buat Beni,

                                               di antah-berantah

Aku lihat kau duduk seharian di bawah pohon jambu:

Kau nampak tandus,

jiwamu berserak bagai dedaunan kering itu.

Mulutmu meniupkan asap-asap sesak,

jari-jemarimu memainkan linting yang

semakin pendek, seperti waktu.

Kau memandang panjang pada hampa,

matamu mengurung duka,

tipis kulitmu mencoba menahan badai kecewa.

Kau hirup dalam-dalam wangi kekalahan,

lirihmu, “meranggaslah. Meranggaslah, Waktu…”

Dari dalam dadamu

melolong sakit yang rahasia.

(Agustus 2016, AR Meinanda)

Iklan