Kau menghilang bersama kabut yang turun malam itu. Satu malam di mana kita bercinta di bawah sinar purnama yang temaram. Satu malam di mana senyummu tersabut kabut malam. Aku takkan lupa malam itu, kala kau berjingkat pergi semakin jauh ditelan gelap rembulan. Entah ke mana perginya langkahmu, meninggalkan aku tak berbalut busana dan masih setengah sadar di atas ranjang putih berkelambu, meninggalkan aku dan mesin tik kepunyaanmu. Kau tak pernah kembali, tapi aku takkan berhenti mencari.

***

Matamu begitu anggun menatap langit kelam. Rambutmu tersibak angin yang bertiup, melambai–lambai lembut, wanginya menyeruak ke setiap penjuru kamar. Entah apa yang ada di pikiranmu, isinya segelap langit yang kau tatap.

Kau pun mulai bergerak meninggalkan langit dan duduk di depan sebuah mesin ketik tua. Kau sangat menyukai mesin ketik itu, mungkin bahkan kau mencintai mesin ketik itu lebih dari nyawamu sendiri.

Aku ingat saat banjir melanda, kau setengah mati menyelamatkan mesin ketik tua itu agar tak hanyut terbawa arus. Hanya mesin tik tua itu saja yang kau khawatirkan. Mesin ketik tua itu sudah lusuh, sudah terlihat sangat tua, sudah ketinggalan zaman, namun kau masih menggunakannya untuk menulis surat kepada cinta–cintamu yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Saat manusia lain begitu berbangga dengan komputer termutakhir yang mereka miliki, kau masih berbangga dan dengan tegak kepala memamerkan mesin ketik tua mu itu. Jari-jemarimu dengan lincahnya menari–nari di atas tombol–tombol huruf mesin ketik. Kau mengetik kata–kata begitu cepat tanpa takut ada kata kurang tepat. Tanpa jeda tanganmu terus bermain di atas tombol–tombol itu.

Ketika kau begitu, tak ada yang sanggup mengganggumu. Meski itu tsunami sekalipun, kau rela mati saat sedang bermain dengan mesin tik tuamu itu. Aku cemburu, sungguh sungguh cemburu pada mesin tik tua yang selalu mendapat sentuhan, pijatan tanganmu yang cantik. Aku tahu kecemburuanku ini begitu gila, aku cemburu pada mesin tik tua. Bayangkan itu, mesin tik tua! Bah!

Maksudku, ayolah itu hanya mesin tik tua, sebuah benda mati yang seharusnya sudah masuk museum. Kepuasan seperti apa yang sebuah mesin tik tua dapat berikan kepada wanita semenarik, semisterius, semenggairahkan seperti kau? Kenapa kau begitu senang sekali menghabiskan waktu bersama mesin tik tua di bandingkan denganku?

Iya, iya, aku tahu kau menggunakannya tidak hanya untuk menuliskan surat pada cinta–cinta mu di seluruh pelosok negeri, kau menuliskan kata–kata. Semua kata yang terlintas di benakmu. Kata–kata yang tak pernah dapat kau utarakan. Panjang pendek begitu tak penting, yang penting kau menuliskannya dengan mesin tik itu. Bukan dengan yang lain.

Kau wanita yang aku puja setengah mati, meski tabir gelap menghinggapimu. Kau tak pernah berbagi isi hatimu bersamaku, kau hanya membaginya dengan mesin tik tua itu. Dari mana asalanya mesin tik tua itu? Kenapa kau begitu mencintainya? Kenapa kau begitu cinta menghabiskan waktu bersama mesin tik tua itu. Mesin tik tua itu begitu merepotkan, saking tuanya terkadang pita nya suka tidak mau berjalan, atau tombol hurufnya tak kembali ke tempatnya semula setelah ditekan–tekan.

Tapi kau begitu setia, tanpa keluh keluar dari mulutmu, kau memperbaikinya sendiri. Tak mempercayakannya pada tukang service manapun. Kau akui bahwa kau punya beribu cinta tersebar di seluruh negeri, kau mengakui bahwa kau tak pernah merasa canggung untuk hinggap dari hati ke hati seiring bulan dan matahari berganti. Namun cintamu sendiri, cinta yang melibatkan hati nurani, dan yang menyebabkanmu diliputi kediaman, yang menyebabkan segala akibat pada dirimu sekarang, untuk siapa?

Aku tahu, kau menyimpan satu cinta yang tak diketahui. Kau tahu, aku tidak, mesin tik itu tahu. Kertas–kertas berisikan tulisan kau hanyutkan ke sungai dalam botol–botol, kau bakar, dan kau ikatkan di kaki–kaki merpati yang menghinggapi jendela kamarmu. Kertas–kertas yang tak aku ketahui apa isinya. Kau tahu, aku tidak, mesin tik tua itu tahu.

Aku ingin sekali bertukar tempat dengan mesin tik tua itu. Mesin tik tua itu sepertinya lebih tau siapa kamu daripada aku. Dia terletak di atas sebuah meja kayu menghadap ke jendela, tempat sinar rembulan menerobos masuk, seperti hipnotis yang selalu menarikmu untuk kembali padanya. Lagi, lagi, dan lagi.

Aku ingin mengerti keindahan yang tertangkap oleh alam imajimu. Aku ingin menyatu bersama jiwamu, melihat apa yang menurutmu indah. Kenapa kau senang melihat langit malam meski tak berbintang, kenapa kau senang memerhatikan gerak awan, kenapa kau begitu senang berjalan diantara orang–orang yang tak kau kenal, kenapa kau senang berbagi isi pikiran bersama mesin tik tua itu.

Bukankah kau mempunyai aku yang sedia kapan pun untuk kau ajak berbagi. Aku akui pada awalnya aku hanya menginginkan ragamu yang begitu memicu nafsu birahiku, namun semakin lama aku bergaul denganmu, aku begitu tertarik pada jiwamu yang diliputi misteri. Pada tingkahmu yang tak kumengerti, yang pada perempuan lain tak kudapati.

Sepanjang malam hingga hitamnya memudar menjadi biru, kerjaanmu hanya bergumul dengan mesin tik tua itu. Kau masih duduk di depan mesin tik. Matamu sembab, kantung mata mulai menghitam di bawah matamu. Setiap aku mendekatkan diri untuk mengetahui dunia di balik tangismu, kau selalu menarik diri. Aku ingin tahu apa yang membuatmu menangis, tersenyum tenang, tertawa derita. Hanya kau yang tahu, aku tidak, mesin tik itu tahu.

Biru pun kembali menjadi hitam. Kau kembali berdiri di depan sebuah jendela, menikmati angin malam yang menyibakkan rambutmu yang panjang. Kau tersenyum begitu tenang, setenang malam itu yang tak mengeluarkan sesuara apapun.

“Angin menyampaikan pesan yang tak terkuak pada seluruh umat,” ujarmu lirih.

“Hah?” aku tak pernah mengerti arti di balik kata yang kau ucapkan.

“Angin tidak hanya datang dan berlalu. Bagaimana kalau ia ada karena mengemban satu misi. Mungkin ia berbicara pada kita, namun kita tak pernah benar–benar mendengarkan. Mungkin ia menyampaikan satu pesan.”

“Yang aku tahu, misi angin adalah menggerakan perahu layar para nelayan.”

“Ya, kamu benar. Nelayan mengerti bahasa angin. Mereka tahu kapan harus melaut dan kapan tidak dengan merasakan angin.”

“Juga gelombang laut.”

“Gelombang laut kan tercipta karena hembusan angin.”

Senyummu semakin melebar. Aku tidak tahu sebenarnya apa point dari pembicaraan kita malam ini dan kemana arahnya. Apa yang hendak kau sampaikan? Pikiranku dipenuhi tanya yang tak pernah terjawab. Kau selalu larut dalam duniamu sendiri, imaji yang tak terungkap. Saat kau kembali ke dunia nyata, kau seperti begitu terluka dan rapuh. Ingin aku merengkuh, namun kau selalu pergi lagi menjauh.

“Ini malam berkabut tipis yang turun perlahan, malam terang bulan purnama.” Katamu lagi.

Lalu kau mematikkan lampu kamar sehingga kamar begitu temaram, menyisakan satu cahaya bulan purnama yang masuk melewati jendela di mana kau berdiri sekarang, di sampingmu terletak di atas meja kayu, mesin tik kesayanganmu.

Kau terseyum mengelus mesin tik itu. Senyum yang begitu misteri. Sepertinya kau tahu aku cemburu, kau menghampiriku dan mendorongku hingga jatuh terjerembab ke atas ranjang. Kau pun meniduriku malam itu, sebelum kau pergi meninggalkanku. Menyisakan beribu tanya hingga purnama–purnama berikutnya datang.

***

Bertahun–tahun aku tak pernah berhenti mencarimu. Lewat tulisan–tulisan aku terus menceritakanmu. Kau membuatku jadi begini, sepertimu. Siang malam, aku tak pernah berhenti melukiskan hatiku juga keindahan misteri yang meliputimu. Mesin tik tua peningalanmu menjadi teman sejati bagiku. Aku akan terus melacak keberadaanmu. Kusebarkan pesan lewat angin yang berhembus, lewat botol–botol yang hanyut di sungai, lewat kepak sayap merpati yang hinggap di jendela. Aku akan setia mencarimu hingga ragaku tak mampu.

***

AR Meinanda,

Di bawah bulan purnama, 10 April 2009

Iklan