Dua hari belakangan saya bolak-balik Gramedia. Toko buku terbesar ini sedang sibuk cuci gudang dengan temanya back to campus. Seperti mengingatkan bahwa orang-orang yang ngampus alias sekolah sudah WAJIB hukumnya membaca buku. Masyarakat umum juga wajib membaca buku, tapi buat anak sekolah, itu wajibnya harus capslock dan dibold.

Pada intinya Gramedia ini sedang obral buku-buku terbitan lama. Buku-buku yang menumpuk di gudang dan tersisih dari persaingan. Bagi seorang pembaca, tak ada hal paling romantis selain memilih buku obralan. Buku-buku yang meski tak di susun di rak, bertumpuk tak rapih, dan bahkan ada pula yang cover-nya sudah locot alias lepas.

Saya melihat buku-buku tersebut di ruangan tepi jalan kecil, di seberang ruangan itu penjaja makanan juga merayu dompet saya. Aduh! Nah, buku bertumpukan. Belum lagi buku dalam kardus-kardus kiriman dari gudang di Caringin yang masih berjajar belum dibuka. Harga buku yang ditumpuk dimulai Rp. 5.000. Sedikit butuh tenaga juga untuk ngaduk-ngaduk tumpukan buku itu.

Sedang di belakang, di lahan parkiran, sebuah tenda juga mendisplay buku-buku yang lama menghuni gudang. Buku di susun lebih rapih, mayoritas masih disegel, tidak seperti di ruang sebelumnya. Bacaan yang diobral beragam; ada buku latihan ujian, mewarnai, budaya, resep, motivasi, fotografi, biografi, sejarah, teenlit, chicklit, sampai yang nyastra. Harganya dimulai kisaran Rp. 10.000.

Ajang sale buku seperti ini memang sangat menyenangkan. Sebagai orang yang memiliki afeksi berlebih terhadap buku, saya dibuat bingung menyesuaikannya dengan budget. Yah, meski buku diskon tapi finansial pun tengah berada di titik nadir. Agak sial saya ini, tapi tetap memaksakan untuk beli beberapa. Inginnya sih beli semua yang menarik.

Tak hanya terombang-ambing dalam memilih buku, hati saya juga terombang-ambing dalam kegetiran. Yah, pembaca mana yang tak bergelinjang melihat buku obral? Tetapi kalau dipikir-pikir ini menyedihkan juga. Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, bahwa buku-buku obral adalah buku terbitan lama, buku yang menumpuk di gudang, buku yang tak sukses di pasaran.

Tidak semua buku sale itu buruk secara konten, ada pula yang sebetulnya bagus dan baik namun tidak memuaskan selera pasar. Apalah yang lebih getir dari proses menulis yang panjang dan menguras pikiran, lalu kemudian hasilnya hanya menjadi barang obral.

Saya memang tak begitu menyukai buku-buku motivasi, jadi tidak menaruh banyak perhatian di sana. Tetapi di segmen lain saya melihat beberapa penulis ternama, bahkan diantaranya ada yang legend pula, dijual dengan harga 10.000 – 30.000 saja. Saat itulah saya melihat kekejaman pasar, membuat penulis amatir seperti saya ini ciut nyalinya.

Iklan