You know how everyone’s always saying seize the moment? I don’t know, I’m kinda thinking it’s the other way around. You know, like the moment seizes us. [Nicole – Boyhood]

Boyhood bukan film baru. Rilisnya sudah tiga tahun lalu, tepatnya pertengahan 2014 dulu. Entah kenapa saya baru menontonnya sekarang. Mungkin karena saya bukan seorang movie go-ers? yang begitu ada film baru langsung nonton. Bahkan nyatanya saya jarang nonton film. Tetapi kalau sedang ingin nonton, bisa maraton dua sampai tiga film sehari. Terutama kalau di rumah. Kalau di bioskop, ya tentu mempertimbangkan isi dompet.

Hhhh… andai saja harga tiket bioskop masih Rp. 10.000-an (nomat Senin-Selasa) seperti zaman baheula tapi dengan fasilitas kekinian.

DZZZIIIIIG!!!

Ehm.

Pada intinya, Boyhood menceritakan kisah hidup seorang anak laki-laki bernama Mason Jr. mulai dia berumur 6 tahun sampai dengan 18 tahun. Ya, kisahnya memang tentang tumbuh kembang seorang anak laki dibesarkan oleh single mom a.k.a mama muda yang kawin-cerai, punya kakak perempuan, namanya Samantha, dan ayah biologis yang keren selalu ngajak piknik tiap akhir minggu.

Pada awal cerita, orang tua Mason Jr. dan Samantha, memang sudah bercerai. Keduanya menikah muda, tapi tidak dapat bertahan karena ketidaksiapan mereka membina keluarga dan membersarkan anak-anak. Mason Jr. menyaksikan bagaimana sang ibu berjuang sendiri untuk membesarkan anak-anaknya, bekerja, kuliah, menikah lagi, cerai lagi, dst.

Dia juga menyaksikan ayahnya yang menyukai kehidupan bebas, tanpa pekerjaan pasti, namun tetap berusaha menjadi ayah yang baik. Ayah, Mason Sr., selalu ada bagi anak-anaknya, meski hanya di akhir minggu. Dia selalu terbuka untuk segala bentuk komunikasi. Mereka membicarakan banyak hal, tentang yang ajaib-ajaib, seks, agama, dan kehidupan pada umumnya.

Hubungan antara Mason Sr. dan anak-anaknya adalah gambaran yang paling saya suka. Terutama karena setiap kali Mason Sr. ingin memberi wejangan pada anak-anaknya, alih-alih menceramahi atau menasehati, dia melakukannya dengan cara diskusi.

Anak-anak pun secara tak langsung terdidik untuk terbuka pada orang tuanya. Percakapan yang paling saya suka adalah ketika Mason Sr. menceritakan tentang keajaiban yang nyata pada Mason Jr. Bukan sulap, bukan sihir, bukan peri-perian, tapi tak lain dan tak bukan adalah soal ikan paus. Clever!

Boyhood memang menetapkan Mason Jr. sebagai pusat dari film ini. Tetapi melalui perkembangan tokoh Mason Jr. justru penonton dapat melihat lebih luas. Bahkan bisa juga jadi parenting goal.

Film ini tidak hanya melulu soal perkembangan Mason dari TK jadi anak SD. Lanjut duduk di bangku SMP, terus mulai kenal rokok, alkohol, ganja, seks, sampai ia bisa fokus dengan minatnya pada fotografi saat SMA. Kemudian mencari jati diri untuk jadi seorang dewasa yang ideal, dan akhirnya memasuki fase jadi mahasiswa. Pada saat itulah ia mulai meninggalkan rumah serta keluarga.

Nampak pula perkembangan lingkungan sekitarnya. Bagaimana ibu dan ayah mendampingi anak-anak dalam berproses, melewati fase demi fase dalam kehidupan mereka, sambil juga berkutat dengan permasalahan sebagai orang dewasa.

Kemudian hadir gambaran perasaan seorang ibu dan ayah ketika melihat anak-anaknya tumbuh dan dewasa. Setelah mereka, katakanlah menerobos, jungkir balik, dalam kehidupannya. Waktu terasa berlalu begitu saja. Licin seperti sutra yang meluncur di sela-sela jari. Persis yang dikatakan ibu kepada Mason Jr. terakhir kali dalam film.

This is the worst day of my life. I knew this day was coming. I just… I didn’t know you were going to be so fucking happy to be leaving. You know what I’m realizing? My life is just going to go. Like that. This series of milestones. Getting married. Having kids. Getting divorced. The time we thought you were dyslexic. When I taught you how to ride a bike. Getting divorced… again. Getting my masters degree. Finally getting the job I wanted. Sending Samantha off to college. Sending you off to college. You know what’s next? It’s my fucking funeral! Just go, and leave my picture! I just thought there would be more.

Apabila disejajarkan dengan ukuran keluarga Indonesia pada umumnya, peristiwa tersebut baru terjadi setelah anak-anak naik pelaminan. Berbeda dengan kultur Barat, di mana orang tua melepas sepenuhnya anak-anak ketika memasuki usia 18 tahun. Anak-anak akan mulai membangun hidupnya secara mandiri, kasar kata meninggalkan orang tua mereka dan mengambil kontrol penuh atas hidupnya. Segala pertimbangan, keputusan, resiko, akan dilakukan dan ditanggung sendiri.

Selain itu, Boyhood juga memerlihatkan perubahan Samantha, dari seorang anak gadis yang lucu, menjadi centil dan cantik, serta perubahan emosinya yang menjadi lebih sensitif. Mason Sr., yang dulunya menyukai kehidupan bebas akhirnya kembali membangun keluarga dan menjadi lebih dewasa serta bertanggung jawab.

Cerita yang apik dan menyentuh dari Boyhood adalah sebuah proses kerja keras selama 12 tahun. Ya, pembuatan film ini memakan waktu 12 tahun, sehingga tidak hanya menyuguhkan sisi sinematiknya saja tapi juga bersifat semi nyata. Selama 12 tahun, sang sutradara, Richard Linklater, merekam pertumbuhan Ellar Coltrane yang memerankan Mason Jr.

Selama 12 tahun Linklater tak pernah mengganti cast utamanya. Ethan Hawke yang berperan sebagai Mason Sr. dan Patricia Arquette yang memerankan Olivia Evans, ibu Mason Jr., menua secara alami di film ini. Tak heran jika perkembangan frame ke frame memang terasa nyata.

Semua tepat pada porsinya. Tidak ada peristiwa yang terlampau didramatisir. Kenakalan yang pas pada tempatnya, konflik yang cukup dan tidak genjrang-genjreng apalagi zoom-in / zoom-out.

Setelah menonton film Boyhood, saya jadi bercermin kembali terhadap proses perkembangan diri. Saya melihat ke belakang apa yang sudah dilewati dan di mana posisi saat ini, lalu bagaimana kedepannya. Sejauh mana saya merekam proses tumbuh kembang dan sebanyak apa makna yang berhasil saya tangkap dari setiap momen.

Saya menyukai tipe-tipe film seperti Boyhood. Film yang tidak berjarak dengan penonton. Tontonan sederhana, menyuguhkan detail-detail kecil yang kerap luput, serta makna-makna yang tak habis direnungi.

Iklan