Pada satu sore yang hujan, saya membawa novel Kabut Kota ke hadapan kawan-kawan dari Kelas Literasi Aleut. Satu dari mereka melihat buku itu, memegangnya, memangkunya, kemudian melontarkan pertanyaan, “Ica, kamu kalau beli buku biasanya melihat dari apa? Apa yang membuat kamu memutuskan untuk memilih buku ini?”

Judul Buku                  : Kabut Kota

Penulis                         : Ichsan Saif

Penerbit                       : CV Angkasa

Tahun Terbit              : Cetakan Kesatu, Agustus 2016

Jenis                            : Novel

Tebal                           : xvi + 476 halaman

ISBN                           : 978-602-73296-3-8

Baik, begini, pertama kalau ke toko buku saya akan melihat judul, membaca sinopsis, kemudian melihat siapa pengarangnya. Tiga hal itu adalah yang memengaruhi pembelian buku. Kedua, buku Kabut Kota tidak saya beli, tapi pemberian dari seorang kawan editor. Jadi sebetulnya “persenggamaan” saya dengan Kabut Kota adalah sebuah ketaksengajaan. Ketiga, jujur saja kalau secara fisik Kabut Kota memang tak menarik, sehingga wajar jika kawan-kawan bertanya seperti yang disebut di atas.

Saat saya membuka paket kiriman dari kawan editor itu, nampaklah seonggok buku. Cover Kabut Kota hanya terdiri dari warna hitam dan putih, dengan sedikit gambar semacam lukisan realis tapi ditimpa tulisan judul buku. Sama sekali tak menarik dan kosong. Paling atas ada nama pengarangnya, Ichsan Saif. Nama yang sangat asing, entah siapa dia. Baiklah secara fisik, novel ini kurang daya jual.

Dari sinopsisnya terlihat bahwa Kabut Kota akan bercerita serius, mengenai anak dan ibunya. Jelas bukan novel cinta picisan. Halaman sebanyak xvi + 476 dengan jenis kertas HVS membuat bobot buku lebih berat. Terasa agak tak nyaman memegangnya.

Hal menarik untuk lanjut membaca novel ini bagi saya, yakni ketika mengetahui bahwa Kabut Kota adalah pemenang kedua dalam Lomba Sastra Aksara 2016 dan mendapat Anugerah Sastra A.A. Navis. Kegiatan perlombaan tersebut merupakan hasil kerja sama dari Program Bahasa dan Budaya Indonesia, Deakin University Melbourne, Australia, Pusat Kajian Humaniora, FBS, Universitas Negeri padang, dan Penerbit Angkasa Bandung. Sebab itu saya putuskan untuk menengok apa yang membuat Kabut Kota keluar sebagai runner-up kategori novel.

Selesai membaca, saya pikir Kabut Kota adalah salah satu representasi dari peribahasa don’t judge a book by its cover. Fisiknya memang buruk rupa, tapi isinya menggugah rasa.

Awal cerita bermula tentang seorang pengarang yang ingin mengangkat cerita kehidupan seorang bernama Fajar. Sebelumnya ia membaca kisah inspiratif Fajar di sebuah koran, kemudian pengarang ini berusaha mewawancarai Fajar untuk membukukan cerita hidupnya. Maka kemudian bergulirlah cerita tentang Fajar.

Ichsan Saif menggunakan sudut pandang orang kesatu dalam penceritaannya, sehingga membuat pembaca berkedudukan sebagai Fajar. Saya merasa masuk dalam karakter Fajar dan bergulat dengan emosinya juga. Kehidupan Fajar diceritakan sejak ia berusia sekitar tiga tahun. Ichsan cukup berhasil mengemukakan sudut pandang seorang anak usia toddler; apa yang dipikirkan Fajar kecil ketika ibunya menggerutu, ngomel-ngomel, sampai marah.

Sedari kecil sudah diceritakan bahwa ibu Fajar adalah seorang pemulung di ibukota. Mereka berdua tinggal di sebuah rumah kayu sempit di bawah rel kereta api. Ibunya tidak pernah bersikap lembut selayaknya ibu pada anak. Ibu begitu dingin dan galak, suka menggerutu, serta misterius. Fajar tidak pernah tahu asal-usul atau latar belakang soal ibunya. Fajar juga tidak tahu siapa ayahnya. Sikap ibu yang keras dan kehidupan yang malang, membangkitkan nuansa menyedihkan pada bab-bab pertama novel ini.

Alur terasa begitu lamban dan membosankan pada awal mula penceritaan novel Kabut Kota. Ichsan Saif begitu detil menceritakan perkembangan Fajar dari toddler yang kerap diajak ke tempat pemulungan sampah oleh sang ibu, kemudian disewakan pada pengemis, lalu pada usia lima tahun mulai diajari mengamen, dan usia 8 tahun resmi jadi pengamen di perempatan jalan kota Jakarta. Alur mulai sedikit ngebut ketika Fajar menginjak masa SMP, SMA, dan kuliah.

Terjadi satu peristiwa penting dalam kehidupannya sebagai anak jalanan yang membuat Fajar bersikukuh untuk sekolah. Fajar tak ingin kembali lagi ke jalanan. Tentu ide untuk bersekolah tersebut ditentang oleh sang ibu. Keuletan Fajar menjadi seorang terpelajar, kemudian membuatnya berhasil menguak misteri ibunya.

Konflik demi konflik terus bergulir dalam Kabut Kota. Sifat ibu Fajar dan hubungan keduanya sangat menarik untuk dicermati. Belum lagi potret Fajar semasa jadi anak jalanan, penting untuk dikaji. Pun perjuangannya untuk terus mengenyam pendidikan, baik untuk dicontoh.

Tokoh Fajar membawa saya jalan-jalan melihat Indonesia. Setelanjang-telanjangnya menyelami kehidupan petani-petani miskin di negeri agraris yang (katanya) tanahnya begitu subur, menyelami kehidupan nelayan miskin di negeri maritim yang (katanya) kekayaan lautnya begitu luar biasa.

Kabut Kota membuka mata saya akan banyak hal yang kerap kali luput. Kerap kali teringat namun tak lama kemudian terlupakan kembali, yang begitu kompleks tapi harus segera diberesi, yang suka dijadikan janji-janji politik basi. Tentang kemiskinan di Indonesia serta sebab musabab yang membuatnya bisa beranak-pinak.

Lewat Kabut Kota, Ichsan Saif juga menjejali pengetahuan tentang enterpreneurship dan sociopreneurship. Paling penting lagi, novel ini menampar saya perihal kedudukan insinyur-insinyur juga sarjana-sarjana di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Kabut Kota membawa kembali gagasan lama; bagaimana idealnya kaum terdidik bisa membuat kehidupan negeri ini lebih baik.

Iklan