Taman Nasional Baluran (TNB) sejak lama sudah “mengundang” saya untuk datang. Lewat forum-forum dunia maya dan juga televisi, penampakannya yang seperti Afrika itu begitu menggoda mata. Pagi itu dengan menggunakan mobil mini van, saya dan Nona Purna bersama kawan-kawan ketemu di jalan, meluncur menuju Baluran dari kota Banyuwangi.

16 AGUSTUS 2014

Transportasi umum yang melewati Taman Nasional Baluran sangatlah jarang. Pilihannya, pejalan bisa menggunakan bus jurusan Banyuwangi – Surabaya (via Situbondo) dan turun di depan pintu masuk TNB, hitch hiking, atau menyewa kendaraan. Pada pintu gerbang masuk TNB biasanya mangkal ojeg-ojeg untuk mengantar pengunjung berkeliling ke tempat-tempat menarik di taman nasional seluas 25.000 ha tersebut.

EVERGREEN FOREST

Taman Nasional Baluran

Begitu melewati portal, pos masuk Taman Nasional Baluran, saya dan kawan-kawan satu mobil sibuk gujlak-gajluk akibat mobil berjalan di jalanan aspal yang sudah rusak. Banyak yang mengeluhkan soal akses jalan yang buruk ini, tapi menurut saya ini-lah sensasinya.

Sebelum mencapai Savana Bekol yang populer itu, mobil mini van bergulir membelah area hutan. Namanya Evergreen Forest. Kata Mas Didi, yang jadi guide saya dan kawan-kawan saat itu, dinamai Evergreen Forest karena hutan tersebut didominasi pepohonan yang selalu hijau sepanjang tahun.

Nah, kebetulan waktu itu kunjungan saya terjadi di musim kemarau. Pepohonan di kanan-kiri berwarna hijau meneduhkan, tetapi pada beberapa titik terdapat asap dan api. Tidak besar, namun bisa jadi bahaya juga bila dibiarkan. Cuaca memang tengah panas-panasnya dan dalam beberapa hari terakhir, petugas taman nasional sedang sigap-sigapnya menangani kebakaran di Evergreen Forest.

SAVANA BEKOL

Taman Nasional Baluran

Lepas dari hutan hijau abadi, saya mulai melihat hamparan savana berwarana kuning. Tandus dan panas. Gambarannya memang persis seperti Serengeti di Tanzania sana. Saya juga menunggu-nunggu siapa tahu ada jerapah sejoli lagi jalan-jalan, atau sekelompok banteng makan rumput (kering). Tetapi kenyataannya adalah kosong. Bisa dipahami juga karena memang sedang panas-panasnya. Pada sisi lain, pemandangan Gunung Baluran menjulang hijau, gagah, tanpa halangan berarti.

Ada sedikit fasilitas umum di sekitar Savana Bekol, yakini satu musola dan wc. Banyak kera jahil di sekitarnya. Selain itu, terdapat pula rumah panggung yang difungsikan sebagai penginapan. Harga sewa rumah panggung itu saya tidak tahu berapa, tetapi di luar Taman Nasional Baluran ada banyak mess (guest house) murah.

Taman Nasional Baluran

Tak jauh dari Savana Bekol, saya dan kawan-kawan mampir di gardu pandang. Letaknya ada di atas sebuah bukit kecil, di belakang musola. Pendakiannya tidak lama, hanya memakan waktu sekitar 15 – 20 menit. Dari gardu tersebut pemandangan elok Taman Nasional Baluran terhampar. Kami menikmati pemandangan 360° little Africa yang disajikan TNB. Savana bekol nampak kecil di tengah-tengah seperti lapangan sepak bola, dikelilingi pepohonan hijau dari hutan sekitar. Pada sisi paling timur nampak kerlip biru dari lautan, sedangkan baratnya adalah Gunung Baluran setinggi 1.247 mdpl.

Taman Nasional Baluran

 

PANTAI BAMA

Pantai Bama Baluran

Begitu memasuki waktu makan siang, Mas Didi membawa anak asuhnya (saya dan kawan-kawan) ke kawasan Pantai Bama yang juga berada di dalam TNB. Selama perjalanan menuju Pantai Bama, mata saya mendapati beberapa rusa dan banteng sedang berteduh di bawah pohon. Selain itu terlihat pula sekawanan merak, juga lutung yang ngaso di pepohonan.

Sesampainya di Pantai Bama, kedatangan saya dan kawan-kawan disambut oleh kera-kera abu berekor panjang yang siap mencuri bekal makan kami. Kawanan kera itu sangat agresif sekali, membuat saya sedikit ngeri juga. Tak ada pilihan, kami pun makan siang dalam mobil sebelum menelusuri Pantai Bama.

baluran-4

Pantai Bama memiliki hamparan pasir putih yang lembut dan alam bawah laut yang cantik. Perairannya cukup tenang, membuat nyaman untuk bermain-main. Pantai ini di kelilingi hutan mangrove, pinggirannya terdapat pepohonan yang bisa jadi tempat melarikan diri kalau matahari mulai menyengat. Beberapa warung juga berjajar di sana.

Saya dan kawan-kawnan sempat jalan-jalan ke area hutan mangrove. Akar-akar yang rumit menyembul dari perairan yang surut. Kami berjalan di atas sebuah jembatan dermaga yang panjang menembus rimbun pepohonan. Jembatan itu menuju ke sebuah pendopo (saung) kecil yang menghadap ke laut lepas. Sepertinya tempat tersebut suka digunakan sebagai spot memancing, karena nampak dua-tiga orang sedang mencoba mengail di sana.

Saya tidak bisa banyak berjalan mengitari pantai. Engkel kaki kiri saya bengkak gara-gara terlalu bersemangat main-main di Savana Bekol. Saya duduk di kursi panjang di bawah pohon, bersama beberapa kawan, sambil menunggu sore dan siapa tahu senjana jingga lewat. Satu kawan, namanya Agis, datang dari arah warung membawa camilan Rodeo (sejenis oreo). Blio membuka biskuit lapis itu, memakannya satu, dan mempersilahkan kawan-kawan untuk ikut menikmati. Sayangnya, belum sempat mencicipi, dalam waktu 0,5 detik setelah Rodeo ditaruh di atas meja, kera abu-abu ekor panjang menyambarnya dan membawa pergi. Whoooooshhh! in a flash.

Setelah peristiwa itu, kami cuma duduk-duduk, ngelawak, sambil menunggui sunset. Sekitar pukul lima sore dan matahari sudah tak terlihat, baru kami teringat bahwa Bama adalah pantai yang letaknya di ujung timur Pulau Jawa. Belum saatnya matahari untuk tenggelam di bagian timur, kan?

17 AGUSTUS 2014

Taman Nasional Baluran

Sebelum menyeberang ke Pulau Menjangan, kami sepakat untuk menebus kebodohan soal menunggu sunset sore kemarin. Subuh-subuh semua sudah bangun dan berangkat untuk menikmati sunrise di Pantai Bama dan Savana Bekol. Kembali gujlak-gajluk dalam kondisi setengah tidur, melewati Evergreen Forest.

Kondisi pantai masih gelap, namun belasan orang sudah ada di sana dengan alat berburunya; yakni kamera. Semua yang ada di Bama subuh itu, siap menangkap “matahari pertama” di Pulau Jawa. And it was beautiful.

Ada yang menarik dari pagi di Pantai Bama. Pengunjung tidak hanya bisa menikmati matahari terbit, tapi setelahnya dapat juga mengamati aktivitas kera abu ekor panjang yang memancing dengan ekor mereka.

Iklan