Sarah dan Zaenab, keduanya terjebak dalam dunia bernamakan Doel. Lelaki berkumis, Betawi tapi pendiam, diplomatis, bersahaja, dan gengsian. Pada aspek yang lain bisa dibilang si Doel sial, kecuali dalam cinta. Sebelah kanan ada Sarah yang kaya, pintar, dan cantik. Sebelah kiri ada Zaenab yang manis, lembut, dan penyabar. Keduanya dibuat pusing pada sikap Doel yang tidak banting stir ke kanan, ataupun banting stir ke kiri. Tapi Doel malah membelokan stirnya 45° ke kanan dan 45° ke kiri.

Sarah yang begitu agresif, jor-joran menujukkan perhatiannya pada Doel dan keluarga sejak zaman kuliah, harus terpental berkali-kali karena sikap Doel yang begitu kaku dan gengsian. Sedangkan Zaenab yang pasif, terus —bahkan kalau perlu sampai lumutan— menunggu Doel menyatakan cinta padanya. Seperti sebagaimana perjodohan mereka dulu di masa ABG.

Tidak seperti anak muda zaman sekarang yang menekuni ilmu permacanan. Persaingan antara Sarah dan Zaenab bisa dibilang unik. Mereka yang tak saling kenal awalnya, justru menjadi dekat dan saling curhat, mungkin karena merasa senasib tak kunjung dapat kepastian dari si Doel, mungkin karena Doel juga memperlakukan keduanya equally sebagai teman. Er… sebetulnya satu sebagai teman dekat, satu sebagai adik.

Satu adegan yang membuat saya geli sekaligus terenyuh, adalah ketika Sarah sudah tidak bisa membendung kecewanya terhadap Doel. Sudah susah payah, dengan maksud menolong dan rasa sayang, Sarah memasukan Doel ke perusahaan milik pamannya. Tetapi Doel yang baru tiga hari ngantor langsung resign, begitu tahu kalau Sarah ikut andil dalam penerimaan lamaran kerjanya. Kemudian Sarah curhat pada Zaenab di sebuah café.

Sarah: (sambil sidakep) Aku benar-benar ngga ngerti kenapa aku cerita sama kamu, Nab. Aku sama sekali ngga nyangka, kenapa Doel tega sekali melakukan hal itu terhadap aku. Aku benar-benar kecewa, Nab. Yah… sekarang aku bisa ngerasain kecewa yang kamu rasain dulu.

Zaenab: (tersenyum kecut) Kalau saya ngga ngerasa cuma kecewa. Tapi juga ngerasa ditipu.

Sarah: Ditipu?

Zaenab: (mengangguk yakin) he em…

Sarah: Ditipu siapa? Aku? Doel?

Zaenab: Bukan. Ngga ditipu siapa-siapa. Tapi ditipu angan-angan, harapan, impian… perasaan ditipu itu yang sering membuat saya merasa bodoh. Membuat saya merasa direndahkan. Bahkan saya pernah merasa dikhianati.

 

Sarah tertunduk lesu, merasa bersalah

 

Zaenab: (tersenyum manis) Bukan. Bukan dikhianati kamu atau Bang Doel. Tapi dikhianati oleh cintaku sendiri.

Sarah: (dengan menahan rasa cemburu) Cinta?

Zaenab: (mengangguk) he em…

Sarah: Maksud kamu, cinta kamu sama Doel?

Zaenab: Ya… cinta yang saya pelihara sejak kanak-kanak, yang terasa manis seperti permen, ternyata cuma jadi sekedar kenangan dan bukan kenyataan.

Sarah: (ekspresi lesu) Aku jadi tambah nyesel, Nab.

Zaenab: Menyesal kenapa?

Sarah: Ya… kalau aja waktu itu mobil aku ngga menabrak opletnya Doel, terus aku ngga ngambil skripsi tentang kehidupan masyarakat Betawi, tentunya ‘kan hubungan kamu sama Doel ngga akan rusak kaya sekarang ini, Nab.

Zaenab: (tersenyum bijak) Ngga juga.

Sarah: Ngga juga gimana?

Zaenab: Yah… kalaupun mobil kamu ngga nabrak opletnya Bang Doel, ngga nulis skripsi tentang masyarakat Betawi pun, pasti ada hal lain yang mempertemukan kamu dengan Bang Doel.

Sarah: Jadi menurut kamu ini semua cuma suratan nasib?

Zaenab: (mengangguk) Hmm… sejak kecil saya dididik untuk percaya dan ikhlas menerima suratan nasib. Dan saya memang percaya, cuma rasanya saya masih belum bisa menerima dengan ikhlas.

Sarah: Duh, jadi tambah merasa bersalah, Nab.

Zaenab: (menggeleng) Ngga. Aku ngga pernah menyalahkan kamu atau Bang Doel. Juga ngga bermaksud mengubah suratan nasibku. Aku cuma sering digoda pertanyaan, kenapa cinta Bang Doel hanya ada dalam masa kecilku? Kenapa ketika dewasa, Bang Doel justru mencintai kamu.

 

Hening sesaat. 

 

Sarah: Aku sering merasa ngga yakin, kalau Doel benar-benar mencintai aku, Nab.

Zaenab: Ngga yakin?

Sarah: Iya.

Zaenab: Kenapa ngga yakin?

Sarah: (murung) Ya, ngga yakin. Ragu-ragu, karena toh, selama ini Doel sepertinya  tidak menginginkan aku menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dan aku juga merasa tidak diberi peluang untuk menjadi orang yang punya arti khusus bagi dia.

 

Hening kembali. Keduanya menyeruput minuman.

 

Sarah: (tersenyum canggung) Hubungan kita ‘kok, jadi aneh begini ya, Nab?

Zaenab: Aneh gimana?

Sarah: Yah… aku ngerasa pernah bikin kamu sakit hati.

Zaenab: Sama. Saya juga pernah membuat kamu sakit hati.

Sarah: Iya, tapi kita masih bisa berteman kayak gini.

Zaenab: Yah… mungkin karena kita sama-sama ngga mau memelihara kebencian.

Jawaban terakhir dari Zaenab itu menggema dalam rongga kepala.

Iklan