Awan mendung menyelimuti kotaku. Hujan besar diikuti angin topan dan petir yang menyambar–nyambar. Aku menghirup udara basah itu dalam–dalam, kubiarkan jendela terbuka lebar sehingga wangi hujan memenuhi ruang tengah.

Hujan sore ini bagiku seperti air di tengah gurun luas, sungguh harta karun yang tak terkira. Udara kota belakangan ini memang sungguh tidak bersahabat, ibarat aku adalah kue yang sedang di panggang dalam oven. Tiada hari tanpa air es, kipas angin, bahkan tidak ada selimut saat tidur dan hanya tubuh telanjang telentang di atas kasur dipan tua yang ditutupi kelambu putih.

Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam dan sudah tidak hujan lagi. Aku menalikan sepatu lariku dan sudah siap mengenakan sweater serta celana training panjang. Aku menyematkan earphone ke telinga, lalu pergi keluar. Sekali lagi aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan sembari memulai peregangan sebelum berangkat jogging.

Lari malam hari salah satu hal yang terindah yang dapat aku lakukan. Kenapa? Lari pagi merupakan hal mustahil bagiku, karena paling pagi aku bangun adalah jam sepuluh. Lari sore juga tidak mungkin, karena jalanan terlalu padat merayap dan bising bunyi klakson dari kendaraan bermotor. Belum lagi asap knalpotnya.

Aku menikmati berlari malam di bawah sinar remang lampu kota, menikmati tiap tatapan mata manusia di jalanan yang tertuju padaku, menikmati berlari sambil sesekali menatap langit gelap. Ya, hanya gelap, karena langit kini jarang berbintang. Sekali malam ada bintang, maka aku dapat menghitungnya dengan jemariku.

Lari malam paling indah adalah saat bulan purnama, sinarnya yang benderang seperti berkata kalau di sepanjang kegelapan akan ada satu cahaya. Bahwa malam tidak akan terus gelap, pada saatnya ia akan terang. Terang yang menenangkan, terang yang memberi damai hati, terang yang merasuk sukma, terang yang terang. Membuat kita semangat untuk tidak berhenti berharap dan bermimpi, semangat yang akan menyelamatkan kita nanti adalah semangat percaya pada mimpi. Huh, cliché.

Aku berlari dan terus berlari dengan kecepatan yang konsisten. Malam ini lariku sungguh indah, meski langit tak berbintang dan hanya ada bulan sabit, namun bunyi sepatu menghentak tanah basah, menginjak air hujan yang tergenang, sungguh sangat merdu. Menambah merdu lagu “Kirana – Dewa 19” yang mengalun di telingaku. Ini lagu adalah laguku sepanjang masa. Lagu yang menenangkan jiwa yang resah. Malam–malamku terisi dengan berlari. Entah berapa lama atau seberapa jauh aku berlari, yang jelas aku baru berhenti ketika kakiku ingin berhenti.

Aku melewati banyak slide kehidupan saat aku berlari. Saat aku berlari, segala sesuatu di sekitarku bergerak lebih pelan, aku seperti penonton yang sedang melihat gambar–gambar realita. Aku melihat alam yang sudah tak terjaga dan manusia–manusia penggerak roda nasib yang tak menjaganya.

Ada manusia perlente naik mobil mewah yang mungkin kelaparan. Dia makan fastfood lalu sampahnya melayang keluar melewati jendela mobil mewahnya. Sampah itu tergeletak di jalanan dan sesekali terbang rendah tertiup angin malam. Lantas aku bertanya dalam benak, ‘mobil semewah itu tidak punya tong sampah? Seberapa akan merusaknya sampah sekecil itu jika di simpan dalam mobil sejenak, lalu sesampainya di rumah di buang ke tong sampah?’ Bandingkan jika sampah sekecil itu di buang begitu saja ke jalanan, jelas akan mengakibatkan kerusakan yang sangat besar. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran yang ingin dibilang elit itu. Mobilnya sih mewah, tapi buang sampah masih sembarangan.

Aku mendengar bunyi sirene yang memekakkan telinga. Aku pikir ada kebakaran atau korban kecelakaan atau apa itu hal yang sangat penting menyangkut nyawa seseorang, dan ternyata hanya mobil pejabat beserta iring–iringannya. Dia lewat dan dengan seenaknya menyuruh paksa pengguna jalan lain menyingkir untuk memberi jalan bagi dia yang “terhormat”. Aku sih pesimis dan meyakini dalam otak para petinggi negara itu 70% isinya tentang uang untuk ia makan sendiri dan 30% lagi maksiat. Mana sempat mereka memikirkan rakyat yang terlunta–lunta? Telinga sebelah kananku seperti ada yang membisiki. Katanya,

“Mungkin dia memang sedang buru-buru. Ada rapat.”

“Rapat di kamar? Lah, setiap rapat dia tidur, ‘kok!” bantah suara dari telinga kiriku.

Tetapi dalam hidup juga selalu ada sisi baiknya. Seperti seorang bapak yang baru pulang kantor naik taksi, raut wajahnya sangat lelah dan lapar, namun setelah seharian banting tulang demi menghidupi keluarganya, tak dinyana ia masih mau berbagi rezeki pada pengemis yang menengadahkan tangannya. Bapak itu membuka jendela taksi yang ia tumpangi lalu memberikan uang plus senyum keikhlasan pada pengemis itu, walaupun kemungkinan besar si pengemis itu hanya pura–pura cacat agar di kasihani, tetapi si Bapak tak ambil pusing soal itu karena ia hanya ingin membantu sesama didasari hati tulus.

Para pelajar di perempatan jalan juga ingin membantu sesama yang sedang tertimpa musibah longsor di musim hujan ini. Mereka menggalang dana dengan menjual kue-kue pada kendaraan yang berhenti saat lampu merah. Niat mereka mulia, tak dapat dipungkiri. Mereka adalah gambar dua sisi kehidupan. Mereka juga turut menggerakkan roda nasib kehidupan. Hidup ini akan terus berputar hingga saatnya nanti saat Sang Pemilik menginginkannya untuk berhenti.

Entah berapa lama aku berlari, kaki ini mulai terasa lelah dan kecepatan berlariku pun semakin menurun mengakibatkan sekitarku berputar lebih lambat lagi. Aku melewati beberapa pasang kekasih; muda-mudi, adam-hawa, pria-wanita yang di mabuk cinta. Ada yang berjalan sembari berpegangan tangan maupun saling merangkul. Aku mengatur nafasku, melihat mereka membuat darah ini bergolak dan mata ini miris menatap pasangan itu. Aku berlari juga karena kekasih, demi mengusir dia yang terus berlari dalam pikiranku. Kekasih tercinta yang pergi entah ke mana dan entah kapan kembali.

Aku mulai tak pecaya. Dunia cinta… dunia cinta. Dunia yang penuh buaian juga bualan. Dunia yang abstrak, tak terlihat namun terasa. Benarkah ia ada atau mungkin ia hanya sekedar ilusi belaka? Sebuah imaji yang diciptakan otak kita, menafsirkan rasa ketertarikan sebagai cinta. Namun bagaimana jika sebenarnya itu tidak ada? Bahwa ternyata kita hanyalah manusia gila yang termakan doktrin cinta Adam dan Hawa. Kita tidak pernah benar–benar tahu bukan?

Lariku semakin melambat saat aku berlari melewati kerumunan orang banyak. Mereka ramai saling berbicara dan membelalakan mata. Begitu riuh. Aku penasaran juga dan coba mendekat untuk bertanya.

“Ada apa ramai-ramai, Pak?”

“Ada kecelakaan. Anak-anak naik motor boncengan bertiga, mau nyalip mobil box. Eh, kejungkel! Satu kelindes, mati!”

“Kok bisa?”

“Ya bisa aja, Non. Licin jalannya ‘kan abis ujan. Mereka ngebut. Tapi namanya juga anak-anak, ngga bisa ngontrol, bannya selip kali.”

“Usia berapa, Pak?”

“Masih SMP.”

Anak di bawah umur yang seharusnya belum diizinkan untuk mengendarai kendaraan bermotor, melanggar peraturan yang ada dan kini telah tiada. Tunas bangsa yang mati sia–sia akibat kelalaian orang tua dan kebodohannya sendiri. Betul–betul kematian yang percuma.

Kakiku sudah terasa sangat lelah hingga akhirnya aku memutuskan untuk berlari pulang. Aku berhenti lagi di sebuah kios tidak jauh dari kontrakanku untuk membeli sebotol air mineral. Si pemilik tengah bersiap menutup kiosnya.

“Bang, sebentar. Saya mau beli minum,” Abang kios memberikan apa yang aku pesan dengan wajah sumringah. “Kok jam segini udah mau tutup?” tanyaku. Senyum si Abang semakin lebar.

“Barusan orang rumah ada yang ngasih tahu kalau istri Abang sedang mau melahirkan. Anak pertama. Jadi sekarang Abang buru–buru pulang, Non.”

“Udah di bawa ke rumah sakit?”

“Ngga jauh dari rumah ada bidan kok, Non.”

“Oh…” aku mengangguk–angguk sembari merogoh saku celana trainingku. Aku menoleh saat mendengar suara rem motor.

“Bang, udah lahir! Jejaka dan sehat! Saya di suruh buru–buru jemput abang ke sini.” Ujar pria di atas motor itu.

“Alhamdulillah…terus istri abang gimana?”

“Selamat, Bang. Dua-duanya sehat. Udah buruan pulang.”

“Iya, iya…”

“Eh, Bang,” aku menyela. “Ini uangnya.”

“Ngga usah, Non. Gratis!” Abang kios itu senyumnya semakin merekah. “Abang duluan, permisi, Non.” Aku mengangguk dan hanya bisa tersenyum.

Hidup ibarat koin. Mempunyai dua sisi yang tak terpisahkan dan saling membelakangi. Baik dan buruk. Ada yang pergi dan ada yang datang. Begitu siklus ini akan terus berputar. Terkadang aku merasa dunia ini sangat luas dan hidup sangat panjang. Namun terkadang dunia menjadi begitu sempit dan hidup terasa pendek ketika kita menyadari bahwa kita semua berada dalam satu lingkaran yang sama, meski berputar tapi kita akan kembali pada tempat kita semula.

Aku masuk ke dalam rumah dan melihat sepasang sepatu di dekat pintu. Aku mengikuti suara–suara yang berasal dari dapur. Aku melihatnya berdiri di sana, mencuci piring–piring kotor yang sudah tiga hari ini menumpuk. Entah apakah aku harus merasa bahagia, marah, atau sedih. Aku tidak mengerti. Aku hanya merasa terkejut melihat orang yang telah lama pergi tiba–tiba muncul kembali dan hanya berjarak beberapa meter dari tempat aku berdiri sekarang.

Dia mengelap tangannya lalu berbalik menghadapku. Ia tersenyum. Senyuman yang masih sama seperti dulu. Rambutnya tergerai panjang, lebih panjang dari yang dulu. Ia berjalan mendekat ke arahku yang berdiri seperti patung tanpa ekspresi lalu memelukku erat, berbisik merdu, “Aku kangen kamu”, tapi mengiris hatiku.

Kata–kata itu terdengar indah namun sekaligus menyakitkan. Ia menatap mataku, mata cokelatnya begitu indah, begitu innocent, begitu menghipnotis dan membakar gelora hati ini. Lalu ia mencium bibirku, serta merta aku merasa diguyur air panas. Dibukanya sweaterku, training, serta sepatuku, lantas digiringnya aku ke pancuran dan mandi bersamanya.

Sungguh dia adalah makhluk paling nista sekaligus membahagiakan di dunia. Mungkin ia yang dimaksud wanita racun dunia. Paras cantiknya dan gairah masa mudanya tak dapat ditolakkan. Wanita tercantik di tata surya. Aku dan dia sepasang kekasih yang dimabuk gairah asmara. Aku dan dia adalah sisi kehidupan yang lainnya, di mana kami saling mencintai hanya untuk kami dan tak perlu ada yang tahu.

Sudut Sepi, 9 Oktober 2008

Iklan