I know how it feels to have people judge you. And it sucks. And it helps to have a friend who doesn’t judge you.” – Hannah Baker –

Mungkin satu bulan yang lalu, entahlah, Nyonya Homboe menghubungi saya melalui aplikasi chat. Blio mengatakan ada satu serial televisi yang wajib saya tonton. Storyline-nya menarik dan tentu saja tidak happy ending. Kami berdua kebetulan tidak begitu cocok dengan akhir cerita yang berbahagia.

Adalah “13 Reasons Why” sebuah serial televisi keluaran Netflix yang membuat Nyonya Holmboe sakit, setelah semalaman terjaga dan menangis. Serial ini diangkat dari buku best seller karya Jay Asher. Pada akhirnya saya nonton juga, setelah sebulan serial tv itu mengendap di eksternal hard drive. Kemarin saya menyelesaikan ke-13 episodenya. Katanya sih, akan ada kelanjutan season 2. We’ll see.

Poros dari cerita “13 Reasons Why” adalah Hannah Baker, seorang siswi SMA yang menjadi korban bullying di sekolah. Biasanya, korban bullying berputar pada tokoh stereotip, seperti kutu buku, berkulit gelap, beda etnis dan agama, unfashionable, atau kelewat urakan. Hannah Baker memang bukan siswi populer, tapi dia cantik dan bergaya casual, tidak kuno atau berlebihan. Artinya, bullying bisa terjadi pada siapa saja.

Setelah menerima banyak perlakukan tidak mengenakkan dari lingkungan sekolah, sampai pada taraf Hannah merasa lelah, depresi, dan akhirnya dia bunuh diri. Sebelum meninggal, Hannah merekam 13 alasan secara lisan melalui kaset. Ya, kaset pita, tahu kan?

Dia menyebutkan alasan serta siapa saja orang yang membuat dia ingin bunuh diri. Kemudian kaset-kaset rekaman itu didistribusikan, secara berantai, pada 13 orang yang disebutkan dalam rekaman. Rekaman kaset yang berisi banyak rahasia itu, kemudian merubah kehidupan 13 orang tersebut.

Ceritanya dimulai dari tokoh Clay Jensen, yang mendengarkan rekaman kaset. Dari sudut pandang Clay yang mendengarkan cerita Hannah, penonton dapat melihat kisah dan alasan kenapa Hannah mengakhiri hidupnya.

Selaku executive producer, Selena Gomez, ingin menaikan awareness tentang bullying di sekolah dan seberapa parah kemungkinan akibat, yang bisa terjadi. Alih-alih cerita misteri yang memacu adrenalin, saya merasakan jalan cerita “13 Reasons Why” lebih menyentuh hati (baca: sedih). Serial ini lebih mendekati realitas, membuat saya sebagai penonton tidak berjarak, dan menyadari bahwa cerita semacam itu memang kerap terjadi di dunia remaja. Terutama kehidupan remaja dunia barat dan tidak menutup kemungkinan bisa terjadi di lingkungan kita.

Namun di luar pesan mulia yang ingin disampaikan, “13 Reasons Why” nyatanya memicu protes dari pihak orang tua dan sekolah-sekolah. Alasannya adalah karena film ini memuat heavy content dan adegan-adegan yang bisa ditiru atau menjadi pemicu bunuh diri pada remaja.  Ya, saya juga tidak bisa tidak setuju dengan itu.

Tetapi bukankah kita harus melihat dari berbagai sisi? Saya pikir tidak perlu menyalahkan serial ini sepenuhnya, apalagi jika sampai berbuntut pembatalan season 2.

Pada bulan April lalu diberitakan bahwa ada dua remaja, yang tidak saling berkaitan, memutuskan untuk gantung diri, beberapa hari setelah selesai menonton serial “13 Reasons Why”. Mereka adalah Bella Herndon dan Priscilla Chiu. Disebutkan bahwa keduanya juga merupakan korban bullying dan dalam kondisi depresi.

Saya setuju pada pernyataan beberapa mental health advocates yang memberi peringatan bahwa remaja dalam kondisi benar-benar rapuh untuk tidak menonton serial ini. Ya, karena bukan tidak mungkin mereka meromantisir adegan-adegan di dalamnya. Saya rasa andil orang tua dan orang-orang yang ada di rumah harus besar dalam hal ini. Katakanlah orang-orang depresi, (mungkin) harus diawasi secara seksama.

Suicide should never ever be an option.” begitu kata Selena Gomez saat menjelaskan tujuan dari pembuatan serial ini. Meskipun tokoh utama wanitanya, Hannah Baker, memutuskan untuk menghabisi hidup sendiri, sebagai penonton saya bisa melihat bagaimana pengaruhnya terhadap orang-orang yang mencintainya. Hati saya remuk tiap melihat adegan Ibu Hannah, baik pada masa kini maupun saat adegan flash back. Truly heartbreaking, terutama saat blio menemukan anaknya bersimbah darah di bathtub.

Mati adalah kontrak kita dengan Yang Esa, pasti akan terlaksana meski entah kapan, dan kalau pun kita melanggar kontrak itu, tetap saja yang paling menyedihkan adalah yang merasa kehilangan. Jadi, saat melihat adegan itu, saya berpikir “Apa saya mau melakukan hal, yang bisa membuat hidup orang yang sayang pada saya, jadi tidak tenang?”

Tetapi dari pandangan jiwa yang rapuh, adegan tersebut terlihat romatis. Dengan mati, semua rasa sakit akan pergi, dan selanjutnya mari saksikan orang-orang menangis dan merasakan sakit seperti yang dia rasakan. Mungkin begitu sudut pandang orang-orang yang depresi berat. Ya, ini hanya spekulasi orang awam, jadi jangan terlalu ditanggap serius.

Pada kasus Bella dan Priscilla, “13 Reasons Why” mungkin jadi inspirasi keduanya untuk mengakhiri hidup. Sebetulnya adalah kondisi mental mereka memang sudah memercikkan keinginan itu. Begitu serial tersebut booming, mereka menontonnya dengan kaca mata yang berbeda dan hal tersebut luput dari perhatian lingkungan sosial maupun keluarga.

Pada kasus Hannah Baker, saya melihat tokoh ini cukup membela diri dari segala bully yang diterimanya. Dia protes pada orang-orang yang mem-bully-nya, dia mengekspresikan diri melalui surat di kelas komunikasi, dan melalui puisi. Namun baik pihak sekolah maupun teman-teman tidak cukup mengulurkan tangan padanya, hingga ia merasa kehilangan pegangan.

Rasa ketidakpedulian atau meremehkan soal bullying, menjadikan masalah ini serius. Hal-hal ini memang sensitif atau katakanlah taboo untuk dibicarakan. Who wants to admit that she/he is a loser, anyway? Apalagi remaja, di mana pada masa pertumbuhan itu, tingkat ego dan gengsi mereka sedang tinggi-tingginya.

Banyak yang malu untuk bicara atau menceritakan kisahnya pada keluarga, guru, atau layanan konseling. Ada juga yang berdiri dibalik tameng, “ya sudahlah, semua orang juga pernah di bully, ngga usah drama deh”. Itu sebetulnya ekspresi bahwa kita tidak benar-benar peduli pada kondisi seseorang. Hmm… agaknya saya pernah melakukan itu. Heu, Oh God, forgive me.

Bella Herndon dan Priscilla Chiu mungkin merasakan bahwa tidak ada orang yang cukup peduli pada mereka. Hingga keputusan Hannah Baker juga menjadi pembenaran. Sebagai bagian dari lingkungan dan keluarga, terkadang kita sudah merasa cukup dan mencoba segala hal untuk memperhatikan orang terkasih. Tapi, sebetulnya apa itu “cukup” ketika kita sering merasa hunger for more a.k.a tidak pernah puas?

Setelah menonton “13 Reasons Why”, saya merasa perlu untuk lebih sadar terhadap kondisi sosial disekitar. Untuk lebih sensitif atas segala macam bentuk bullying dan cara menyikapinya. Ya, tidak perlu menutupi bahwa saya juga pelakon bullying, tidak perduli besar atau kecilnya bully yang dilakukan. But at some point, we do really need to stop.

Saya percaya, tidak ada yang benar-benar bebas, karena kebebasan akan selalu berbatas. Kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain juga. Begitulah hidup. Mau tak mau kita harus berdampingan, respect and care for each other, jangan asal sakarepna sorangan.

Iklan