa merawat wajahnya. Dengan berbagai piranti kecantikan. Kalau ada uang lebih, pasti menyempatkan ke salon untuk sekedar creambath, dipijat, facial, sampai luluran. Sehabis sholat subuh bahkan sebelum pergi ngantor —ya, beliau belum pensiun— selalu menyempatkan senam, yoga, atau gowes sepeda statis.  Oh, hanya satu yang membuat ibu saya tidak rewel, yaitu ubannya.

Sudah saya tuliskan soal ketuaan, si rambut putih kerap bikin geger. Rambut yang memutih tak jarang menjadi tolak ukur bahwa seseorang sudah menua, meski usianya tidak tua-tua amat. Setahun lalu pernah ada sebuah survei yang dilakukan oleh para ahli kecantikan. Hasilnya adalah lebih dari 70% wanita menganggap pria beruban itu seksi.

Wanita melihat, uban pada pria memberikan kesan sophisticated, kematangan, dan kekuatan. Survei tersebut kemudian berdampak pada meningkatnya penjualan produk cat rambut berwarna abu, perak, dan putih, lalu menjadi gaya di kalangan pria muda Inggris. Well, no wonder, karena yang dicontohkan pun wajah-wajah seperti George Clooney, Pierce Brosnan, dan Daniel Craig. Hmm… Maryl Streep di film The Devil Wears Prada juga seksi dengan rambut putihnya, menurut saya. Tapi belum ada survey bagaimana wanita beruban di mata pria.

Berbanding terbalik memang. Wanita kalau melihat uban pada rambutnya pasti greget. Lalu buru-buru mencabutnya atau menggunakan semir rambut dari mulai sekelas Top Lady sampai L’oreal. Sebegitu ngerinya wanita pada ketuaan. Atau takut merasa tak cantik kalau tua. Untungnya ibu saya tidak pernah ribut soal rambutnya yang memutih dan tak pernah terdengar keinginan kalau blio ingin ngecat rambut.

Saya pernah punya adik kelas di SMA dulu, rambutnya sudah beruban hingga memeberikan kesan lebih matang. Saat itu tentu saya terkejut, bagaimana pula masih muda kok ubanan? Karena normalnya uban tumbuh pada wanita berusia tiga puluh tiga tahun ke atas. Ada banyak faktor munculnya uban lebih dini, seperti keturunan genetik (yang ini sudah tidak bisa diganggu-gugat), gaya hidup tidak sehat, gangguan ginjal, sampai stress yang pokoknya menyebabkan melanin tidak memproduksi pigmen pada rambut.

Adik kelas saya itu tidak mengecat rambutnya, baik dengan warna hitam maupun warna lain. Uban-uban itu tumbuh subur di kepalanya, berselang-seling dengan rambut berwarna hitam. Dia tetap melangkah penuh percaya diri, saya tidak tahu apa dalam hatinya ada gemuruh tentang uban itu. Saya masih ingat wajahnya, dia sangat manis. Entah di mana dia sekarang, apa masih dengan rambut putihnya atau sudah berubah.

Dalam tujuh hari terakhir, setidaknya saya mendapati empat helai rambut putih disela-sela rimbunnya hitam kepala saya. Ini bukan kali pertama. Mulai munculnya rambut-rambut putih sudah terjadi sejak dua/tiga tahun lalu. Kakak saya biasanya suka gemes ingin mencabuti uban-uban itu. Sesekali saya izinkan, tapi seringnya tidak. Saya bukan tipe pesolek, jadi tak ada keinginan pula untuk menyemir rambut.

Lama saya menatap uban-uban melalui cermin. Usia belum menginjak tiga puluh. Saya tidak ingin jauh berpikir apakah saya stress atau gaya hidup tak sehat selama ini atau ada penyakit lain yang menghambat melanin dalam menghasilkan pigmen. Saya tak ingin gentar beranjak tua. Saya ingin menghayati perubahan warna pada rambut. Malam itu hati saya tiba-tiba berbisik, “apa yang lebih seksi dari rambut yang memutih? Apa yang lebih romantis dari mendekati kematian?”

Iklan