Ada sebuah kisah / seorang anak manusia / yang telah berkeluarga / ha ha ha / Pada suatu hari ia nekat berpuasa / mengatur rumah tangganya seperti raja / istri harus begini / eh anak harus begitu /  yang ini harus begini, begitu […]

Musik dangdut yang ear catching beserta liriknya yang menarik, membuka film Keluarga Markum. Film jadul itu sukses menyejukan siang ini, siang yang begitu terik, meski terik bisa saja berubah mendung dalam sekejap.

Adegan pertama berupa gambar fajar mulai mengintip langit Jakarta, kemudian berlanjut pada sebuah rumah sederhana. Muncullah Markum sang tokoh utama, membuka jendela, kemudian ia beserta anak-anak dan istrinya memulai aktivitas pagi mereka. Markum siap-siap ngantor, sedangkan anak-anaknya bersiap sekolah, dan istrinya sibuk dengan pekerjaan rutin ibu rumah tangga.

Ingin meneruskan kesuksesan film Kejarlah Daku, Kau Kutangkap, salah satu sutradara terbaik Indonesia, (Alm.) Chaerul Umam, langsung membesut sekuelnya, yakni Keluarga Markum. Pada film yang rilis tahun 1986 itu, Chaerul Umam masih mempercayakan penulisan skenario kepada Asrul Sani. Para pemain Kejarlah Daku, Kau Kutangkap masih pula menggawangi film Keluarga Markum. Sebut saja, Ikranegara sebagai Markum, Ully Artha sebagai Marni, dan Lydia Kandou sebagai Mona. Hanya saja tokoh Ramadan yang sebelumnya diperankan oleh Deddy Mizwar (Kejarlah Daku, Kau Kutangkap), menjadi tanggung jawab seorang Dwi Yan. Kerja keras kru dan pemain pun diganjar dengan sebuah penghargaan pada ajang Festival Film Bandung tahun 1989, sebagai pemenang dari kategori Film Komedi Terpuji.

Lain dengan Kejarlah Daku, Kau Kutangkap yang fokus pada kisah Ramadan dan Mona, sekuelnya justru mengisahkan Markum dan keluarganya. Pada film Kejarlah Daku, Kau Kutangkap memang ditutup dengan peristiwa dimana sang duo jomblo idealis, Markum (paman dari Ramadan) dan Marni (sahabat Mona) saling jatuh cinta.

Setelah bertahun-tahun menikah, Markum dan Marni memiliki dua putri ABG (anak baru gede), bernama Ikum dan Bunga. Meski begitu, keduanya tetap kesulitan untuk mencari keserasian satu sama lain. Markum dan Marni tak jarang berselisih paham, padahal yang menjadi pertentangan pun bukan hal-hal prinsipil. Menyedihkan sebetulnya, tapi entah bagaimana Chaerul Umam berhasil mengemasnya menjadi sebuah komedi. Komedi cerdas.

Markum masih dengan karakternya yang kaku dan (terlalu) jujur. Sedangkan Marni adalah perempuan yang sering kali senéwen. Dalam balutan sikapnya yang galak, Marni tetap perhatian dan menyayangi Markum. Seperti setiap Markum hendak pergi bekerja, Marni tak pernah lupa untuk memakaikan syal di leher Markum, supaya suaminya itu tidak masuk angin.

Pada enam bulan pertama pernikahan mereka, sikap Markum memang melunak. Tiba-tiba saja ia menjadi seorang pria romantis dan mesra. Namun selepas itu, Markum kembali pada sifat awalnya, seorang yang kaku, dingin, dan non-kompromistis. Itulah pangkal dari segala perselisihan mereka.

Marni selalu mendamba suaminya menjadi mesra kembali, namun ia tidak bisa mengungkapkan secara gamblang keinginannya tersebut pada Markum. Ia hanya bisa mencurahkan isi hati kepada sahabatnya, Mona. Markum, di lain sisi, sudah merasa kemesraan itu tidak perlu. Apalagi mereka sudah memiliki dua anak yang beranjak remaja. Sudah bukan eranya lagi untuk orang tua, karena kasih sayang dan perhatian harus dicurahkan sepenuhnya pada anak-anak. Begitulah pandangan Markum.

Ramadan: Marni sekarang sangat membutuhkan perhatian.

Markum: Yang memerlukan perhatian itu anak-anak. Marni sudah dewasa, sudah matang, sudah berumur!

Ramadan: Justru karena itu! Umur, membuat seorang perempuan ketakutan.

Markum: Aku tidak takut.

Ramadan: Karena kau laki-laki. Perempuan takut dia tidak cantik lagi, tidak lagi disayangi.

Markum: Lalu maumu apa yang harus kulakukan?

Ramadan: Kau harus berikan perhatian lebih banyak.

Markum: Aku tidak ada waktu.

Ramadan: Untuk itu tidak diperlukan waktu. Cukup kalau pagi kau katakan pada Marni, dia wanita tercantik di dunia.

Markum: Itu namanya bohong!

Ramadan: Perempuan harus dibohongi sekali-kali.

Markum: Itu namanya menghina perempuan! Seorang suami yang baik, harus selalu jujur. Harus selalu berterus terang pada istrinya.

Sikap non-kompromistis Markum kemudian terlihat jelas ketika ia mulai menerapkan aturan-aturan konyol dalam rumah tangganya. Ia membeli stopwatch dan memberikan batas waktu terhadap aktivitas-aktivitas seperti mandi, ngepel, kunjungan tamu, dan lain sebagainya. Sampai Ikum melakukan protes dengan mogok makan dan “bertengger” di atas pohon seharian. Ia tidak mau turun sebelum ayahnya menandatangani surat tuntutan.

Meskipun terkesan dingin, kaku, dan (kelewat) strict, Markum sebetulnya adalah seorang penyayang. Seperti ketika Ramadan mendapat mobil dari kantor, Marni beserta Ikum dan Bunga menjadi iri. Mereka bertanya kenapa ayahnya tak pernah meminta mobil dari kantor atau menuntut naik pangkat dan naik gaji. Sederhananya, mereka ingin jalan-jalan satu keluarga, hal yang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah mereka lakukan.

Tentu saja usulan itu langsung ditolak Markum dengan keahliannya berbicara. Tetapi, tanpa sepengetahuan keluarga di rumah, Markum di kantor menemui bosnya dan mengajukan kenaikan pangkat. Namun ditolak, karena jabatan Markum sesungguhnya adalah yang tertinggi kedua setelah direktur.

Ramadan dan Mona akhirnya menjadi “perantara” dalam memperbaiki rumah tangga Markum. Sebagaimana dulu (Kejarlah Daku, Kau Kutangkap) Markum dan Marni menjadi “jembatan” dalam mempersatukan kembali Ramadan dan Mona yang sedang diujung tanduk perceraian.

Saya pribadi puas dengan plot yang disuguhkan. Para pemainnya merupakan pemain watak yang sudah merepresentasikan dengan baik karakter masing-masing. Sebuah kisah keluarga sederhana dengan properti-properti yang sederhana dan natural, sehingga saya sebagai penonton pun merasa tak ada jarak.

Namun saya merasakan ada satu kekosongan pada karakter Ramadan. Dwi Yan memainkan perannya dengan baik, plus lebih tampan pula, hanya saja ia membawa warna baru dari seorang Ramadan. Bukan seperti Ramadan yang dulu diperankan Deddy Mizwar. Ini seperti membayangkan si Doel yang biasa diperankan oleh Rano Karno, kemudian ganti menjadi Dwi Sasono, misalnya.

Overall, Keluarga Markum boleh menjadi tontonan komedi alternatif bagi yang sudah muak dengan komedi-komedi slapstick apalagi drama-drama tak berkesudahan. Kelucuan film ini dapat ditangkap dari dialog-dialognya yang bernas dan gestur para pemainnya yang apik dalam memerankan karakter masing-masing.

 

Iklan