Sebagai seorang pengangguran, sedari tidur sampai bangun tidur banyak berkutat di rumah yang tidak memasang jaringan tv kabel, saya memerhatikan sekilas tren pertelevisian belakangan ini. Sinetron masa kini mulai tidak laku (sotoy. Pendapat pribadi ini mah tanpa riset), seiring tv-tv Indonesia mulai terseret gelombang nostalgia. Nampak dua saluran tengah sengit memuaskan kerinduan generasi dewasa muda masa kini.

Beberapa waktu belakangan, satu generasi atau katakanlah sekelompok orang yang menamakan generasi yang tumbuh besar, remaja, dan beranjak dewasa di era 90an muncul kepermukaan. Salah seorang teman saya menyebutnya dengan mengeksklusifkan diri. Ya, seakan generasi mereka yang paling baik dan paling beruntung. Karena kalau begitu anak teman saya itu yang baru lahir dan keponakan saya yang baru berumur lima tahun saat ini, bukanlah “angkatan” beruntung. Pedahal baik tidak baik, beruntung tidak beruntung tolak ukurnya tak pasti alias (seperti kecantikan) relatif. Ah, haseum memang.

Generasi 90an sudah menjadi merek dagang; mulai dari buku tentang segala bentuk kehidupan di era 1990 – 2000an awal, pernak-pernik, sampai T-Shirt. Setelah sebelumnya kaum 90an itu ramai di berbagai forum untuk bernostalgia. Sedikit banyak nostalgia itu juga membandingkan dengan situasi kekinian. Banyaklah, mulai dari cara bergaul, artis top tahun 90an, musik, dan juga acara tv, baik itu program luar yang tayang di Indonesia ataupun sinetron. Iya, jadinya mengeksklusifkan diri, teman saya keukeuh sumeureukeuh.

Nah, saya melihat tren tontonan tv pun berputar ulang. Film-film India memang tidak ada matinya. Namun serial India yang sempat hilang, mulai merangsek menjadi pilihan di tiap saluran TV. Siapa biang keladinya? Mahabharata yang tayang di Antv waktu lalu. Bolehlah saya bilang tayangan tersebut menuai sukses dari sisi animo penonton. Sampai para pemainnya diimport untuk jumpa fans dan akhirnya secara kontinu cari nafkah di layar mini Indonesia.

Demam serial India terus menular dan mendorong kemunculan serial Turki yang saya tafsirkan sebagai kembalinya telenovela. Gaya dan ceritanya tak jauh beda pun. Bedanya cuma yang satu berasal dari komplek Timur Tengah dan satunya lagi Latino. What the—?!

Sstt… satu-satunya tontonan lokal dari era 90an yang berulang kali tayang ulang adalah Si Doel Anak Sekolahan. Meskipun dalam kondisi minggu ini tayang pagi, minggu depannya siang, lalu jadi tayang sore, lalu hilang lagi. Tapi jangan khawatir, nanti pasti muncul deui. Tanpa pemberitahuan dulu pasti.

Aroma nostalgia semakin tercium kuat bagai rempah untuk masak kare. Lagi-lagi Antv —mungkin ini mah ya, mungkin sedang kehabisan tenaga kreatif atau mungkin menangkap pasar penonton yang sedang merindu, entahlah— menghadirkan kembali sinetron ringan ala 90an. Sedari beres waktu solat subuh, sudah mulai menayangkan Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul, Jinny Lagi Jinny Lagi, Untung Ada Jinny, Jinny Oh Jinny, sampai menjelang siang dengan sinetron Puteri Duyung yang pemerannya Ayu Azhari dan (Alm.) Zainal Abidin Domba.

Seperti biasa, apa yang dilakukan Antv menjadi virus latah. Maka RCTI si raja sinetron sedari dulu, tak mau kalah dan menayangkan ulang mantan drama unggulannya. Catatlah yang masih tayang konsisten sampai saat ini adalah Pernikahan Dini (Agnes Monica dan Sahrul Gunawan) mulai jam 10 sampai jam 11 pagi. Sedangkan siangnya kerap bergantian. Pernah tayang sinetronnya Naysila Mirdad dan Dude Herlino yang berjudul Intan, kemudian berganti sinetronnya Marshanda yang judulnya Puteri Yang Terbuang.

Sinetron-sinetron usang RCTI itu sebetulnya koleksi mereka yang tayang di awal-awal era 2000. Sedangkan saya menanti kembali tayang ulang Si Doel, tentu saja (heran tidak pernah bosan). Sudahlah, tayangan keluarga ini bisa ditonton via online bareng serial None arahan Putu Wijaya yang pernah tayang di TPI tahun 1994.

Ada pun saya menanti sinetron Cinta yang tayang sekitar tahun 1999, kalau tak salah ceritanya diadaptasi juga dari salah satu novel Mira W. Lakon utamanya adalah Desy Ratnasari, Primus Yustisio, dan Atalarik Syah. Selain itu dulu Indosiar juga punya sinetron menarik, judulnya Tirai Sutra dan diperankan Devi Permatasari, Alex Komang, serta Inneke Koesherawati. Bapak saya keukeuh pengen serial Losmen yang hits di TVRI pada akhir 1980an.

Serbuan nostalgia sebagai pemuas kerinduan bagi Generasi 90an yang gemar nonton drama televisi mungkin masih jauh dari klimaks. Tadi pagi saya lihat iklan, bahwa Global TV akan segera menayangkan telenovela Maria Mercedes dan Antv sedang mempersiapkan versi baru dari Jinny oh Jinny dengan merangkul beberapa pemain lamanya kecuali si Jinny-nya alias Diana Pungky.

Aww… inilah kekuatan pasar. Saya pikir kalau satu atau dua nuansa nostalgia akan menjadi hiburan menyenangkan. Tetapi kalau tuluy diwewelan, asa enek ogé, euy. Bagi saya ini semakin menguatkan pendapat; pasar mengatur “kreativitas”mu. Jadi dimanakah ujung dari serbuan nostalgia ini?

Tuhan, saya semakin tidak bisa move on.

Iklan