15 Agustus 2014

Lambat laun cahaya langit berubah dari gelap menjadi terang, perlahan pula laju kereta mulai melambat memasuki kota Surabaya, kota terbesar kedua di negeri ini setelah Jakarta. Kota metropolitan; pusat perdagangan, industri, dan pendidikan wilayah timur Indonesia. Kota yang pemuda-pemudi (arek-arek)nya terkenal ngotot dan “gila”. Kota yang dalam mitosnya dinamai setelah terjadi pertempuran antara suro (hiu) dan boyo (buaya).

Gerombolan penumpang terlihat mulai bersiap untuk turun di Gubeng pagi itu. Saya melemaskan sedikit otot-otot yang kaku selama perjalanan 14 jam dari Bandung. Ini kali pertama saya menjejakan kaki di Surabaya, kota pahlawan. Saat penumpang sudah mulai turun satu per satu, saya santai memberesi barang-barang seperti handphone, jaket, botol minum, dan sampah makanan ringan yang tercecer di kursi. Saya tengah merapikan isi tas ketika menyadari bahwa kereta perlahan mulai bergerak kembali. Diam, saya merasakan guliran roda semakin menderas. Kursi-kursi di peron Stasiun Gubeng sedikit demi sedikit mulai menjauh dari pandangan jendela. Wajah rekan saya, Nona Purna, juga panik.

Akan ke mana kereta ini? Bukankah Gubeng stasiun terakhir? Bukankah seharusnya kereta berhenti agak lama? Apa kereta akan berputar balik? Ada rasa was-was dalam hati; saya harus turun di Gubeng! Saya harus naik kereta selanjutnya menuju Banyuwangi. Sambil cepat-cepat menutup carrier, saya menengok untuk mengecek seberapa jauh pintu keluar dan merasa-rasa berapa kecepatan kereta. Saya akan melompat!

Saya sudah bersiap, ketika melihat seorang lelaki muncul dari gerbong belakang dan duduk tak jauh dari tempat saya berdiri. Blio tersenyum. Dengan tas, topi, jaket, dan kacamata hitam yang bertengger di sleting jaketnya itu, mencirikan dia bukan petugas kereta api.

“Mas, ini keretanya berhenti di mana ya?” tanya saya.

“Mbak memang mau ke mana?” Mas itu balik bertanya.

“Er… saya sebetulnya mau ke Banyuwangi. Tapi mau lihat-lihat Surabaya dulu sebentar.”

“Oh… tenang, Mbak. Ini keretanya berhenti di Semut. Stasiun Surabaya Kota. Kereta biasanya parkir di situ.”

“Syukurlah. Saya kira mau ninggalin kota Surabaya. Terima kasih, Mas.” Saya duduk kembali, tidak jadi lompat dari kereta.

Stasiun Surabaya Kota yang populer disebut Stasiun Semut, menjadi tempat peristirahatan kereta dan merupakan stasiun terakhir kereta jalur selatan tujuan Surabaya. Stasiunnya sendiri sudah digunakan sejak tahun 1870 dan tahun 1996 ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan surat keputusan Walikota Surabaya. Hal tersebut berguna untuk melindungi bangunan bersejarah dari ancaman pembangunan kawasan perbelanjaan dan pertokoan di sekitarnya.

Namanya Shandi, mas-mas yang muncul dari gerbong belakang kereta. Dia orang Surabaya yang baru menjalani interview dan tes di PTDI (Dirgantara Indonesia) Bandung. Maka ia menawarkan diri menjadi teman menikmati pagi di Kota Pahlawan. Sekitar Stasiun Semut nampak aktivitas pagi para pedagang. Penjaja makanan dan bebajuan tumpah ruah di jalanan. Untungnya jalan-jalan di Surabaya itu besar.

Ada yang paling saya suka dari kota Surabaya adalah trotoarnya yang lebar. Lebarnya mungkin cukup untuk berjajar 5 sampai 7 orang. Trotoarnya sangat nyaman untuk pejalan kaki, rapih, tidak berundak-undak. Selama jalan kaki dari Stasiun Semut, banyak bangunan-bangunan tua bergaya art-deco dan neoklasik. Menurut Shandi, di sekitar Stasiun Kota terdapat 60 bangunan yang terancam, kemudian dijadikan cagar budaya.

TUGU PAHLAWAN

www.senjanaavonturir.wordpress.com

Terus dan terus berjalan kaki, Shandi membawa saya dan Nona Purna menepi di Lapangan Tugu Pahlawan. Saya, Nona Purna, dan Shandi menunggu beberapa saat hingga akhirnya gerbang dibuka oleh petugas. Mata saya langsung berhadapan dengan patung Sukarno dan Mohammad Hatta. Mereka berdiri di atas podium, membacakan proklamasi. Menariknya adalah di belakang patung dua proklamator kemerdekaan Indonesia itu terdapat pilar-pilar retak yang membuat keberadaan patung menjadi lebih artistik-neoklasik.

Pada tiang-tiang terdapat tulisan-tulisan berwarna merah: “MERDEKA!!”, “RAWE2 RANTAS MALANG2 POETOENG!!”, “MERDEKA ATOE MATI!”, “ALLIED FORCES GO AWAY!”, dan “FREEDOM FOREVER”. Kota punya cerita, bahwa tiang tersebut merupakan sisa reruntuhan dari Gedung Raad van Justitie atau Gedung Pengadilan pada zaman Belanda.

Bangunan tersebut kemudian berfungsi sebagai markas Polisi Militer Jepang, tempat di mana mereka memenjarakan dan menyiksa orang-orang yang dituduh melawan Dai Nippon. Setelah Indonesia merdeka, gedung itu menjadi markas gerakan pemuda Polisi TKR. Pada saat pertempuran 10 November 1945 yang berlangsung selama tiga minggu, gedung tersebut menjadi salah satu landmark yang dihujani mortir dan bom.

Pada podium tempat (patung) Sukarno dan Hatta berdiri, terdapat sebuah prasasti berujar kata-kata khas Bung Karno yang membara.

“Pahlawan sedjati tidak minta di pudji. Bunga mawar tidak memprogandakan harumnja, tetapi harumnja dengan sendiri merebak ke kanan-kiri. Tetapi: Hanja bangsa yang tahu menghargai pahlawan–pahlawanja, dapat menjadi bangsa jang besar. Karena itu, hargailah pahlawan–pahlawan kita! Merdeka!”.

Kata-kata tersebut dituliskan di Jogjakarta pada 10 November 1949.

Patung serta pilar-pilar itu membelakangi sebuah lapangan luas. Seperti lapangan rumput yang digunakan untuk upacara. Sekelilingnya dapat terlihat bangunan-bangunan urban yang dekat dengan lapangan. Pada tepi yang berseberangan dengan patung Soekarno-Hatta, terdapat tiang bendera dan sebuah monumen tinggi berbentuk seperti pinsil/bambu runcing/ paku, di mana bagian runcingnya menjulang ke atas, seakan siap merobek sesiapa yang berani mengganggu kemerdekaan Indonesia. Ya, itulah yang disebut dengan Tugu Pahlawan.

Presiden Sukarno meresmikan Tugu Pahlawan pada 10 November 1952 . Pembangunannya bertujuan untuk memperingati perjuangan dan pengorbanan para pahlawan kemerdekaan Indonesia pada pertempuran 10 November 1945 melawan Sekutu dan Belanda. Monumen tersebut memiliki simbol dari 10 – 11 – 1945 yang dicirikan dengan jumlah 10 lengkungan dan 11 ruas. Sedangkan pada ruang bawah tanahnya terdapat Museum Sepuluh November yang mendisplay beragam peninggalan sejarah dari peristiwa 10 November 1945. Pagi itu museum masih tutup, jadi lebih baik melanjutkan perjalanan ketimbang menunggu petugas membuka loket.

Saat berada di kota lain, makan adalah aktivitas yang tak dapat ditolak. Setelah melewati berbagai judul lontong dan ketupat, serta hembusan wangi dari asap yang memanggang sate, kami bertiga memutuskan untuk makan pecel di sebuah gang. Pecel khas jawa yang legit dan pedas, ditemani perkedel (bakwan) jagung dan segelas teh tawar. Tukang becak, loper koran, pekerja kantoran, pejalan, sampai engko-engko yang menikmati usia senjanya numplek di sana. Semua menjalani ritual sarapan, meski bukan sekedar kenyang yang dituju tapi juga interaksi sesama manusia.

JEMBATAN MERAH

www.senjanaavonturir.wordpress.com
Credit: ulinulin.com

Energi dari sarapan digunakan untuk meneruskan penyisiran kota tua Surabaya. Kawasan ini sungguh aktif, di mana-mana terlihat kegiatan perdagangan. Beberapa ada yang menempati bangunan warisan kolonial yang cukup ikonik. Kemudian sampailah kaki ini berpijak di Jembatan Merah.

Tak ada satu arek Surabaya pun yang tak hafal Jembatan Merah. Sekitarnya berjajar gedung-gedung tua yang gagah, di bawahnya mengalir air sungai Kalimas. Railing besi jembatan memang dicat merah sesuai dengan namanya. Tetapi saya pikir, meskipun sejak dulu (katanya) jembatan itu sudah berwarna merah, ada merah yang lebih dari sekedar warna cat.

Jembatan Merah tersohor bukan karena catnya, bukan hanya karena menjadi infrastruktur penting sebagai jalur perdagangan sejak zaman Mataram. Pernah ada merah darah yang menggenang di sana. Jembatan Merah adalah lokasi para pejuang Surabaya mencegat iring-iringan tentara Sekutu yang dipimpin Inggris (Britania) pada akhir Oktober 1945. Ketika itu Sekutu hendak melucuti senjata dan berniat mengembalikan Indonesia kepada pemerintahan Hindia Belanda. Terjadilah konflik bersenjata di sana dan berujung pada tewasnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby yang ditembak entah oleh siapa. Tewasnya Brigjen Mallaby ini pula yang memicu meletusnya pertempuran 10 November 1945.

LONTONG BALAP

www.senjanaavonturir.wordpress.com

Matahari semakin bergeser, perjalanan kaki menuju Gubeng masih jauh. Sebelum berpisah, Shandi memperkenalkan penganan lontong balap. Katanya salah satu kuliner khas Surabaya yang musti dicoba. Lokasi yang kami tuju adalah Lontong Balap Rajawali, tak jauh dari Jembatan Merah. Porsinya nyaris seperti tumpeng, komposisinya serupa kupat tahu. Ada tauge, tahu, dan lontong. Pembedanya adalah lontong balap disajikan bersama sesuatu semacam perkedel yang mereka sebut lento; terbuat dari kacang-kacangan dan terigu.

Nah, sajian tersebut kemudian diberi kecap manis dan guyuran kuah encer, hingga rasanya nano-nano minus rasa asam. Manis dari kecap, gurih dan asin dari kuahnya. Buat lidah saya yang suka kupat tahu bumbu kacang, kuah encer itu rada cawerang sebetulnya. Kurang lekoh gimana gitu. Lontong balap ini biasanya disantap pula dengan sate kerang yang menurut saya justru cenderung lebih enak dari rasa lontong balapnya.

Cukup sudah bahan bakar untuk lanjut perjalanan ke Gubeng dengan tenaga kaki. Meski belum tengah hari, udara Surabaya luar biasa panasnya. Wajar saja karena kota ini bertengger di tepian Pantai Utara Jawa. Sengatan matahari memaksa saya dan Nona Purna untuk berteduh di mall sambil numpang cuci muka, sikat gigi, dan melakukan beragam “bisnis” lainnya.

Begitu sampai Gubeng, kami berdua langsung check-in ke peron, duduk selonjoran. Perjalanan separuh hari di Surabaya ini rasa-rasanya sudah cukup sebagai pemanasan buat naik ke Ijen nanti. Untuk melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi, saya harus bersabar hati menanti kereta ekonomi Sri Tanjung yang diberangkatkan dari Jogja. Masih separuh hari lagi untuk sampai ke Banyuwangi.

19 Agustus 2014

www.senjanaavonturir.wordpress.com

Lagi, Surabaya menjadi transit dalam perjalanan pulang menuju Bandung. Seluruh badan sudah mencapai titik lelahnya, ditambah dengan Nona Purna yang harus buru-buru kembali ke kantor esok hari. Begitu sampai di Gubeng dari Rogojampi, langit masih remang-remang. Kami langsung menuju Bandara Juanda. Jadwal penerbangan ke Bandung sebetulnya jam setengah satu siang, namun saya pikir lebih baik istirahat dan tiduran di bandara. Tak perlu lah kemana-mana lagi.

Sampai di bandara, saya dan Nona Purna langsung “sahur” di restoran cepat saji setempat. Berlama-lama dan mengobrol sebelum akhirnya pindah ke loby dan saya tertidur cukup lama. Jam sebelas lebih saya terbangun, Nona Purna masih berkutat dengan handphonenya. Tanpa lelah. Luar biasa. Lalu saya mengajak nona itu untuk check-in. Sampai pada petugas yang memeriksa tiket, kami dinyatakan salah lokasi.

“Mbak, ini penerbangannya dari terminal 2.”

“Iya, lantas? Ini terminal 2, bukan?”

“Bukan, ini terminal 1.”

“Oh, lalu terminal 2 di sebelah mana?”

“Di landasan pacu baru. Mbak harus keluar dari bandara ini, naik taksi, dan masuk tol untuk menuju ke terminal 2.”

“Jauh?”

“Sekitar 2 kilometer. Kira-kira 30 menit dari sini. Itu pun kalau tidak macet.”

“Shit!”

Bagai the flash, saya dan Nona Purna berlari. Yes, shit happens all the time.

Iklan