Bahasan yang sudah basi, tapi tetap saja saya ingin menuliskannya kembali. Terlebih saya berada di tengah lautan buku yang baru dikeluarkan dari kardus. Buku-buku lama, yang kertasnya juga sudah menguning beberapa, ada segel yang sobek, ada pula yang segel plastiknya sudah seutuhnya lepas dan membuat cover buku menjadi lusuh.

Saya ngeri melihat buku-buku yang kurang laku ini. Namun mau bagaimanapun penerbit dan toko buku adalah sebuah industri. Roda ekonomi. Mereka menjual buku dan punya biaya operasionalnya sendiri. Setiap harinya akan ada ratusan hingga ribuan buku baru yang diantar ke toko. Buku-buku yang tak memuaskan pasar, mau bagus atau jelek kontennya, harus diretur ke penerbit. Lalu bertapa digudang, siap diobral saat kesempatan datang.

Bagaimana pula perasaan penulisnya, saat royalti dikirim (biasanya) tiga bulan sekali tidak seberapa jumlahnya dan lalu tahu bukunya berakhir di gudang kemudian diobral seharga Rp. 10.000an.

Begitulah nasib perbukuan. Dalam industri, siapa kalah saing, maka harus rela ditendang. Beberapa orang mengatakan karena minat baca masyarakat Indonesia memang semakin berkurang, jadi semakin banyak buku tak habis terjual. Ada pula yang berkata karena tema-temanya tidak menarik, tak mengikuti pasar, terlalu biasa, atau terlalu segmented (seperti sastra dan buku-buku sejarah).

Industri buku hanya akan menjadi milik mereka yang mampu memuaskan minat pasar atau nama-nama yang tengah digandrungi. Artinya dia lagi, dia lagi. Penulis-penulis kecil, baik yang serius maupun coba-coba, dan bukan sesiapa, akan langsung terjungkal. Bisa jadi mereka kapok buat menulis.

Dee Lestari pernah menjawab sebuah pertanyaan, “mau menulis buku bagus dan baik lalu mendapat penghargaan, atau menulis buku laku?” Penulis sastra populer itu menjawab, “buku laku.” Ya, realistis saja, proses penulisan itu panjang dan melelahkan, maka setidaknya semua itu harus terbayar secara riil pula.

Dulu sekali saya pernah terlibat satu diskusi panjang soal kepenulisan, terutama sastra, dengan seorang kawan. Diskusi yang membuat jempol saya bengkak karena kami melakukannya via aplikasi chat dan mata kami beler karena diskusi berlangsung larut malam sampai dini hari. Dia bertanya, “bukankah pasar sebetulnya bisa diciptakan?”

“Mungkin. Tapi kenyataannya pada industri perbukuan kalau bukan siapa-siapa, apalagi buku yang ditulis tak sesuai demand pasar, maka naskah kita hanya akan jadi pengganjal pintu.” Kurang lebih begitu saya menjawab. Agak kurang ingat juga. Mau bagaimanapun pasar adalah raja. Lalu kawan saya berkomentar, “Kalau kamu mau uang, lebih baik jual gorengan. Omsetnya bisa 1,5 juta satu hari”. Hahaha, it’s true.

Iya betul. Semua kembali pada tujuan. Seorang pengarang atau penulis, atau yang mau jadi penulis, tujuannya menulis untuk apa? Untuk jadi kaya? Untuk pengakuan? Atau untuk merangkakkan gagasan? Beberapa penulis ternama saja, kemarin saya temukan bukunya jadi barang obralan. Nah, bagaimana seorang penulis amatir mau cari makan dari sana? Kawan saya itu berkeyakinan kalau penulis sejati (terlebih sastrawan) memang harus asketis. Ya, saya setuju. Seniman, penulis, memang harus menghindari zona nyaman.

Berbulan-bulan kemudian setelah diskusi itu, saya melihat-lihat koleksi buku di sebuah toko buku kecil dekat rumah. Saat hendak membayar, yang jadi kasirnya ternyata pemilik toko tersebut. Saya panggil dia Om. Setelah berbincang-bincang, tahulah saya bahwa ia adalah seorang konsultan penerbitan juga.

Perbincangan kami tak luput dari indurstri perbukuan. Om cerita, ada banyak buku-buku yang harus ia retur. Perihal tersebut ia mengutarakan pendapatnya, bahwa seorang penulis harus memahami industri buku. Maka ia harus menjadi seorang yang fleksibel dan mengikuti zaman; dari penampilan dan isi buku, penulis harus mempertimbangkan pasar. Om juga bilang dengan adanya sosial media, penulis harus bisa jadi marketer (marketing) bukunya sendiri.

Dia memberi saran kalau saya mau menerbitkan buku, tulislah buku-buku remaja. Buku-buku dengan bahasa lucu, konyol, dan menghibur, atau buku motivasi karena jenis buku tersebut penjualannya paling stabil. Saya bertanya bagaimana nasibnya dengan penulis-penulis idealis? Penulis-penulis yang ingin mengusung warnanya sendiri dan tidak tunduk pada pasar? Cepat atau lambat mereka akan mati, begitu jawabnya. Blio juga menilai kalau penulis sudah seharusnya kreatif. Jadi apapun gagasannya maka dia harus bisa mengemas agar masuk dalam pasar yang ada. Jika tidak, untuk apa dia menerbitkan buku?

Saya manggut-manggut, mencoba menjembatani berbagai pikiran yang ada di kepala. Sebagian dari saya masih tidak bisa menerima kalau penulisan sebuah buku didikte oleh pasar. Tetapi sebagian lagi setuju dengan kenyataan yang diutarakan si Om. Nendra Rengganis pernah bilang, bahwa tulisan yang sudah diterbitkan sudah bukan “hak milik” penulis seutuhnya. Pembaca bisa melakukan apapun yang mereka mau terhadap karya penulis. Mau dibaca atau tidak, mau dibeli atau tidak, mau dipuji atau dimaki. Ya, begitu.

Saya memandangi pegawai toko buku yang sedang melempar-lemparkan buku dari dalam kardus ke sebuah wadah dari triplek. Buku-buku bertumpuk di sana, lalu ada sebuah papan bertuliskan “Harga Mulai Rp. 10.000”. Dalam wadah itu sudah pasti ada buku-buku yang ditulis dengan iseng, tapi pasti ada pula yang ditulis dengan serius, melewati proses panjang dan melelahkan.

Iklan