Sebagai seorang yang tidak mahir-mahir amat berenang, snorkeling jarang menjadi pilihan utama saya ketika liburan. Ya, memang pada akhirnya saya akan nyebur juga, tetapi perlu setidaknya 10 – 15 menit mengumpulkan keberanian untuk bersentuhan dengan arus laut. Sejauh ini dari dua kali pengalaman snorkeling, saya tidak pernah berlarut-larut menghabiskan waktu di dalam air.

17 Agustus 2014

Ankle kaki kanan saya semakin mirip telur asin Brebes gara-gara jatuh di Bekol. Saya tidak begitu mengkhawatirkan tentang apakah bisa ikut turun snorkeling atau tidak hari ini. Saya lebih khawatir kalau tidak bisa naik ke Ijen besok. I’ve already traveled this far, dari Bandung ke Banyuwangi, menempuh 24 jam lebih perjalanan dengan tujuan utama Gunung Ijen. Kalau sampai tidak bisa hiking, saya bisa naik darah. Tetapi segala kecemasan hilang, menguap entah ke mana, setelah berada di atas perahu ngebut, menyeberang dari Watu Dodol, Banyuwangi ke Pulau Menjangan, Bali Barat.

Angin yang asin dan air laut yang lengket tak hentinya menampar wajah pagi itu. Obrolan ngalor-ngidul dan canda yang menstimulus ruah tawa, sudah menenggelamkan ingatan tentang cedera ankle. Setidaknya Nona Purna bisa beristirahat sejenak dari cerocos kekhawatiran saya; kenapa kaki kiri saya seperti mati rasa? Bagaimana kalau harus diamputasi? Dan sebagainya dan sebagainya. Saya yakin, blio lelah mendengar racauan saya semalaman.

credit: Mba Ine (@ffcian_e)
credit: Mba Ine (@ffcian_e)

“Ngga perlu khawatir, Mbak. Air laut punya sifat menyembuhkan. Dulu saya pernah kecelakaan motor, kaki sampai bengkak seperti itu, tapi sembuh setelah berenang di laut.” Kata Agis.

Setelah satu jam, Pulau Menjangan mulai menampakan wajahnya yang tak (belum) tersentuh tangan-tangan perusak. Sebuah pulau tak berpenghuni dengan dermaga yang yang menjulur ke lautan dan Pura yang bertengger di tebing karang. Saya, Nona Purna, dan kawan-kawan pejalan dari Surabaya memilih titik snorkeling yang sedikit jauh dari Pura.

Pertama kali saya mencoba snorkeling adalah di sekitar Pulau Lengkuas, Belitung, tahun 2012. Menjangan adalah kesempatan kedua untuk kembali mencoba snorkeling. But still, di saat Nona Purna dan sebagian kawan lain sudah sight-seeing dari balik snorkelnya, saya masih berpegangan di tangga perahu.

credit: Agis (@zeiga)
credit: Agis (@zeiga)

Air laut yang bergelombang menabrak perut dan dada, membuat tubuh naik turun mengikuti iramanya. Setelah membantu sebagian kawan lain yang juga newbie, kapten kapal akhirnya menghampiri saya. Seperti bebek, saya digiring untuk menjauhi perahu dan menikmati keindahan bawah laut Menjangan. Kapten mewanti-wanti ada beberapa titik dangkal dan jangan sampai kami menginjak terumbu karang, karena rentan patah.

Pulau Menjangan memang luar biasa. Surga bagi mereka yang hobi snorkeling, terlebih lagi diving. Dari barisan terumbu karang di perairan dangkal, sampai dengan tebing-tebing bawah laut yang vertikal hingga ke kedalaman 60 meter. Sedikit panik juga ketika sedang berenang di perairan dangkal, tiba-tiba mata saya dikejutkan dengan pemandangan palung yang gelap. Saya langsung mengangkat kepala ke permukaan, megap-megap. Saya kira, saya sudah berenag terlalu jauh dari yang lain, ternyata tidak.

Pulau Menjangan
credit: Mba Ine (@ffcian_e)

Seperti sebelumnya, saya tidak menghabiskan waktu berjam-jam di dalam air. Pengalaman snorkeling di Menjangan, melihat banyak kawan yang menyelam, muncul lagi ke permukaan, menyelam lagi, seperti anjing-anjing laut yang bergembira, membuat saya bertekad harus memperbaiki skill berenang. Tidak, yang terpenting adalah memunculkan keberanian untuk berada di perairan yang hidup, menyingkirkan rasa cemas, menenggelamkan serangan panik.

credit: Mas Didi (@brightdidi)
credit: Mas Didi (@brightdidi)

Tak hanya bawah lautnya saja yang bisa dinikmati dari Pulau Menjangan. Pemandangan laut toska dari daratan memberikan kedamaian tersendiri. Ada pula padang ilalang yang bisa menjadi spot foto. Saya beruntung saat itu, Menjangan sedang sepi pengunjung. Pulau serasa milik sendiri. Namun sayang saya tidak bisa menyapa para menjangan (rusa), penduduk lokal di sana. Tidak ada satu dari mereka yang menampakan tanduknya, jumlahnya pun memang (katanya) semakin menurun.

Pulau Menjangan

Setelah numpang mandi di rumah penduduk sekitar pantai Watu Dodol, saya dan Nona Purna berpisah dengan kawan-kawan lain. Mereka harus pulang ke Surabaya, sedangkan saya kembali ke penginapan untuk bersiap menuju Ijen tengah malam nanti. Agis benar, ankle saya terasa jauh lebih baik. Tidak lagi cenat-cenut dan rasa ngilunya saat dipakai berjalan sudah berkurang. Meskipun begitu, sesampainya di penginapan nanti harus dikompres es batu lagi. Hitung-hitung buat meyakinkan diri kalau kaki ini masih bisa dipake nanjak.

Iklan