Setelah ngompres ankle dengan es batu selama satu jam, saya berharap semua rasa linu pada area mata kaki akan semakin berkurang. Berenang di Menjangan sudah sangat membantu untuk mengurangi rasa sakitnya, dibanding sewaktu hari pertama di Bekol. Jadwal untuk hike-down ke kawah Ijen adalah puncak dari rangkaian avontur ke Banyuwangi kala itu. Saya tidak ingin melewatkannya meski kaki terkilir. Setidaknya saya harus mencoba pergi. Ya, harus mencoba dengan segala cara.

18 Agustus 2014

Tepat pukul 00.00 saya dan Nona Purna melaju menuju kawasan Gunung Ijen menggunakan Jeep sewaan. Perjalanan dari penginapan memakan waktu selama satu jam. Pelataran Ijen sudah ramai meski masih jam satu dini hari. Ada yang kemping di dekat tempat parkir, petugas siap menyambut para pengunjung, warung-warung sudah sibuk menyuguhkan beragam penganan dan kopi yang mengepul. Mereka juga menjual perlengkapan seperti kupluk, syal, masker, sarung tangan, kaos kaki, dan menyewakan jaket juga senter.

Setelah membeli tiket masuk dan ditemani seorang guide, maka dimulailah perjalanan menanjak itu. Beruntung, satu kilometer tanjakan pertama medan berupa jalanan aspal. Tetapi minim bonus (landai).  Kondisi sekitar gelap dengan hutan di kanan-kiri. Pak Salman, guide saya dan Nona Purna, mengambil batang kayu yang cukup kokoh dan sudah terjatuh dari pohonnya untuk digunakan Nona Purna agar pendakian lebih mudah.

Saya cukup khawatir karena rupanya Nona Purna tidak mengenakan kualifikasi jaket seperti yang saya beritahukan beberapa hari sebelum berangkat ke Banyuwangi. Ia mengenakan sweater terhitung tipis untuk wilayah gunung.

Lama kelamaan, medan beraspal mulai berubah menjadi tanah. Namun masih cukup solid. Ada beberapa pos sepanjang perjalanan yang dapat digunakan sebagai tempat beristirahat. Setiap melihat pos, selalu saya sempatkan untuk istirahat, agar Nona Purna tidak pingsan dan nggelinding lagi ke bawah. Tapi dia cukup tangguh walau banyak mengeluh.

Waktu di Banyuwangi: Episode Gunung Ijen

Para buruh tambang belerang sudah nampak lalu-lalang. Kepada pengunjung yang sedang istirahat, penambang selalu menawarkan beragam kerajinan yang terbuat dari batu belerang. Ada pahatan berbentuk pohon cemara, kura-kura, burung, dan lain sebagainya. Harganya pun beragam, tergantung pada besar kecilnya ukuran kerajinan.

Ya buruh tambang, jadi guide dadakan, fotomodel dadakan, serta berjualan kerajinan. Begitulah, cara mereka mencari tambahan demi menjaga dapurnya tetap ngebul.

Intermezzo…

Sudah menjadi rahasia umum bahwa buruh tambang belerang di Ijen termasuk salah satu pekerjaan paling berbahaya dan mengkhawatirkan. Penambang harus melewati medan yang berat dan membahayakan nyawa. Mereka bolak-balik memanggul batu belerang seberat 40 – 80 kg di pundak, menerobos asap kawah, dan menghirup belerang. Masker mereka sangat sederhana, mungkin bahkan tidak layak, karena hanya berupa kain yang dibasahi air dan mereka gigit.

Upah mereka setelah menantang maut itu per-harinya sekitar Rp. 80.000 – 200.000 hasil dari dua atau tiga kali naik-turun kawah. Oleh para pengepul, satu kilogram belerang dihargai Rp. 1.000. Tanpa tunjangan apapun. Uniknya bagi para buruh tambang, penghasilan tersebut sudah paling lumayan jika dibandingkan dengan mengurus kebun atau menjadi buruh bangunan yang hanya menghasikan Rp. 30.000 – Rp. 50.000 per hari.

Sesampainya di puncak, medan sudah mulai berpasir. Angin berhembus cukup kencang hingga asap dari kawah naik dan bau belerang menyeruak. Saya langsung memakai bandana sebagai masker. Nona Purna pun disibukkan dengan syal yang terkibas-kibas angin sampai menutup permukaan wajahnya. Blio berusaha menjadikan syal sebagai masker, tapi malah nyaris terbang karena saking tipisnya syal dan angin bertiup sangat kencang. Pokoknya adegan ini waktu itu riweuh tiada dua.

Perjalanan dari pelataran parkir sampai puncak Ijen memang menanjak dan cukup melelahkan. Namun belum seberapa bila dibandingkan dengan medan berbatu yang curam dan licin menuju kawah. Jalur yang sempit, pengunjung membludak, dan lalu-lalang penambang, membuat saya harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk konsentrasi dan meniti tebing. Jangan sampai terpeleset ataupun menghalangi jalan para penambang. Ya, tentu saja, kita harus mendahulukan para penambang yang lewat. Solusinya cuma satu, sabarlah mengantri.

Ijen memang menjadi daya tarik semua kalangan. Pengunjung domestik dan mancanegara, sama-sama ingin menikmati kecantikan Ijen dan melihat langsung Blue Fire yang hanya ada dua di dunia itu; yakni di Ijen dan Islandia. Blue Fire adalah fenomena alam berupa gas panas yang keluar dari celah-celah bebatuan dan bergesekan dengan oksigen. Fenomena tersebut hanya dapat disaksikan sekitar pukul 04.00 – 05.00 saat oksigen sedang melimpah dan langit juga masih gelap.

Waktu di Banyuwangi: Episode Gunung Ijen

Pukul 04.00, saya dan Nona Purna sudah berada di tepian kawah dan menonton langsung fenomena Blue Fire yang menjadi buruan banyak fotografer. Suara jeprat-jepret dari kamera ratusan wisatawan menemani para buruh tambang yang tengah bekerja. Mereka sibuk sendiri dengan memukuli dan mengangkut batu-batu berwarna kekuningan itu, berusaha menerobos keramaian.

Jalur curam menurun menuju kawah ini berbahaya. Selain sempit, bebatuannya mudah longsor, ditambah dengan bahaya asap dan bau belerang dari kawah dapat mengudara tiba-tiba. Tak sedikit pengunjung yang terpeleset ataupun sesak nafas. Oleh sebab itu butuh fisik prima, konsentrasi ekstra, dan perlengkapan memadai. Ingat pula, dahulukan para penambang.

Waktu di Banyuwangi: Episode Gunung Ijen

Tidak berlama-lama di tepian kawah, sekitar pukul lima lebih saya dan Nona Purna sudah kembali ke puncak. Kami duduk-duduk di balik batu, bersembunyi dari hembusan angin yang dingin, dan menunggu sunrise muncul dari balik awan. Sayang, awan yang cukup tebal sedikit menghalangi pemandangan matahari terbit hari itu. Hanya menyisakan semburat merah tipis-tipis. Lalu muncul dari balik kegelapan, wajah-wajah dari Gunung Meranti dan Gunung Raung.

Perjalanan menuju dan dari Gunung Ijen tidak hanya tentang mengagumi dan mensyukuri anugerah Sang Maha Pencipta. Banyak potret tersuguhkan; para pejalan beruntung yang dapat mengunjungi beragam tempat dan mereka yang berjuang di bibir maut demi perut. Hidup akan selalu terbagi dua sisi, dimana kedua sisi tersebut sebetulnya bertugas untuk saling menopang.

Iklan