Akhirnya setelah dua kali perpanjang masa peminjaman dari Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) Jawa Barat, tamat juga novel ini saya baca. Sekiranya saya butuh empat minggu untuk menuntaskan Amba. Apa? Empat minggu? Lama amat!

Judul Buku                  : Amba

Penulis                         : Laksmi Pamuntjak

Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                : Cetakan pertama, Oktober 2012

Jenis                            : Novel

Tebal                           : 494 halaman

ISBN                           : 979-228-8791

“Ketika bicara menunggu, itu bukan tentang berapa jam, hari, dan bulan. Kita bicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya.”

Novel setebal 494 halaman ini terpaksa harus saya selingkuhi dengan “Perempuan dalam Hidup Soekarno: Biografi Inggit Garnasih” yang disusun oleh Reni Nuryati dan buku Ajip Rosidi berjudul “Manusia Sunda”. Dua buku selingkuhan itu lebih ringan untuk dibaca.

Laksmi Pamuntjak cukup berani dengan mengemas kisah pewayangan menjadi cerita modern. Kisah cinta antara Bhisma, Amba, dan Salwa yang ada dalam wiracarita Mahabharata, didaur ulang dan diberi latar sejarah Indonesia tahun 1960an. Novel Amba sangat terasa kental akan nuansa sosial-politik. Tergambar cukup jelas pergerakan situasi sosial-politik pada masa itu sampai masa-masa genting, dan pasca meletusnya Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu). Pembaca juga diberikan gambaran bagaimana kondisi dan kehidupan para tahanan politik selama pengasingan di Buru.

Selain sejarah, Laksmi pun menyisipkan kisah-kisah pewayangan Jawa maupun cerita raja-raja yang tercantum dalam Serat Centhini. Hal tersebut membuat muatan dalam novel Amba menjadi cukup padat. Pemilihan diksi dalam kalimatnya cukup baik, hanya banyak paragraf yang panjang. Dengan muatan yang cukup padat dan paparan yang mendayu-dayu, saya beberapa kali dibuat bosan. Bahkan alur pun terasa begitu lamban.

Awal kisah langsung menceritakan Amba berada di sebuah rumah sakit Pulau Buru. Ia terlibat percekcokan dan hampir dibunuh oleh salah seorang gadis suku setempat. Amba diceritakan sebagai perempuan berusia lebih dari setengah abad, datang ke Pulau Buru dibantu oleh seorang eks tapol Buru dan seorang pemuda Ambon bernama Samuel. Dari masa kini, Laksmi kemudian mengajak pembaca untuk memutar mundur waktu, sehingga dapat melihat kenapa dan bagaimana Amba bisa sampai ke Pulau Buru. Kehidupan Amba diceritakan sejak masa kecilnya hingga ia menjadi dewasa, kemudian bertemu dengan Salwa dan Bhisma.

Pada alur mundur ini Laksmi terus menjejali kepala pembacanya dengan catatan-catatan sejarah, baik yang terjadi dalam negeri maupun Eropa. Namun seperti sudah tertulis di atas, saya merasa kalimat yang dituliskan terlalu panjang, bertele-tele. Seakan Laksmi ingin menunjukkan kelihaiannya dalam perdiksian dan rangkai-merangkai kata. Hingga pada banyak bagian saya mengantuk.

“Politik memang bukan tentang apa yang benar. Politik adalah bagaimana kita bisa salah dengan benar.”

Amba dan Bhisma sudah terpisah lebih dari 30 tahun. Saat terjadi kekacauan di Jogjakarta, Bhisma tertangkap kemudian dibuang ke Pulau Buru karena dituduh terlibat dengan kelompok-kelompok pro PKI. Tentunya tanpa peradilan.

Pada tahun 1970-an setelah mendapat tekanan dari dunia Internasional, para tahanan politik di Pulau Buru secara bertahap dibebaskan. Namun tak ada kabar pasti dan jelas mengenai keberadaan Bhisma. Saat terpisah dari Bhisma, sebetulnya Amba tengah mengandung buah cinta mereka. Tunangan Amba, Salwa, barang pasti tak mau menerimanya kembali setelah mengetahui perselingkuhan kekasihnya itu dengan Bhisma. Amba juga tak mau kembali ke keluarganya; ayah ibunya. Akhirnya Amba memutuskan untuk menikah dengan pria keturunan Jerman dan tinggal di luar negeri. Berpuluh tahun kemudian, Amba kembali untuk mencari Bhisma ke penjaranya di Buru.

Jelas yang ingin ditonjolkan tidak sekedar cinta-cintaan, tapi juga apa yang menjadi latar dari cerita cinta tersebut. Oleh sebab itu saya mengatakan bahwa novel ini tidak hanya tebal, tapi isinya memang padat, sarat muatan. Ceritanya sendiri sebetulnya menarik. Pada saat petualangan Amba mencari Bhisma, pembaca juga dibuat penasaran dengan apa yang sebetulnya terjadi? Di mana Bhisma? Apa isi surat-surat yang ditulis dan disembunyikan oleh Bhisma? Dan terdapat bagian lain yang membuat greget yakni kisah cinta Amba dan Salwa yang penuh dengan norma-norma sosial. Belum lagi teka-teki mengenai siapa Samuel dan eks tapol yang menemani Amba ke Pulau Buru.

Setelah membaca keseluruhan novel Amba, saya merasa perlu mengacungkan dua jempol pada karakter Amba. Sejak awal memang terlihat bahwa Amba tidak ingin menjadi perempuan biasa yang cuma manut dan manut. Ia juga berhasil memelihara cinta-nya pada Bhisma meski telah terpisah puluhan tahun, tidak mendapat kepastian, bahkan sempat menikah pula dengan pria lain agar bisa kabur dari keluarganya di desa. Kemudian ia dengan membawa cinta yang sama mencari kebenaran tentang Bhisma di tanah Buru. Ya, katanya Amba ingin mencari kebenaran tentang Bhisma, kebenaran tentang nasibnya. Tapi saya tetap bingung apa betul soal kebenaran itu, karena setelah berpuluh tahun membawa cinta yang sama bukankah berarti Amba juga sebetulnya gagal move-on?

“Selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan.”

Iklan