Betul kata Alissa Wahid, bahwa komik Teroris Visual merupakan teror ramah kepada nurani. Saya merasa beruntung diperkenalkan, dipinjami, komik ini oleh seroang partner manis dengan memori tipis-tipis. Selama dua jam melalap habis 148 halamannya, tak jarang meletus tawa yang membungkus rasa miris dalam hati.

 

Identitas Buku

Judul Buku                  : Teroris Visual

Penulis                         : Aji Prasetyo

Penerbit                       : CV Cendana Art Media

Tahun Terbit                : Cetakan Pertama, Mei 2015

Jenis                            : Komik

Tebal                           : 148 halaman

ISBN                           : 978-602-1517-20-8

 

Aji Prasetyo bukanlah komikus kemarin sore, cuma saya saja yang terlambat mengenalnya. Komikus asal Malang itu tak hanya menulis dan menggambar komik-komik yang kerap menggugat keadilan sosial, ia juga kerap terjun dan terlibat langsung dalam gerakan berbagai bidang; sosial dan lingkungan.

Kritikan-kritikannya yang terasa pedas nan tajam, membuat buku pertamanya Hidup Itu Indah, terbit tahun 2010, diboikot sejumlah orang tanpa dasar yang jelas. Kemudian sang komikus strikes back again tahun 2015 dengan Teroris Visual, buku komik yang membawa saya berkenalan dan ingin lebih jauh lagi mengenal karya-karya Aji Prasetyo.

Teroris Visual menyuguhkan sentilan-sentilan segar yang meneror pikiran dan nurani manusia pembacanya. Tetapi tentu saja akan sulit jika pembacanya memiliki kecenderungan pikiran yang tertutup dan terjebak dalam sebuah kenaifan. Kesalahan manusia adalah ketika mereka mulai berpikir, bahwa mereka sudah merasa berada di jalan yang benar. Sehingga tidak perlu menerima atau membuka pandangan terhadap opini maupun kritik-kritik.

Kritik berkampanye dengan poster, baliho, dan spanduk menjadi pembuka cerita. Cara kampanye buruk seperti poster caleg yang ditempel di tiang listrik, pohon, atau spanduk yang dibentangkan di jalanan tanpa memerdulikan Perda serta keindahan, dibungkus dengan cerita komedi bagaimana poster para caleg yang tersenyum menyeringai itu dapat membuat seseorang begitu trauma.

Tanpa terjun langsung ke tengah masyarakat, mengenalkan diri seperti seharusnya, caleg-caleg hanya memajang foto mereka yang merusak keindahan kota dengan seringai dan nama bertitel panjang. Tetapi sebetulnya siapa mereka? Seperti apa track recordnya? Visi misi-nya apa? Jadi caleg kok masih melanggar aturan dengan menyebar foto sembarangan. Kenal juga tidak, kok minta dipilih. Kira-kira begitulah.

Banyak cerita menarik lain dengan sketsa-sketsa lucu yang tak hanya menampilkan imajinasi sang komikus, tapi juga merepresentasikan apa yang terjadi di sekitar kehidupan kita hari-hari ini. Kritik terhadap kehidupan manusia kini dalam sketsa Ingat Jaman ‘Susah’ adalah yang paling menyentuh. Pada cerita tersebut Aji Prasetyo mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya kehilangan rasa simpati dan empati, yang seharusnya memanusiakan manusia.

“Saat segala hal bisa mendatangkan uang, sebenarnya pada saat itulah kita sedang kehilangan sesuatu.”

Aji Prasetyo juga menyurakan kritik-kritiknya tentang perempuan, agama, dan mengangkat kembali kisah Justice for Atik, salah satu kasus yang membuktikan bahwa hukum di Indonesia pada era demokrasi ini masih tumpul ke atas, tajam ke bawah. Kemudian tertuang pula kisah inspiratif mengenai “orang gila”. Seorang konsultan pertanian yang bekerja di luar negeri, dibayar mahal, kemudian resign, dan kembali ke Indonesia untuk membina para petani kopi di negeri ini tanpa dibayar. Sehingga produk-produk kopi petani lokal bisa mendapatkan sertifikasi internasional dan bersaing secara global.

Teroris Visual adalah sebuah satir yang harus dibaca oleh semua orang. Sketsa-sketsa yang ditulis dan digambarkan di dalamnya, dapat dijadikan sebuah cermin terhadap kehidupan masa kini, masa lalu, dan masa depan. Aji Prasetyo sukses meneror pikiran dan nurani saya.

Iklan